alexametrics

Tidak Elite Terserang Korona Sekarang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Terserang virus Covid-19 sekarang ini tidak elite. Terus terang, itulah yang terjadi pada saya. Menyakitkan dan memalukan.

Virus itu terdeteksi 23 Februari 2020. Pagi itu badan terasa meriang dan batuk-batuk. Termometer menunjuk angka 36,5. Sebenarnya masih aman. Batuk pun hanya sesekali. Tetapi setelah periksa di laboratorium, hasilnya memperlihatkan indikator positif.

Hari itu saya mengantar keponakan untuk tes kali kedua setelah isolasi mandiri lima hari. Dia negatif. Menyusul kakaknya yang telah negatif dua hari sebelumnya. Saya ikut merawat keduanya sejak 17 Februari. Sudah menggunakan protokol kesehatan sesuai petunjuk. Barangkali saja ada kelengahan.

Belakangan serangan korona memang meningkat di mana-mana. Pemerintah sampai menaikkan level kesiapsiagaan. Itu setelah varian omicron menyebar. Rupanya virus memanfaatkan situasi lengahnya masyarakat.

Rasa korona sekarang memang berbeda. Dulu ketika saya kontak saja (betul-betul hanya kotak) dengan penderita korona (April 2020) rasanya mau mati. Dikucilkan orang di mana-mana. Apalagi setelah betul-betul positif (Desember 2021). Rasanya malaikat maut sudah mengintai. Kini meskipun batuk-pilek merajalela rasanya biasa-biasa saja.

Baca juga:  Belajar dari Kemonggo

Mengimbau orang agar melakukan tes covid sulitnya minta ampun. Meskipun sudah batuk menggigil dan hidungnya buntu, mereka enggan memeriksakan diri. Padahal tes covid sekarang jauh lebih gampang dan lebih murah. Menggunakan rapid test antigen cuma Rp 75.000. Kalau di stasiun malah hanya Rp35.000.
Ingin tes sendiri juga bisa. Tempo hari saya membeli alatnya. Cuma Rp 25.000. Lengkap. Mulai alat untuk mengambil sampel lendir hidung seperti cotton bath itu, reagen dan wadahnya, sampai alat ukurnya. Persis seperti yang digunakan di faskes-faskes. Hanya beda sedikit pada alat rapid-nya. Yang saya beli punggungnya berwarna merah. Sedangkan yang digunakan mengetes saya di laboratorium berwarna putih.

Menggunakannya sangat simpel. Cukup potong ujung kemasan reagen. Pindahkan cairannya ke tabung. Lantas ambil lendir di hidung. Dikilik-kilik sampai terasa menyentuh pangkal lubang hidung. Selanjutnya masukkan cotton bath ke tabung berisi reagen. Angkat lalu tempelkan pada alat pendeteksi. Semenit kemudian muncul garis berwarna merah. Kalau hanya satu berarti negatif. Kalau dua artinya positif. Sudah dua kali saya gunakan alat itu. Masih menunjukkan tanda positif.

Baca juga:  Empat Sadar saat Mulai Lengah

Kini semua pekerja sudah masuk seperti biasa. Anak-anak sekolah tidak daring. Rumah makan, kafe, dan warkop dijejali pengunjung. Tempat-tempat wisata dibuka. Sejalan dengan itu pengawasannya justru kendor. Kesadaran masyarakat akan prokes menurun. Bisa jadi mereka lupa. Situasi masih pandemi.
Di suatu sekolah ada tes antigen secara acak. Sampelnya diambil anak-anak yang sehat. Sedangkan yang batuk disuruh bersembunyi. Rupanya ada kekhawatiran kalau murid yang positif banyak, akan diberlakukan daring lagi. Padahal anak-anak sudah telanjur senang bertatap muka.

Sudah dua tahun korona menghajar dunia ini. Mestinya sudah diketahui pola penyebarannya. Masyarakat menyadari bahayanya. Tahu cara pencegahannya.
Serangan Covid-19 tidak lagi diikuti kenaikan suhu badan yang berlebihan. Namun di mana-mana masih digunakan thermogun untuk menyaring orang.
Ketika terserang korona, saya langsung minta dibelikan termometer digital yang gampang membacanya. Rajin mengecek suhu setiap pagi, siang, sore, dan malam. Sampai tadi malam suhu paling tinggi hanya 36,5. Artinya, serangan korona tidak menaikkan suhu badan. Karena itu jangan menyimpulkan kalau tidak panas pasti terbebas korona.

Baca juga:  Sepekan, Terjadi 103 Bencana Alam di Wonosobo

Saya juga gunakan alat oximeter, alat pengukur kadar oksigen dalam darah. Sejak awal terserang korona, kadar oksigen saya masih di atas 95. Artinya normal. Tetapi saya harus khawatir suatu saat menurun drastis. Maklum sudah tergolong manula.

Ketika terserang korona, saya memang memperhatikan lebih detail indikator-indikator kesehatan. Termasuk detak jantung. Beberapa kali menunjuk angka di atas 100. Mestinya tidak boleh.

Selama lima hari isolasi mandiri itu berat badan turun dua kilogram. Saya anggap wajar. Ketika batuk, pilek, dan radang tenggorokan menyerang, selera makan turun drastis. Menjadi irit makan. Padahal kunci agar bisa bertahan adalah makan banyak.

Kesimpulannya, jangan lagi lengah. Semoga kita sehat. (*)

 

 

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya