alexametrics

Wabah Korona Lemahkan Ekspor Impor Jawa Tengah

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Virus korona menjadi topik terhangat di awal tahun 2020. Virus yang berasal dari Tiongkok ini sudah mewabah ke hampir seluruh negara di dunia, dan telah ditetapkan sebagai pandemi global oleh WHO. Wabah virus korona secara tidak langsung mempengaruhi berbagai aspek, salah satunya adalah kinerja ekspor dan impor tanah air termasuk Jawa Tengah. Jawa Tengah seyogyanya menjadi salah satu provinsi andalan untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Indonesia, namun pada kenyataannya ekspor dan impor Jateng tak kuasa melawan hantu korona ini.

Tidak hanya menyerang tubuh manusia, korona juga turut menyerang seluruh sendi-sendi perekonomian, tak terkecuali kegiatan perdagangan antar negara atau kegiatan ekspor impor. Indonesia sendiri sudah menghentikan sementara impor dari Tiongkok sejak bulan Februari 2020 untuk mencegah penyebaran virus ini, khususnya impor untuk binatang hidup. Arus barang masuk dari Tiongkok melalui udara seperti barang impor e-commerce juga terhenti seiring dengan ditutupnya penerbangan langsung dari Tiongkok ke Indonesia, begitu pula sebaliknya barang dari Indonesia pun tidak bisa masuk ke Tiongkok dikarenakan adanya kebijakan lockdown di negeri tirai bambo tersebut. Tak ayal hal ini membuat ekspor dan impor Indonesia-Tiongkok melemah.

Baca juga:  Study Komparatif: Indonesia Bercermin dari Pendidikan di Finlandia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah nilai ekspor Jateng Februari 2020 sebesar 723,15 juta dolar atau turun 4,80 persen dibanding ekspor Januari 2020. Ekspor nonmigas Februari 2020 sebesar 698,65 juta dolar atau turun 2,75 persen dibanding Januari 2020. Di mana ekspor ke Tiongkok sebesar 100,68 juta dolar dengan share sebesar 7,10 persen selama periode Januari-Februari 2020.

Nilai impor Februari 2020 sebesr 946,29 juta dolar atau turun 11,90 persen dibanding Januari 2020. Impor nonmigas Februari 2020 mencapai 589,01 juta dolar atau turun 20,28 persen dibanding Januari 2020. Di mana impor yang berasal dari Tiongkok sebesar 508,47 juta dolar dengan share sebesar 38, 29 persen selama periode Januari-Februari 2020.

Baca juga:  Daya Beli Melemah, Ekonomi Turun

Neraca perdagangan Jateng Februari 2020 mengalami defisit 223,13 juta dolar. Hal ini disebabkan oleh neraca perdagangan migas yang mengalami defisit sebesar 332,78 juta dolar. Sedangkan neraca perdagangan nonmigas Februari 2020 mengalami surplus 109,65 juta dolar, walaupun terjadi surplus namun surplus yang terjadi bukanlah dikarenakan oleh nilai ekspor nonmigas yang meningkat, melainkan disebabkan oleh penurunan nilai impor yang jauh lebih dalam dibandingkan dengan penurunan nilai ekspornya.

Pemerintah harus segera mencari jurus jitu untuk menghadapi pelemahan ekspor dan impor ini. Beberapa cara yang bisa ditempuh dengan menyederhanakan aturan-aturan ekspor, menurunkan bea masuk impor untuk bahan baku dan barang modal, memetakan kembali negara-negara tujuan ekspor dan impor sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap Tiongkok, dan yang terakhir dengan mendorong industri-industri di dalam negeri agar dapat bersaing dengan produk luar dengan menciptakan iklim usaha yang kondusif, di tengah wabah virus korona yang telah melemahkan hampir seluruh sendi-sendi perekonomian dunia. (gml1/ton)

Baca juga:  Era Baru Mega Merger Bank Syariah

Statistisi Pertama BPS Provinsi Jawa Tengah

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya