alexametrics

Optimalkan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronis di Era Pandemi

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Pandemi  Corona Virus Disease (Covid-19) adalah topik yang masih saja hangat dibicarakan saat ini. Bagaimana tidak, Covid -19 yang melanda dunia memberikan dampak signifikan di berbagai tatanan kehidupan sehari-hari. Begitu pula dengan kehidupan pasien-pasien dengan penyakit kronis seperti Penyakit Ginjal Kronis (PGK) terutama pasien PGK stadium akhir. PGK merupakan masalah kesehatan di seluruh dunia yang berdampak pada masalah medis, ekonomi, dan sosial yang sangat besar bagi pasien dan keluarganya, terlebih di masa pandemi ini. Mengapa demikian, itu karena pasien PGK stadium akhir harus menjalani terapi pengganti ginjal seperti hemodialisis (cuci darah) yang mengharuskannya pergi ke RS secara rutin. Masa pandemi Covid -19 ini, berbagai kekhawatiran dan kecemasan muncul pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis di RS antara lain kekhawatiran terpapar virus. Rasa khawatir yang berlebihan tentu akan mempengaruhi sistem imun mereka.

Perubahan aspek psikologis yang kurang baik pada pasien PGK dan terjadinya infeksi Covid-19 tentu akan mempengaruhi kualitas hidup mereka. Bukan hanya akibat pandemi, pasien PGK juga mengalami permasalah fisik, psikososial dan spiritual akibat penyakitnya. Permasalah fisik pada pasien pasien PGK seperti keluhan sesak napas, lemas, keterbatasan aktifitas, ketergantungan fisik dan ketergantungan pada mesin dialisis. Permaasalahan psikologis seperti cemas dan depresi. Sementara permasalah sosial yang biasa dialami pasien PGK adalah adanya perubahan peran dan gaya hidup serta ekonomi.  Timbulnya berbagai permasalan tersebut dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien. Banyak riset menyebutkan bahwa masih banyak pasien PGK yang kualitas hidupnya kurang baik. Berbagai referensi menyebutkan rendahnya skor kualitas hidup menjadi prediktor kematian pasien PGK dengan hemodialisis. Menjaga agar pasien PGK selalu sehat dengan kualitas hidup yang optimal tentu perlu diperhatikan.

Baca juga:  Butuh Kepemimpinan Agility dan Inovasi Sosial Digital saat Pandemi Covid-19

Kualitas hidup merupakan keadaan dimana seseorang mendapat kepuasaan dan kenikmatan dalam kehidupan sehari-hari. Kualitas hidup tersebut menyangkut kesehatan fisik dan kesehatan mental yang berarti jika seseorang sehat secara fisik dan mental maka orang tersebut akan mencapai suatu kepuasan dalam hidupnya.  Badan Kesehatan Dunia (WHO) merumuskan empat dimensi kualitas hidup meliputi dimensi fisik, dimensi psikologis, dimensi sosial, dan dimensi lingkungan. Keempat dimensi kualitas hidup perlu dioptimalkan pada pasien PGK di masa pandemi ini.  Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien PGK meliputi karakteristik demografi, kondisi penyakit, penatalaksanaan medis yang dijalani, psikologis pasien (koping individu, penerimaan terhadap penyakit), keyakinan, nilai, sistem kepercayaan, pengetahuan, kepatuhan menjalani terapi dan dukungan sosial. Faktor-faktor ini tentu perlu diperhatikan agar kualitas hidup pasien PGK tetap optimal.

Bagaimana mengoptimalkan kualitas hidup pasien PGK di masa pandemi Covid-19?

Dimasa pandemi ini, permasalahan yang perlu diantisipasi pasien PGK agar kualitas hidup tetap optimal tak hanya masalah penurunan fisik  namun juga antisipasi dan manajemen masalah psikososial dan spiritual. Aspek fisik, psikologis, sosial dan spiritual pasien PGK perlu di kuatkan. Agar kualitas hidup pasien PGK di masa pandemi Covid-19 tetap optimal, berbagai upaya dan strategi perlu dilakukan.

Baca juga:  Humas Saatnya Berpikir Visual dan Multiplatform

Pertama dengan mengoptimalkan status kesehatan dan mencegah komplikasi. Upaya dapat dilakukan dengan meningkatkan kepatuhan dalam manajemen diit dan pembatasan asupan cairan. Di masa pandemi ini pasien PGK juga harus hati hati dan disiplin dalam pencegahan infeksi, tetap tinggal di rumah, menghindari kontak fisik, menggunakan masker dan tetap melanjutkan pengobatan rutin.

Upaya kedua untuk mengoptimalkan kualitas hidup pasien PGK adalah penguatan aspek psikologis. Upaya dapat dilakukan melalui peningkatan kemampuan koping pasien.  Strategi koping dan penguatan diri yang adekuat akan meningkatkan penyesuaian diri dan adaptasi yang baik. Riset menunjukkan semakin adaptif koping seseorang, maka kualitas hidupnya juga akan semakin baik. Perawat dan dokter dapat mengajarkan berbagai strategi koping pada pasien dan keluarganya. Konseling psikologis juga perlu di lakukan pada pasien mengalami permasalahan psikologis yang berat seperti depresi.

Strategi ketiga adalah penguatan aspek sosial. Penguatan sosial dilakukan dengan memaksimalkan dukungan sosial terutama dukungan keluarga dan tenaga kesehatan.  Dukungan keluarga dan faktor psikososial lainnyayang  kurang baik dikaitkan dengan risiko yang lebih tinggi ketidakpatuhan dengan pengobatan medis pasien PGK.  Masa pandemi ini dukungan sosial dari orang terdekat sangat diperlukan antara lain dukungan dalam informasi, dukungan instrumental melalui penyediaan berbagai kebutuhan pasien, juga dukungan emosi. Dukungan sosial diperlukan agar hidup pasien hemodialisis menjadi lebih bermakna, sehingga menjadi lebih bersemangat dalam hidup. Adanya dukungan sosial dari orang lain akan menumbuhkan harapan untuk hidup lebih lama, sekaligus dapat mengurangi kecemasan individu. Dukungan sosial juga diperlukan dalam manajemen perawatan kesehatan. Perawatan kesehatan yang adekuat akan memberikan kontribusi terhadap masalah psikologis dan kualitas hidup pasien PGK.

Baca juga:  Amankan 769.595 Kapsul Obat Tanpa Izin Edar

Strategi keempat yang dapat dipilih untuk meningkatkan kualitas hidup pasien PGK adalah dengan pendekatan dan penguatan spiritual. Strategi koping religius dapat dipilih dengan melibatkan aspek spiritual pasien. Strategi koping religius akan meningkatkan penyesuaian diri pasien hemodialisis. Strategi ini dilakukan dengan meningkatkan ibadah dan menguatkan spiritual. Tenaga kesehatan dan keluarga dapat membantu memfasilitasi pasien untuk berdoa dan berserah diri pada Tuhan YME. Penelitian yang dilakukan penulis tahun 2016 menunjukkan bahwa 82,05% pasien memilih strategi spiritual menjadi koping adaptif dalam mengatasi permasalahannya. Pendekatan spiritual dengan berdoa dan ibadah juga terbukti membantu meningkatkan ketenangan, penerimaan diri dan menjaga tekanan darah pasien tetap terkendali.  Riset lain menyimpulkan bahwa sumber spiritual dapat berkontribusi pada dan status kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik pada pasien hemodialisis. Keterlibatan praktek keagamaan dan penggunaan koping religius berkorelasi dengan kualitas hidup pasien PGK.

Kualitas hidup pasien PGK perlu lebih di optimalkan lagi di masa pandemi ini. Kualitas hidup yang baik pada pasien PGK berkontribusi terhadap umur yang lebih lama dan respon terhadap pengobatan/perawatan yang lebih baik. Tunggu apa lagi? Mari kita bantu pasien-pasien PGK untuk tetap kuat, sabar, ikhlas dan memiliki mekanisme pertahanan diri yang positif agar kualitas hidup mereka semakin baik. (*/bas)

Dosen Keperawatan Universitas Muhamadiyah Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya