alexametrics

Memperkuat Ketahanan Pangan di Masa Pandemi

Oleh : Berta Antikasari S.Si

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI Covid-19 telah menyebabkan terganggunya kegiatan perekonomian di semua lini usaha, termasuk sektor pertanian. Salah satu dampak yang harus diantisipasi terkait dampak Covid-19 adalah ketersediaan pangan bagi seluruh rakyat. Gerakan Ketahanan Pangan (GKP) di tengah ancaman Covid-19 saat ini harus didukung oleh semua pihak, khususnya petani dan penyuluh sebagai ujung tombak dan penggerak sektor pertanian.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pada Mei 2020 terjadi penurunan Nilai Tukar Petani (NTP) sebesar 0.85 persen dimana NTP merupakan indikator untuk mengukur tingkat daya beli petani di perdesaan, juga menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Dampak besar pandemi dirasakan oleh petani kecil yang memiliki akses pasar terbatas karena petani hanya bisa menjual hasil pertaniannya dengan harga murah di pasar lokal. Tentunya hal ini berdampak pada sulitnya petani membeli bibit dan memperbaharui tanaman mereka. Total produksi beras secara nasional pada 2020 mencapai 30.421.661 ton.

Baca juga:  Pemanfaatan Bonus Demografi untuk Mencegah Kenaikan Inflasi

Sementara itu, dengan jumlah penduduk 269.600.000 jiwa, merujuk Survei Penduduk Antar Sensus 2015, dan konsumsi beras per kapita per tahun 111,58 kilogram. Total konsumsi beras nasional pada tahun ini diperkirakan 30.081.968 ton, dengan surplus 339.663 ton. Meskipun stok pangan nasional diprediksi akan mengalami surplus hingga Juni 2020, namun hal ini bukan berarti bahwa Indonesia serta merta terbebas dari ancaman krisis pangan yang bisa terjadi di masa mendatang. Ditambah lagi, masa pandemi Covid-19 yang belum pasti akan berakhir kapan memiliki dampak yang sangat terasa di bidang pertanian.

Dalam mempercepat menstabilkan pangan ada beberapa cara, yang pertama, pemerintah harus mengajak pelaku pertanian melaksanakan percepatan tanam padi Musim Tanam II 2020 seluas 6,1 juta hektare, pengembangan lahan rawa di Provinsi Kalimantan Tengah 164.598 ha, termasuk intensifikasi lahan rawa 85.456 ha dan ekstensifikasi lahan pertanian 79.142 hektare. Kedua, diversifikasi pangan lokal, mengembangkan diversifikasi pangan lokal berbasis kearifan lokal yang berfokus pada satu komoditas utama. Ketiga, penguatan cadangan dan sistem logistik pangan dengan cara penguatan Cadangan Beras Pemerintah Provinsi (CBPP), kemudian penguatan Cadangan Beras Pemerintah Kabupaten/Kota (CBPK). Keempat, pengembangan pertanian modern, caranya melalui pengembangan smart farming, pengembangan dan pemanfaatan screen house untuk meningkatkan produksi komoditas hortikultura di luar musim tanam, pengembangan korporasi petani, dan pengembangan food estate untuk peningkatan produksi pangan utama (beras/jagung).

Baca juga:  Pelaksanaan Supervisi Guru di Kota Semarang

Selain peran pemerintah, masyarakat juga harus dapat ikut andil dalam menjaga ketahanan pangan untuk menghindari adanya krisis pangan. Masyarakat memiliki peluang untuk membangun kedaulatan dan kemandirian pangan. Dalam masa pandemi seperti ini, masyarakat cenderung menjadi lebih kreatif dan bisa berkreasi untuk mengakali situasi yang ada. Termasuk halnya dalam menjaga akses terhadap pangan. Masyarakat diharapkan memiliki kesadaran untuk melakukan penanaman mandiri minimal untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Ada banyak sekali cara untuk melakukan penanaman mandiri seperti misalnya urban farming dan juga melakukan penanaman dengan metode hidroponik dengan memanfaatkan lahan-lahan yang ada di rumah. (fbs1/ida)

Fungsional Statistisi Muda BPS Kabupaten Purworejo

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya