alexametrics

Supervisi Pembelajaran IPA dalam Perspektif Konstruktivis

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SUPERVISI adalah proses mengarahkan, mendukung supervisee agar dapat melakukan tugasnya dengan efektif, efisien dan berkelanjutan. Seorang supervisor harus memiliki kapabilitas dan kesempatan untuk mendengarkan serta memberikan perspektif dan klarifikasi teori dan praktik. Hal ini mengandung pengertian bahwa kegiatan supervisi harus berdimensi dua, meliputi konten dan keterampilan seorang supervisor dan kompetensi yang harus dimiliki oleh supervisee.

Kompetensi supervisor harus dapat mendorong agar supervisi dapat berperan sebagai penyediaan pemantauan, bimbingan dan umpan balik mengenai masalah pengembangan pribadi, profesi dan muatan pendidikan.

Supervisi dalam dunia pendidikan mencakup seluruh aspek dari penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran. Melalui supervisi pembelajaran, diharapkan dapat memberikan penegasan, sebagai kegiatan bantuan pembinaan ke arah perbaikan, sehingga meningkatkan kualitas pembelajaran. Bantuan kegiatan dapat berupa kegiatan pengarahan, memberikan dorongan, atau mengkoordinasikan ke arah perbaikan pembelajaran, yang dilakukan secara sistematis dan kontinyu. Bantuan layanan supervisi, meliputi keseluruhan situasi belajar mengajar, mencakup goal, material, technique, method, teacher, student, and environment. Hal ini mengindikasikan bahwa guru sebagai aspek utama dalam supervisi, harus dapat memperbaiki dan meningkatkan kemampuannya dalam mengelola kegiatan belajar mengajar, termasuk pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Baca juga:  Sistem Manajemen Strategis dalam Pendidikan

Pembelajaran IPA dalam perspektif konstruktivis, hakekatnya menuntut penilaian konstruktivis, seperti tugas individu, pengamatan, proyek, presentasi, demonstrasi, dll. Pembelajaran konstruktivisme mendorong guru dalam pembelajarannya menjadi fleksibel dan menggeser pembelajaran tradisional. Reformasi ini menitikberatkan bahwa siswa membangun pemahaman mereka sendiri dari setiap konten yang diberikan. Penilaian berorientasi pada pemahaman yang harus memberikan informasi berkelanjutan yang memungkinkan guru menjadi responsif terhadap kebutuhan individu, seperti penilaian formatif yang berkelanjutan, sehingga siswa mencapai pemahaman yang diinginkan.

Tuntutan tersebut mendorong pembalajaran yang menekankan Student Centered Learning (SCL). Makna belajar diperoleh siswa melalui beberapa temuan dari hasil pengalaman di lapangan, laboratorium, dan dalam realita kehidupan. Ada empat prinsip yang mendukung lingkungan belajar yang efektif, yaitu pembelajaran berpusat pada siswa, pengetahuan berpusat pada lingkungan, penilaian yang mendukung pembelajaran, berbasis masyarakat sehingga ada keuntungan di masa depan dan keterampilan menyelesaikan masalah secara kreatif dan inovatif.

Baca juga:  Pembaharuan Usia Menikah Solusi atau Problem?

Kompleksitas kehidupan di masa sekarang ini, menuntut pembelajaran harus dapat mendorong individu untuk mengonstruksi berbagai informasi dan pengalaman sebelumnya dan mengaitkannya dengan realita yang ada. Hal ini sangat relevan dengan tuntutan dalam pembelajaran IPA, untuk selalu mengintegrasikannya dengan lima domain sains dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya. Kelima domain sains meliputi sikap ilmiah, proses ilmiah, produk, aplikasi, dan kreativitas.

Tujuannya untuk mengimbangi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang sangat cepat. Aplikasinya mengindikasikan suatu proses pembelajaran berpendekatan konstekstual berlandaskan teori konstruktivisme sehingga tercapai pembelajaran bermakna. Tuntutan pembelajaran IPA berbasis lima domain sains, maka supervisi yang dilakukan oleh supervisor dapat mengakomodir kebutuhan di atas. Evaluasi supervisi pembelajaran IPA, harus memasukkan unsur lima domain sains. Proses pembelajaran konstruktivisme ini, menekankan fungsi guru yang berperan sebagai fasilitator.

Baca juga:  Evaluasi Pembelajaran IPA yang Mudah dengan Flash Card

Pembelajaran dan penilaian IPA berbasis konstruktivis, menjadi landasan bahwa aplikasi supervisi pun dituntut barbasis konstruktivis. Hal ini menjadi suatu keharusan. Konteks ini mengimplementasikan suatu supervisi yang berpusat pada guru, dan supervisor sebagai fasilitator. Guru akan memiliki motivasi individu untuk mencari tahu tentang suatu pengetahuan/pemahaman, keinginan untuk berkembang, dan meningkatkan diri, mengembangkan profesi, serta bakat guru, sehingga dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, memiliki kesiapan menghadapi tantangan masa dapan yang kompleks dan dinamis. (*/ida)

Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan Dosen S1 Pendidikan Kimia Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya