alexametrics

Corona Mengganas, Pariwisata (jangan) Lemas

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, VIRUS corona menjadi topik terhangat di awal tahun 2020. Virus ini mendadak menjadi viral dan seolah menjadi mimpi buruk yang mengerikan bagi masyarakat dunia. Hal yang paling mengkhawatirkan adalah virus ini terus mencari mangsa, sementara antivirusnya hingga saat ini belum ditemukan. Virus corona jenis baru ini memiliki nama resmi dari WHO sebagai COVID-19 (Corona Virus Disease 2019) ditemukan pertama kali di Wuhan, Tiongkok.

Awal Februari 2020 pemerintah Indonesia telah menutup visa kunjungan untuk wisatawan yang berasal dari Tiongkok. Negara-negara lain seperti Malaysia, Singapura dan Rusia pun telah melakukan hal yang sama, bahkan lebih dulu dibandingkan Indonesia. Kebijakan ini diambil bukannya tanpa alasan, menyebarnya virus Corona secara masif adalah alasan utamanya. Virus ini sudah menyebar ke 86 negara, menginfeksi lebih dari 100.000 orang, mengakibatkan kematian lebih dari 3.000 orang diseluruh dunia dan berpotensi menjadi pendemi global.

Baca juga:  JNE Cegah Virus Korona Demi Pelanggan

Kebijakan pemerintah terkait virus ini memberikan hantaman yang cukup keras untuk pariwisata Indonesia, tak terkecuali Jawa Tengah. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah kunjungan wisatawan asal negeri Tirai Bambu ke Jawa Tengah menduduki urutan kedua setelah Malaysia, dengan jumlah kunjungan sebanyak 3.371 selama periode Januari-Desember 2019 atau sebesar 12,47 persen dari total kunjungan di tahun 2019. Pada Januari 2020 jumlah kunjungan wisman asal Tiongkok masih sebanyak 405 kunjungan melalui pintu masuk Bandara Adi Sumarmo (Surakarta) dan Bandara Ahmad Yani (Semarang). Namun, penurunan di bulan Januari ini bukan disebabkan oleh dampak dari meyebarnya virus Corona melainkan karena pengaruh seasonal dimana musim liburan sudah berakhir. Sedangkan dampak dari Corona sendiri baru akan terlihat di bulan April dimana data jumlah wisman pada bulan Februari akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik.

Baca juga:  Penegakan Hukum bagi Pelanggar Prokes dengan Pendekatan Hukum Progresif

Pemerintah dan para stakeholder terkait, harus segera mengambil langkah jitu untuk keluar dari bayang-bayang hantu virus corona ini, khususnya untuk sektor pariwisata, karena sektor ini adalah salah satu penyumbang pendapatan daerah dan dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang cukup banyak. Menurut data Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah, penyedia akomodasi & makan minum menunjukkan tren yang positif selama 2017-2019 terhadap struktur PDRB Jawa Tengah yaitu sebesar 3,09 persen, 3,11 persen dan 3,21 persen, dengan laju pertumbuhan di tahun 2019 sebesar 9,14 persen, berada diurutan ketiga setelah infokom dan jasa perusahaan.

Langkah-langkah yang dapat diambil adalah dengan memastikan bahwa destinasi pariwisata di Jawa Tengah terbebas dari virus corona, memberikan himbauan kepada masyarakat agar tidak panik dan khawatir secara berlebihan serta selalu menjaga kebersihan, melakukan berbagai promosi pariwisata seperti pemberian diskon tarif hotel dan objek wisata untuk menggenjot wisatawan domestik untuk menggantikan wisman, selain itu memberikan keringanan biaya operasional usaha seperti keringanan bunga kredit dan pemotongan pajak penghasilan industri pariwisata.

Baca juga:  Layanan Emas bagi Generasi Emas (Percepatan PAUD Holistik Integratif)

Masyarakat seyogyanya tidak perlu terlalu cemas. Kecemasan dan kekhawatiran yang berlebihan justru akan merugikan banyak orang dan mengganggu kestabilan perkonomian tak terkecuali pariwisata. Oleh karena itu, dibutuhkan peran dari seluruh lapisan masyarakat untuk menghadirkan rasa aman dan nyaman di lokasi destinasi wisata, karena jika tidak, pariwisata akan semakin lemas seiring dengan virus corona yang mengganas. (gml1/bas)

Statistisi Pertama BPS Provinsi Jawa Tengah

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya