alexametrics

Menjaga Stabilitas Tanaman Pangan di Musim Kemarau

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Kemarau merupakan musim kedua yang dialami oleh negara kita setelah penghujan. Musim ini akan selalu kita alami mengingat Indonesia berada di jalur katulistiwa yang menyebabkan Indonesia hanya memiliki dua musim. Yaitu musim kemarau dan penghujan. Dari tahun ke tahun Indonesia mengalami musim kemarau yang semakin kering. Menurut BMKG, musim kemarau di tahun 2019 ini akan lebih kering dan panas bila dibandingkan tahun sebelumnya.

Kedatangan musim kemarau sering ditandai dengan merangkaknya harga komoditas tanaman  pangan. Berdasarkan data BPS, pada April sampai Agustus 2019 terjadi inflasi 0,44 persen pada bulan April, inflasi 0,68 persen pada bulan Mei, inflasi 0,55 persen pada bulan Juni. Inflasi 0,31 persen pada bulan Juli dan inflasi sebesar 0,12 persen pada Agustus.

Penyebab kenaikan inflasi ini dominan dari kenaikan harga pada indeks bahan makanan. Pada bulan April, indeks bahan makanan naik sebesar 1,45 persen. Pada bulan Mei, indeks bahan makanan naik sebesar 2,02 persen, bulan Juni naik sebesar 1,63 persen, bulan Juli naik sebesar 0,80 dan Agustus mulai turun sedikit di angka 0,19 persen.

Baca juga:  Penanaman Nilai Budaya Baru kepada Peserta Didik saat New Normal

Dimana komoditas yang mengalami kenaikan di antaranya bawang merah, bawang putih, cabai, bayam, kangkung dan sayuran lainnya. Khusus bulan Agustus beberapa sayuran seperti kangkung, tomat dan bawang merah mulai turun

Naiknya harga komoditas ini disebabkan banyak faktor. Salah satunya adalah kurangnya air yang dibutuhkan tanaman pangan untuk dapat berproduksi dengan baik. Jumlah produksi yang mengalami penurunan sementara kebutuhan masyarakat tetap, mengakibatkan terjadi kelangkaan yang menyebabkan kenaikan harga.

Kenaikan harga ini hampir selalu berulang setiap tahun. Untuk itu perlu adanya antisipasi, mengingat setiap tahun Indonesia mengalami musim kemarau yang lama-kelamaan semakin kering. Pembangunan bidang pertanian perlu untuk diterapkan salah satunya dengan pembangunan embung sebagai penyedia air di musim kemarau.

Dengan adanya embung diharapkan dapat menjadi salah satu solusi terjadinya kekurangan air untuk melakukan aktivitas pertanian. Pembuatan embung dengan lokasi yang tepat dan volume tampungan air yang memadai, dapat sedikit menjadi angin segar untuk petani yang kekurangan air. Memang dalam pelaksanaannya tidak mudah, perlu perencanaan yang matang dalam pembuatan embung ini. Mengingat salah perencanaan, maka manfaat tidak ada tetapi malah menanggung biaya.

Baca juga:  Jangan Sembarangan Copot Catalytic Converter

Embung biasanya dibuat untuk daerah yang sering mengalami kekeringan, akan tetapi saat ini mungkin semua desa perlu untuk mempunyai embung sebagai cadangan air. Berdasarkan data BPS tahun 2018 jumlah wilayah administrasi setingkat desa yang memiliki embung ada sebanyak 8 889  wilayah administrasi setingkat desa. Jumlah ini baru 10,59 persen  dari total wilayah administrasi setingkat desa yang ada.

Rata-rata wilayah administrasi setingkat desa yang belum memiliki embung dikarenakan merasa sudah memiliki sumber air yang cukup lancar saat musim kemarau baik dari mata air maupun sumber air lainnya. Mata air merupakan penyokong utama sumber air yang digunakan oleh masyarakat kita.

Baik untuk keperluan rumah tangga maupun untuk usaha di bidang pertanian. Berdasarkan data BPS tahun 2018, Mata air dimiliki oleh 46,11 persen  wilayah administrasi setingkat desa yang ada di Indonesia.

Baca juga:  Kekeringan Meluas 28 Wilayah

Meski demikian kita perlu untuk melakukan antisipasi jangka panjang, untuk menghindari berulangnya musibah kekeringan yang dialami. Dengan adanya dana desa, diharapkan pemerintah desa dapat lebih bijak dalam pengelolaan dana desa tadi sehingga bermanfaat untuk masyarakat desa secara umum.

Tahun 2019, berdasarkan data Kemenkeu dana desa yang digelontorkan sebesar Rp 70 triliun. Sebuah nominal yang cukup besar yang bila digunakan secara tepat dan benar dapat memberikan manfaat yang luar biasa bagi desa. Pembangunan yang mendukung di sektor pertanian, perlu ditingkatkan dengan adanya koordinasi dengan dinas pertanian setempat.

Hal ini penting khususnya dalam menghadapi gejolak harga komoditas tanaman pangan yang sering terjadi. Dengan harga-harga yang relatif stabil, dapat membuat perekonomian kita menjadi kuat. (mlm2/lis)

 

Statistisi Pertama BPS Kabupaten Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya