alexametrics

Postif Negatif Coronanomic

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEAKAN sudah menjadi harga mati bahwa sektor perekonomian secara umum akan terkoyak oleh wabah covid-19. Perekonomian akan mengalami perlambatan akibat turunnya permintaan atau demand karena pendapatan masyarakat menurun. Di satu sisi, produksi atau supply tertekan karena aktivitas dibatasi. Bahkan Menteri Keuangan Sri Mulyani telah mengoreksi pertumbuhan ekonomi nasional dari 5,3 persen menjadi 2,3 persen jika skenario berat terjadi, namun bisa juga negatif 0,4 persen bilamana yang terjadi adalah skenario yang lebih berat. World Bank sendiri memproyeksikan Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia berkontraksi menjadi 2,1 persen saja. Coronanomic, sebuah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana pandemi Covid-19 begitu memukul sektor perekonomian.

Namun seperti ungkapan selalu ada kemudahan dalam kesukaran, demikian juga berlaku di tengah merebaknya wabah Covid-19. Ada sektor ekonomi yang tertatih-tatih adapula sektor yang semakin berjaya. Di antara sektor mampu berjaya di tengah pandemi adalah industri suplemen makanan dan alat kesehatan. Industri tersebut dalam postur Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masuk dalam kategori industri pengolahan. Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng mencatat, kinerja industri pengolahan secara umum, cukup apik memainkan perannya secara dominan dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Jateng sebesar 5,41 persen di tahun 2019. Dari total PDRB Jateng, yang mencapai Rp 1.362.457,38 miliar, sebesar 34,42 persen berada dalam lingkaran sektor Industri Pengolahan.

Baca juga:  Soft Skill Kehumasan di Era Tanpa Batas

Secara umum memang sektor indutri pengolahan akan terpukul, sebagaimana dirasakan industri otomotif. Namun di tengah pandemi, industri kimia, farmasi dan obat tradisional masih tetap digdaya untuk bertahan. Meningkatnya permintaan produk pembersih dan alat kesehatan seperti handsanitizer, dan masker menjadi keuntungan bagi mereka yang berkiprah dalam alur rantai bisnis tersebut, entah itu sebagai produsen bahkan pedagang sekalipun. Lonjakan permintaan masker bahkan tidak main-main, hingga dua sampai sampai tiga kali lipat dibandingkan ketika kondisi normal. Kenaikan permintan masker turut didongkrak setelah muncul imbauan dari kepala-kepala daerah kepada warga masyarakat untuk mengenakan masker ketika bepergian.
Melansir indopremier.com, Presiden Direktur Kalbe Farma, Vidjontius menyatakan permintaan terhadap produk Bejo Jahe Merah meningkat antara 10-15 persen dibandingkan kondisi normal. Bahkan Kalbe Farma sudah menyiapkan 500 ton jahe merah dari komunitas petani jahe merah yang selama ini dikelola perusahaan. Dengan demikian, sektor perkebunan di mana komoditas tanaman jahe masuk di dalamnya, akan mendapatkan imbas positif. Di pasaran, harga jahe merah terdongkrak naik, seiring tingginya permintaan.

Baca juga:  Pembimbingan Klien Pemasyarakatan Bapas Dimasa New Normal

Sektor perdagangan juga dapat dikatakan sedikit mendapatkan ruang di tengah pandemi. Dengan peranan sebesar 13,74 persen dalam struktur PDRB Jateng tahun 2019, sektor ini bisa dikatakan masih tertolong. Dengan diberlakukannya WFH, di satu sisi, perdagangan secara konvensional memang sedikit meredup namun aktivitas konsumsi masih dapat dilakukan melalui marketplace. Slogan di rumah saja seakan mendukung ke arah sana. Di zaman yang serba digital seperti sekarang ini membeli barang yang tidak tersedia di sekitar kita, sudah bukan persoalan lagi. Barang-barang yang sudah habis terjual di apotik sekitar kita misalnya, bisa beli di tempat yang lebih dekat dengan produsen, seperti Jakarta maupun Surabaya.

Baca juga:  Belajar Tren Fashion dengan Game Jojo’s Fashion Show: World Tour

Pemakaian internet dengan intensitas yang tinggi selama WFH juga berimbas pada sektor Informasi dan Komunikasi. Selama tahun 2019, sektor ini punya andil sebesar 3,64 persen dalam struktur PDRB Jateng. Absensi melalui aplikasi kaizala, belajar secara online dan pemakaian aplikasi untuk meeting online, mendorong sebagian masyarakat untuk membelanjakan paket data lebih banyak daripada ketika kondisi normal. Imbauan untuk tidak mudik tahun ini dipastikan turut mendongkrak permintaan di sektor informasi dan komunikasi. Silaturahmi online dipastikan akan menyedot kuota internet yang cukup besar.

Persoalan ekonomi tidak akan selesai sebelum masalah Covid-19 teratasi. Oleh karena itu yang bisa dilakukan adalah berdoa dan berusaha tetap berada di rumah agar rantai penyebaran virus korona tidak semakin meluas. Terapkan pola hidup bersih sebagaimana yang sering dikampanyekan oleh pemerintah. Stop penyebaran hoax yang justru akan membuat masyarakat gelisah. (dar1/ida)

Statistisi Muda BPS Purbalingga

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya