alexametrics

Jangan Sembarangan Copot Catalytic Converter

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, BANYAK masyarakat tak paham hampir 70 persen konstribusi polutan udara berasal dari emisi gas buang kendaraan bermotor. Kendaraan menghasilkan gas berbahaya bagi penghirupnya, seperti gas Carbon Monoksida (CO), Hidrokarbon (HC), Nitrogen Oksida (NOx), dan partikulat yang biasa disebut gas sumber polutan. Kondisi diperparah dengan pertumbuhan kendaraan bermotor di Indonesia mencapai rata-rata hampir 10 persen pertahun.

Sumber utama emisi gas buang kendaraan berasal dari pembakaran bahan bakar yang tak sempurna dalam ruang bakar yang menghasilkan gas polutan. Gas polutan keluar melalui saluran gas buang (knalpot). Gas polutan yang keluar dari mulut knalpot sebenarnya direduksi oleh piranti yang sering disebut Catalytic Converter. Ironisnya banyak para pengemudi tidak memahami fungsinya, dan saat terjadi masalah dengannya, sering dibongkar, dicopot dan diganti sembarangan.

Keluhan yang sering dirasakan pengemudi adalah ketika kendaraan tersendat digenjot pada kecepatan tinggi, dan sulit berakslerasi, piranti ini justru dianggap sebagai sumber masalah, dianggap menyumbat gas buang yang akan keluar dari knalpot. Mindset pengemudi kendaraan tersendat akibat knalpot yang dilengkapi Catalytic Converter tersumbat.  Tanpa sadar yang dilakukan pengemudi mencopot Catalytic Converter semakin membahayakan, karena bisa terpapar gas polutan berbahaya yang keluar dari mulut knalpot tanpa.

Sebenarnya penyumbatan pada Catalytic Converter terjadi akibat penggunaan bahan bakar yang memiliki nilai angka oktan rendah dan masih adanya kandungan Timbal (Pb) pada bahan bakar. Pori-pori honeycomb pada Catalytic Converter akan tertutup karena penggunaan bahan bakar yang masih mengandung Timbal (Pb) dan ber-oktan rendah, hal ini berakibaakibatnya Catalytic Converter cepat rusak.

Baca juga:  Unimus Tambah 1.090 Lulusan Baru

Saat ini semua kendaraan baru didisain oleh produsen dengan sistem pembakaran tekanan kompresi tinggi yang perlu angka oktan bahan bakar tinggi. Sayang banyak pemilik kendaraan tak paham, dan memilih bahan bakar murah dengan alasan berhemat, tanpa tahu bahan bakar tersebut ber-oktan rendah. Hal ini menyebabkan proses pembakaran bahan bakar di ruang bakar terganggu dan mengakibatkan knocking / mesin mengklitik pada kendaraan motor bensin. Akibatnya performace mesin tak optimal, keluaran emisi gas buang semakin tinggi.

Fungsi piranti ini sangat penting, karena mereduksi emisi gas buang dari mulut knalpot. Jika Catalytic Converter dicopot dari saluran gas buang, tentu berbahaya bagi kesehatan, emisi gas CO terhirup akan masuk dalam darah dan mengikat Hemoglobin (Hb), akibatnya darah kekurangan oksigen. Bila darah terus kekurangan oksigen menyebabkan kematian penghirup gas beracun ini.

Penggunaan Catalytic Converter untuk mengurangi emisi gas buang pada kendaraan bermotor sudah lama dilakukan. Alat ini juga mengkonversi senyawa toksik (racun) dalam gas buang menjadi zat yang kurang toksik atau tidak toksik  Merujuk pada Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 5 tahun 2006 tentang ambang batas emisi gas buang kendaraan bermotor, untuk kendaraan lama sebesar 4,5%  dan kendaraan baru sebesar 1,5 persen. Sehingga kendaraan bermotor harus dilengkapi piranti standar yaitu Catalytic Converter.

Penggunaan bakar bakar ramah lingkungan dan pembatasan jumlah kendaraan bermotor sulit terwujud saat ini. Rendahnya daya beli terhadap BBM ramah lingkungan menjadi batu sandungan. Salah satu teknologi untuk menurunkan polutan dari emisi kendaraan bermotor bensin adalah menggunakan Catalytic Converter.

Pemasangan catalytic converter bertujuan merubah polutan berbahaya (CO, HC dan NOx) menjadi gas tidak berbahaya, seperti Carbon Dioksida (CO2), Uap Air (H2O) dan Nitrogen (N2). Catalityc Converter yang dipasang diantara exhaust manifold dan knalpot berfungsi mempercepat oksidasi emisi CO dan HC serta mereduksi NOx. Tanpa piranti ini gas CO dan HC berubah menjadi CO2 dan H2O pada temperatur 700°C. Dengan Catalytic Converter  pada temperatur 200-300 °C gas berbahaya tersebut bisa dirubah menjadi gas tidak berbahaya.

Baca juga:  IPM Jawa Tenggah 2021 Bertengger di Angka 72,16

Catalytic Converter yang banyak digunakan saat ini adalah Catalytic Converter berbahan katalis dari platinum, palladium dan rhodium. Katalis tersebut termasuk jenis logam mulia (Nobel Metal) yang mahal, terbatas kelimpahannya serta rentan terhadap bahan bakar yang mengandung Timbal (Pb) dan ber-oktan rendah.

Ada beberapa logam yang diketahui efektif sebagai bahan katalis oksidasi dan reduksi mulai dari yang besar sampai yang kecil adalah Pt, Pd, Ru, Mn, Cu, Ni, Fe, Cr, Zn dan oksida dari logam tersebut. Dapat dilakukan modifikasi penggunaan bahan katalis lain yang dapat dipakai sebagai pengganti katalis Nobel Metal. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi kendaraan lama yang tidak dilengkapi dengan piranti Catalytic Converter pabrikan. Riset sebelumnya, Catalytic Converter dengan bahan katalis tembaga (Cu); Oksida Tembaga (CuO), Tembaga Nikel (Cu Ni), dan kuningan diketahui mampu menurunkan konsentrasi keluaran emisi gas buang CO dan HC pada motor bensin ignifikan dengan variasi putaran mesin.

Baca juga:  Pemkot Salatiga-Unimus Jajaki Kerja Sama Tiga Bidang

Riset skala laboratorium rancang bangun Catalytic Converter dilakukan dengan pemilihan bahan katalis lain yaitu Tembaga berlapis Mangan. Penambahan bahan katalis berbasis Tembaga berlapis Mangan dilakukan karena bahan ini berlimpah, murah dan memiliki karakteristik sebagai katalis. Alat dirancang sesuai aspek geometri, mempertimbangkan kajian riset terdahulu, tanpa meninggalkan aspek estetika, keamanan, sederhana, efisien dan harga yang terjangkau.

Riset menunjukkan Catalytic Converter berbahan Tembaga yang dilapisi Mangan mereduksi emisi gas CO hingga 82,33 persen. Konsentrasi emisi gas CO yang semula 6,17 persen turun jadi 1,09 persen. Semoga hasil riset ini tak hanya menjadi tumpukan kertas tua perpustakaan yang tidak mendapat simpati dari khalayak. Sudah barang tentu Catalytic Converter butuh investor dan besutan produsen kendaraan untuk menjadi piranti siap dipasarkan komersial dengan harga terjangkau. Pesan pada masyarakat dan pembaca, “jangan sembarangan mencopot Catalytic Converter”, bila tak mau di tuding sebagai salah satu penyebab tingginya polusi udara kota. (*/ida)

Dekan dan Dosen Fakultas Teknik Unimus, Konsultan dan Pemerhati Lingkungan

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya