alexametrics

Sekolah Bagaikan Coorporate

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, SEKOLAH bukanlah dunia bisnis atau tempat mencari uang, melainkan dunia pembinaan. Sebagai tempat pembinaan, sekolah tidak memandang ekonomi sebagai pemeran utama seperti halnya di dunia bisnis. Perusahaan atau corporate memiliki sumber daya modal, demikian juga sekolah. Modal yang ditanam untuk sekolah berperan sebagaimana modal yang ditanam untuk memproduksi barang yang menguntungkan dalam perusahaan.

Sekolah merupakan usaha raksasa yang melibatkan banyak biaya, tenaga, fasilitas maupun sumber daya dalam kurun waktu lama. Pendidikan berorientasi ke masa depan. Pendidikan merupakan usaha raksasa untuk mempersiapkan dan memberdayakan manusia menyongsong masa depan yang lebih baik. Sekolah memproses manusia hingga menjadi manusia produktif yang memiliki kemampuan membangun. Zaman dahulu manusia dianggap sama sederajat dengan mesin dan perlengkapan industri lainnya. Teori lama menganggap yang disebut modal itu terdiri atas uang, mesin, tanah atau lahan. Kedudukan manusia tak ubahnya seperti mesin, asal diberi bensin maka mesin bergerak. Begitu juga dengan manusia, asal dibayar ia akan bekerja.

Fungsi produksi dalam sekolah adalah hubungan antara output dan input, di antaranya  ada tiga macam, yaitu:  Pertama, fungsi produksi administrator yang dipandang input adalah segala sesuatu yang menjadi wahana dan proses pendidikan yang meliputi: pertama, sarana dan prasarana belajar, termasuk ruangan kelas dapat diuangkan, artinya bahwa perhitungan luas dan kualitas bangunan, Kedua, perlengkapan belajar di sekolah seperti media, alat peraga juga dihitung harganya, Ketiga,  buku-buku pelajaran, dan bentuk material lainnya seperti film, flasdisk dan sebagainya. Keempat, barang-barang yang habis dipakai seperti zat kimia di laboratorium dan sebagainya. Kelima, waktu guru bekerja, dan perangkat pegawai administrasi dalam memproses peserta didik/mahasiswa harus dibeli dan dibayar.Sementara itu yang dipandang sebagai output adalah berbagai bentuk layanan dalam memproses peserta didik seperti menghitung lamanya peserta didik/mahasiswa dalam belajar.

Baca juga:  PTM 100 Persen, Sekolah di Kabupaten Semarang Terkendala Minimnya Tempat Cuci Tangan

Kedua, fungsi produksi psikologi adalah semua hasil belajar peserta didik yang mencakup: peningkatan kepribadian, pengarahan dan pembentukan sikap, penguatan kemauan, peningkatan estetika, penambahan pengetahuan, ilmu, dan teknologi, penajaman pikiran, serta peningkatan keterampilan.

Ketiga, fungsi produksi ekonomi yang dipandang sebagai input meliputi: semua biaya sekolah, semua uang yang dikeluarkan secara pribadi untuk keperluan pendidikan, dan semua uang yang mungkin diperoleh lewat bekerja selama belajar atau kuliah. Output-nya adalah tambahan penghasilan peserta didik kalau sudah tamat dan bekerja, jika orang ini sudah bekerja sebelum belajar. Dan jika belum pernah bekerja maka output-nya adalah gaji yang diterima setelah tamat atau bekerja

Biaya sekolah dibedakan menjadi  komponen biaya langsung (direct cost) dan biayai tidak langsung (indirect cost). Biaya langsung adalah biaya yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik. Biaya ini merupakan biaya bagi terlaksananya sekolah. Kriteria biaya langsung harus memenuhi persyaratan, inheren pada hasil, kuantitatif dapat dihitung, pengeluarannya tak dapat dihindarkan, dan dapat diperhitungkan sebelumnya. Biaya yang harus dikeluarkan antara lain untuk gaji guru dan pegawai lainnya, pembelian buku, perlengkapan belajar, dan biaya evaluasi belajar. Biaya langsung ini terwujud dalam pengeluaran uang yang secara langsung membiayai keperluan pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang berpengaruh pada kualitas output.

Biaya tidak langsung adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh peserta didik, keluarga dan masyarakat yang menanggung biaya seperti biaya makan, perumahan, buku, pakaian, transportasi, dan kesehatan. Kategori biaya ini disebut private cost. Biaya perngorbanan yang dikeluarkan masyarakat, baik berupa tenaga, pikiran, waktu maupun benda yang dapat dituangkan termasuk ke dalam kategori biaya publik disebut social cost.

Biaya total sekolah belum menggambarkan keseluruhan investasi dalam dunia pendidikan. Sebab, biaya-biaya sekolah melibatkan penggunaan berbagai sumber daya, baik berupa natural, material, maupun personal. Ada yang berbentuk barang, ada yang berbentuk jasa, ada juga beberapa sumber daya yang terdapat di lingkungan kehidupan masyarakat.

Baca juga:  Upgrade Kemampuan Guru SD di Era Digital

Usaha mengangkat masyarakat miskin menjadi sejahtera menurut teori Human Capital tidak tergantung pada uang, lahan, teknologi ataupun kelengkapan industri, melainkan pada pengetahuan yang dimilikinya sebagai modal utama. Manusia menjadi aset utama dalam kegiatan ekonomi, melebihi yang lainnya yang disebut sebagai aspek ekonomi kualitatif. Kecerdasan dan keterampilan hasil pendidikan inilah yang kemudian disumbangkan menjadi karya nyata yang memajukan perekonomian.

Sekolah  sebagai alat penyaluran berfungsi mendekatkan jarak antara lembaga pendidikan  dalam mentransformasi ilmu pengetahuan dengan masyarakat. Contohnya, jika kita ingin mendapatkan ilmu pengetahuan untuk anaknya, orang tua tidak perlu mendatangkan semua guru  ke rumah, tetapi cukup didaftarkan ke sekolah terdekat sesuai dengan zonasi. Begitu juga sekolah, untuk transformasi ilmu pengetahuan guru  tidak harus datang ke rumah-rumah, tetapi cukup memberi bekal ilmu di sekolah. Karena di sini sudah banyak peserta didik yang mendaftar dan siap menerima transfer ilmu pengetahuan tersebut.

Baca juga:  Karakteristik Kepribadian Komedian (Humoris)

Dalam mentransfer ilmu pengetahuan dari pendidik ke peserta didik dilakukan melalui proses pembelajaran dengan berbagai metode, pendekatan maupun model pembelajarannya. Untuk menunjang proses pembelajaran tersebut, seorang pendidik menyiapkan administrasi pembelajaran yang meliputi silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran dan sistem penilaian. Agar mengukur kualitas peserta didik sebagai “produk” sekolah, guru melakukan evaluasi berupa penilaian sikap spiritual dan sosial, penilaian pengetahuan dan penilaian keterampilan. (*)

 

Waka Kurikulum SMPN 29 Semarang dan Mahasiswa Doktoral Manajemen Pendidikan UNNES

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya