alexametrics

Pandemi Covid-19 sebagai Alat Uji Mutu Pendidikan Berbasis 4.0

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI covid-19 menjadi tantangan besar untuk Indonesia. Dengan penyebarannya yang sangat cepat serta tidak adanya indikator pasti gejala bagi penderita, membuat virus yang familiar disebut dengan “corona” ini menjadi sesuatu yang sangat menyeramkan. Pemerintah telah berupaya menerapkan beberapa kebijakan untuk memutus mata rantai virus dan memberhentikan penyebarannya, diantaranya dengan memberlakukan kebijakan physical distancing yang diiringi dengan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di berbagai daerah. Sebagai efek dari kebijakan ini, banyak perusahaan maupun lembaga pendidikan termasuk universitas memberlakukan karyawannya untuk WFH (Work From Home) dan para siswa untuk berlajar di rumah yang sudah dimulai sejak akhir Maret lalu. Pandemi covid-19 telah membuat sistem pembelajaran berubah secara drastis dari pembelajaran secara tatap muka menjadi pembelajaran secara daring dari rumah. Situasi seperti ini tentu menambah daftar permasalahan pendidikan di Indonesia yang bahkan belum stabil, baik permasalahan internal itu sendiri maupun eksternal dalam mengikuti perkembangan pendidikan global.

Di awal abad ini, dunia pendidikan mulai berbenah diri untuk meningkatkan kualitasnya melalui reformasi digital 4.0. Meskipun sudah banyak pelatihan dan seminar-seminar yang membahas pendidikan berbasis 4.0, namun dalam implementasinya tidak ada perubahan yang signifikan. Guru-guru atau bahkan dosen, terutama yang sudah sepuh masih banyak yang kesulitan dalam mengoperasikan fitur-fitur teknologi untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Mereka masih nyaman dengan cara lama (manual) yang minim akan penggunaan teknologi yang ujung – ujungnya akan berimbas pada tidak adanya progres yang berarti dalam proses belajar. Padahal pendidikan berbasis digital 4.0, memerlukan tenaga pendidik (guru dan dosen) yang terus menerus mengupdate dirinya, baik terupdate akan kondisi perkembangan ekonomi digital, perkembangan revolusi 4.0, maupun perkembangan teknologi itu sendiri. Sehingga pola pengajaran berbasis digital 4.0 yang berupa STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) dapat berjalan secara optimal.

Baca juga:  Jalani Isolasi Mandiri, Usir Bosan dengan Nonton Drama

Ketika wabah covid-19 ini terjadi, kita baru merasakan dampak pentingnya penerapan teknologi dalam dunia pendidikan. Ditengah kebijakan physical distancing dan PSBB yang mengharuskan belajar di rumah, kita membutuhkan sarana pengajaran jarak jauh dan memanfaatkan teknologi yang ada. Hal ini secara tidak langsung mendorong para pendidik baik guru maupun dosen, mau tidak mau harus melek teknologi untuk tetap mentransfer ilmunya kepada anak didik melalui kegiatan belajar mengajar secara daring. Selain itu, pembelajaran online di masa pandemi ini membuat pendidik tidak hanya harus mampu berperan sebagai motivator, inovator dan evaluator, tetapi juga menjadi eksekutor yang tidak hanya memberikan materi dan tugas saja melainkan membersamai anak didik dengan diskusi yang seimbang. Tidak hanya pendidik, peserta didikpun juga dituntut untuk lebih dapat memahami penggunaan teknologi yang tidak hanya terbatas untuk sosial media saja, tetapi juga semua aspek yang dapat menunjang lancarnya kegiatan belajar mengajar.

Pembelajaran online tanpa kita sadari, telah meminimalkan kegiatan belajar mengajar secara tatap muka. Sebagai gantinya, kegiatan belajar seperti ini menuntut pendidik dan murid untuk lebih banyak dalam literasi. Situasi seperti ini diharapkan dapat membentuk normalitas baru dalam kegiatan belajar mengajar. Adanya wabah di era sekarang ini, menumbuhkan potensi kita agar dapat belajar dari manapun. Tidak ada lagi alasan kelas kosong atau murid tidak belajar disebabkan ketidak hadiran guru didalam kelas. Selain itu, kita juga tidak perlu khawatir dengan kendala pada kegiatan yang seharusnya face to face seperti meeting, KBM, hingga sidang ujian universitas, karena sekarang kita telah mampu berinovasi dengan menggunakan sistem yang serba online.

Baca juga:  Deportasi WNA Terhambat Pandemi Covid-19

Namun, setelah hampir 3 bulan pembelajaran berbasis 4.0 (online) berlangsung, telah membuat sebagian besar masyarakat sadar akan satu hal yang penting, yaitu teknologi apapun, baik pertemuan daring, chat grup media sosial atau lainnya tidak bisa menggantikan sosok fisik dan peran seorang guru. Dahulu, murid seringkali bertanya kapan libur karena mereka mungkin jenuh dengan mengikuti pembelajaran dari pagi hingga sore, maka bisa jadi yang terjadi saat ini mereka merindukan berangkat ke sekolah dalam artian secara nyata bukan melalui teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa seorang guru atau dosen mempunyai peran vital yang tak tergantikan oleh teknologi. Pada dasarnya, teknologi itu diciptakan untuk membantu, melengkapi dan mempermudah kegiatan manusia dalam melaksanakan tugasnya, bukan menggantikannya.

Baca juga:  Wabah Korona Lemahkan Ekspor Impor Jawa Tengah

Dengan memakai sudut pandang positif, dengan adanya wabah covid-19 ini, telah menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan berbasis 4.0 yang dulu sering kita koar – koarkan dimana – mana, masih kurang dalam pemahaman dan implementasinya. Dengan kata lain, mutu pendidikan berbasis 4.0 masih kurang optimal dilihat dari proses pendidikan dimasa pandemi ini. Salah satu kekurangan terbesar yang telah dan sedang dirasakan oleh siswa adalah ketidak berartian teknologi tanpa adanya seorang guru. Sebagai siswa yang hidup di zaman milenial, siswa dapat belajar dari berbagai sumber, entah dari kursus online, Youtube ataupun media yang lain. Tapi tanpa guru yang sebenarnya, siswa akan cepat mudah bosan dalam belajar dan sikap siswa jadi cenderung “sakpenake dewe”. Berdasarkan hal inilah kita jadi sadar akan peran penting seorang guru dalam dunia pendidikan.

Peran dari seorang guru bukan hanya pengajar dan menyampaikan materi saja kepada murid atau menghidupkan suasana kelas, namun juga sebagai pendidik yaitu mengajarkan juga tentang pendidikan karakter pada siswa tersebut. Hal terakhir inilah yang tidak dapat digantikan oleh teknologi canggih manapun. Oleh karena itu, dapat kita simpulkan, untuk meningkatkan mutu pendidikan berbasis 4.0, hendaknya guru harus bisa bersinergi dengan teknologi demi mewujudkan pendidikan yang optimal agar mampu menghadapi segala macam situasi tak terduga yang dapat menjadi hambatan pendidikan. (*/bas)

Mahasiswa S2 Manajaemen Pendidikan UNNES

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya