alexametrics

Demak sebagai Pusat Penyebaran Agama Islam dan Pusat Kekuasaan Politik

Sultan Trenggana dalam Jejak Historis (1)

Artikel Lain

Oleh: Dr Alamsyah *

RADARSEMARANG.ID, SAAT kita melakukan perjalanan darat dari Kota Semarang ke kota  Kudus, ketika melewati Alun-alun Demak, di sebelah kiri terlihat Masjid Agung Demak.  Meskipun bangunan initelah mengalami beberapa kali perbaikan, namun Masjid Agung berada di bekas kota pusat kerajaan Demak. Bagi yang memahami tentang sejarah sejarah kota Demak, ingatannya seolah diajak berekreasi pada peristiwa sekitar 500 tahun, dimana kerajaan Islam pertama di Jawa berdiri tidak jauh dari lokasi tersebut.

Peninggalan artefak menandakan bahwa di akhir abad ke-15 lahirlah penguasa Islam Demak, Raden Patah dan penerusnya seperti Adipati Unus, Sultan Trenggana, dan Sunan Prawata. Pada abad ke-16 ini, melalui Kerajaan Demak, Islam menunjukkan eksistensi sebagai kekuatan religi, politik, sosial, dan ekonomi. Jejak-jejak historis terlihat nyata dalam bentuk artefak yang masih dapat dilihat hingga saat ini. Ketika ada sebagian masyarakat menyangsikan tentang keberadaan Sultan Trenggana sebagai pemimpin Demak, pandangan tersebut tidakmenjadi masalah sepanjang didukung oleh data dan fakta historis.

Baca juga:  SSPS Hindu-Buddha dengan Model Outdoor Learning Berbasis Perkemahan Sejarah

Bagi  masyarakat Demak, Sultan Trenggana adalah pahlawan kultural masyarakat. Sebagian besar masyarakat mengetahui sejarah, eksistensi, dan kiprah Sultan Trenggana sebagai tokoh regional yang berkontribusi pada perjuangan. Wilayah kekuasaannya  saat itu  meliputi hampir seluruh Jawa, sebagian Sumatera, dan pengaruhnya hingga ke Malaka.
Demak dalam Historiografi

Berbicara tentang Demak, sudah banyak literatur yang menggambarkan tentang kerajaan Islam pertama di Jawa ini. Raden Patah adalah pendiri dan raja yang menganut agama Islam di Jawa. Sebelum Demak eksis, wilayah ini menjadi vasal Majapahit. Menurut babad Tanah Jawi, tumbuhnya kota pusat kerajaan Demak di Bintara yang diperintah oleh Raden Patah atas petunjuk Sunan Ampel, salah seorang Wali Sanga.  Raden Patah berkuasa pada akhir abad ke-15 sampai dengan tahun 1518. Penguasa ini menikah dengan putri Cina yang kemudian berputera enam orang.

Selama masa kekuasaan Raden Patah hingga Sultan Trenggana, Demak merupakan pusat penyebaran Agama Islam dan pusat kekuasaan politik, yang memegang peranan penting dalam bidang perdagangan. Pada periode ini komoditi dagang antara Demak dengan Malaka dan daerah lain yang utama adalah beras. Hubungan perdagangan tersebut mulai terganggu sejak Malaka  dikuasai Portugis pada tahun 1511.

Baca juga:  Antisipasi Kekerasan Seksual pada Anak, Ajari Lindungi Diri Sejak Dini

Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis menimbulkan perimbangan baru dalam bidang politik dan ekonomi. Bagi Demak, Malaka adalah pasar beras dan rempah-rempah.  Keberadaan Portugis di Malaka sangat mengganggu aktivitas perdagangan dan pelayaran pedagang-pedagang Demak, terlebih  Portugis menganggap orang Islam adalah lawannya dan harus ditaklukkan.Sehingga Portugis menyerang pusat-pusat kedudukan  Islam untuk merebut perdagangan mereka.

Pasca Raden Patah, penggantinya adalah Adipati Unus atau Pangeran Sabrang Lor, yang   memerintah tahun 1518 hingga tahun 1521. Adipati Unus  meninggal pada usia sangat muda dan belum mempunyai keturunan. Wafatnya Adipati Unus memunculkan instabilitas karena ia tidak berputera, sehingga mengakibatkan terjadinya perebutan kekuasaan sesama keturunan Raden Patah, yaitu antara Pangeran Sekar Seda ing Lepen dan Sultan Trenggana, hingga yang berkuasa adalah Sultan Trenggana.

Sultan ini hidup antara tahun 1587-an hingga 1546 dan berkuasa di Demak dari tahun 1521 hingga 1546. Sumber yang menjelaskan tentang hsitoriografi Demak mendasarkan pada catatan perjalanan Portugis yang menulis peristiwa secara cermat.

Baca juga:  Pandemi dan Pengangguran di Jawa Tengah

Kronologinya  sangat teliti, kadang terdapat keterangan hari dan tanggal. Dalam mendeskripsikan tentang Sultan Trenggana, selain berbasis pada catatan perjalanan,  juga menggunakan karya penulis Belanda, dan sumber tradisional. Historiografi tradisional digunakan untuk mengisi sejumlah besar kekosongan yang memberi informasi sejarah sangat penting. Sumber sejarah tradisional mempunyai kedudukan penting sebagai pembanding sumber Eropa karena secara substansial, sumber tradisional memuat pengetahuan tentang berbagai peristiwa dan keadaan sesuai dengan pola pikir masyarakat lokal pada jamannya yang tidak disebut dalam sumber Barat. Sumber ini berguna untuk melakukan cross-check dengan sumber Eropa. Di sisi yang lain, sumber Eropa kurang memiliki informasi tentang berbagai keadaan yang sesungguhnya. (Bersambung/bas)

* Pembantu Dekan I Fakultas Ilmu Budaya Undip dan Anggota Tim Ahli Yayasan Dharma Bakti Lestari

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya