alexametrics

Lansia Berkualitas, Bonus Demografi

Artikel Lain

Oleh : Annie Yuliati S.Si

EUFORIA warganet pada berbagai media sosial dengan tren ‘AgeChallenge’ seolah menjamur. Bayangkan wajah cantik dan ganteng, pada

masa depan menjadi tua dan keriput. Entah dari mana dan siapa yang mengawali kebiasaan meng-upload gambar wajah masa depan ini bermula. Namun dengan seiring waktu masyarakat seolah tersihir untuk mengikuti. Kecenderungan ini ternyata merupakan cerminan dari jumlah penduduk lanjut usia Indonesia yang meningkat.

Sebagai sebuah negara kepulauan dengan jumlah populasi keempat terbesar di dunia menurut World Population Pros

pect 2017 Revision oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pertumbuhan penduduk Indonesia sangat berpengaruh terhadap komposisi penduduk dunia.
Bahkan, dari tahun 2017 hingga 2050 diperkirakan bahwa separo dari pertumbuhan penduduk dunia akan terkonsentrasi pada sembilan negara saja, salah satunya adalah Indonesia. Secara global, Indonesia berkontribusi secara signifikan terhadap pertumbuhan lansia di seluruh dunia.

Baca juga:  Strategi Kehumasan dalam Digital Society

Data Badan Pusat Statistik (BPS) penduduk lanjut usia Indonesia pada tahun 2018 berjumlah 24,49 juta jiwa atau setara dengan 9,27 persen dari total penduduk keseluruhan. Tahun sebelumnya hanya terdapat 8,97 persen atau sekitar 23,4 juta lansia di Indonesia. BPS juga memproyeksikan pada tahun 2045 Indonesia akan memiliki sekitar 63,31 juta lansia. Ini artinya satu dari lima penduduk Indonesia adalah lansia. Lansia berkualitas akan menjadi bonus demografi kedua bagi Indonesia. Namun sebaliknya, jumlah lansia yang meningkat merupakan tantangan bagi pembangunan ke depan.

Pada tahun 2018 angka rasio ketergantungan lansia terhadap penduduk produktif meningkat menjadi 14,49 dibandingkan tahun sebelumnya yang angkanya 14,02. Artinya, pada tahun 2018 setiap 100 orang penduduk usia produktif harus menanggung 15 orang penduduk lansia.

Baca juga:  IPM Kebumen Naik Kelas

Banyaknya populasi lansia menyebabkan tuntutan perawatan yang lebih besar sehingga menambah tanggungan beban ekonomi penduduk usia produktif untuk membiayai penduduk lansia. Oleh karena itu, persiapan menuju masa lansia harus menjadi perhatian.
Pola hidup sehat, menghindari stres, dan melakukan kegiatan yang dapat merangsang otak dapat mencegah dimensia dan alzheimer. Kegiatan seperti mengisi TTS, bermain catur, membaca buku atau membuat sulaman dapat menjaga fungsi otak secara maksimal. Sering berkumpul sesama lansia

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya