alexametrics

Peluang dan Ancaman Jawa Tengah di Pusaran Perang Dagang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang sudah berlangsung lebih dari setahun sampai saat ini belum juga mencapai titik temu. Bahkan, efek dari perang dagang ini semakin hari semakin meluas dan melebar. Bursa saham hampir di seluruh Asia pun rontok, seperti indeks saham Jepang yaitu Nikkei, indeks saham Korea Selatan yaitu Kospi, tak terkecuali indeks saham Indonesia IHSG juga mengalami tekanan akibat perang dagang Amerika dan China.

Ekspor dan impor Jawa Tengah tidak dapat dilepaskan dari Amerika Serikat dan China. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah pada tanggal 2 Januari 2020, tercatat bahwa Amerika Serikat adalah negara tujuan utama dari ekspor Jawa Tengah, diikuti Jepang dan China. Total ekspor Jawa Tengah ke Amerika Serikat selama periode Januari-November 2019 adalah sebesar 2 516,55 juta dollar AS, jumlah ini meningkat 9,06 persen jika dibandingkan dengan total ekspor periode yang sama tahun sebelumnya, sedangkan marketshare negara ini terhadap total ekspor Jawa Tengah periode Januari-November 2019 adalah yang terbesar yaitu 33,51 persen.

Baca juga:  Manajemen Strategik, Perlukah bagi Lembaga PAUD?

Di lain pihak, China adalah negara pemasok barang impor terbesar ke Jawa Tengah dengan total impor sebesar 3 793,57 juta dollar AS selama periode Januari-November 2019, jika dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya turun sebesar 0,32 %, peranan dari negara ini terhadap total impor Jawa Tengah adalah yang terbesar di antara negara lainnya yaitu 47,36 persen.

Perang dagang ini dapat menjadi ancaman sekaligus dapat menjadi peluang bagi Jawa Tengah. Hal ini dapat menjadi ancaman karena akan membuat China dan Amerika Serikat (AS) mencari negara tujuan ekspor baru, barang-barang yang tidak bisa ditembus di pasar Amerika Serikat (AS) maupun di pasar China, akan dialihkan ke negara-negara lain yang bisa untuk ditembus. Akibatnya pasar impor Jawa Tengah akan kebanjiran barang-barang dari China dan Amerika Serikat. Jika dilihat dari segi konsumen hal ini bagus, karena konsumen akan mendapatkan barang dengan harga yang lebih murah. Namun di sisi lain tidak baik untuk iklim usaha di Jawa Tengah karena produsen akan mendapatkan saingan baru.

Baca juga:  Pertanian dan Big Data

Perang dagang juga dapat menjadi peluang bagi Jawa Tengah. Bagaimana caranya? dengan mensubstitusi komoditas yang tidak bisa ditembus oleh China ataupun Amerika Serikat selain itu dengan memetakan kembali pasar-pasar baru tujuan ekspor, atau dengan kata lain Jawa Tengah harus mampu membidik negara-negara tujuan ekspor baru selain Amerika Serikat (AS) dan China. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, ekspor Jawa Tengah ke negara-negara lain selain kedua negara tersebut yang mengalami peningkatan, seperti Jepang dimana total ekspor untuk periode Januari-November 2019 sebesar 882,29 juta dollar AS naik 0,27 persen, Jerman 340,24 juta dollar AS naik 13,12 persen dan Belanda 175,44 juta dollar AS naik 12,56 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan marketshare masing-masing negara sebesar 11,75 persen, 4,53 persen dan 2,34 persen dari nilai total ekspor nonmigas Jawa Tengah periode Januari-November 2019.

Baca juga:  Perang Dagang Memanas, Indonesia Kena Imbasnya?

Akankah perang dagang ini akan menjadi peluang ataupun ancaman? Semua itu tergantung dari strategi dan kesiapan Jawa Tengah di dalam pusaran perang dagang ini. (st2/ton)

Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi Jawa Tengah

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya