alexametrics

Bekerja dengan Hati Nurani

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Hari Pers Nasional (HPN) 9 Februari kemarin penuh makna bagi wartawan Jawa Pos Radar Semarang. Banyak yang menemukan pengalaman baru selama menjadi jurnalis. Berikut lanjutan ungkapan para wartawan Jawa Pos Radar Semarang.

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) menjadi pengingat bagi saya agar menjaga kepercayaan banyak pihak.  Bekerja dengan hati nurani adalah wujud menjaga kepercayaan itu. Kepercayaan  pada masyarakat, perusahaan, klien, narasumber, teman, dan keluarga. Dengan begitu, bekerja akan terasa nyaman, silaturahmi terjaga, selamat, dan membawa berkah.

Saya bangga menjadi bagian dari pers.  Pengalaman dan wawasan saya menjadi bertambah sejak saya bekerja di Jawa Pos Radar Semarang. Perusahaan pers ini mengajari saya banyak hal yang sangat berharga. Harus adaptif, fleksibel, berintegritas, tapi juga pegang idealisme dan independen. (*)

Puput Puspitasari

Wartawati Jawa Pos Radar Semarang di Kota Magelang


Wartawan Bukan Sekadar Pekerjaan

Saya ingin memaknai Hari Pers Nasional 2022 sebagai momen untuk mengingat. Bahwa wartawan bukan sekadar pekerjaan. Tapi juga profesi. Menjadi wartawan juga bukan sekadar untuk mencari uang. Tapi untuk terus belajar apa saja. Selamat Hari Pers Nasional teman-teman. Mari tetap bersemangat! Sebab, pers adalah pilar demokrasi keempat. (*)

Riri Rahayuningsih

Wartawati Jawa Pos Radar Semarang di Kabupaten Magelang


Dulu Takut, Sekarang Berani

Menjadi bagian dari media termasuk dalam salah satu daftar cita-cita. Alhamdulillah bisa terwujud. Bagi saya, seorang jurnalis harus memiliki keberanian besar. Padahal nyali saya sendiri kadang ciut, seringkali takut, dan acapkali goyah. Tapi, selama menjadi jurnalis sejak kuliah waktu itu, saya menjadi punya keberanian (meski sok berani). Berawal dari sana, saya semakin tertantang dan tertarik untuk lebih dalam menyelami jurnalistik. Ternyata asyik!

Baca juga:  Kenang Sejarah dengan Ziarah

Semoga di Hari Pers Nasional 2022 ini, media semakin menjadi bagian dari masyarakat dengan selalu memberikan informasi yang akurat. Jawa Pos Radar Semarang Hebat!! (*)

Ida Fadilah

Wartawati Jawa Pos Radar Semarang Desk Hukum


Jadi Peka Keadaan Sekitar

Saya menyadari betul, jurnalisme cukup mengubah saya dari seorang yang cuek dan bodo amat menjadi manusia yang lebih sensitif dan peka pada keadaan sekitar. Khususnya pada hal-hal yang terasa salah atau tak adil. Pekerjaan ini juga memberi saya kesempatan bertemu dengan banyak orang, dan mendorong saya belajar banyak hal baru. Meskipun jujur saja kadang pusing karena tiap hari berbenturan dengan hal-hal yang sama sekali berbeda di banyak OPD Pemprov Jateng dan pastinya takut salah. (*)

Titis Anis Fauziyah

Wartawati Jawa Pos Radar Semarang Desk Pemprov Jateng


Kedepankan Fakta dan KEJ

Saya mengenal dunia jurnalistik sebetulnya sejak SMA. Begitu lulus kuliah, sudah pasti langsung mendaftar jadi jurnalis. Alhamdulillah saya diterima di Jawa Pos Radar Semarang. Dan bertahan hingga sekarang, hampir 22 tahun.

Di Hari Pers Nasional ini, kita perlu menggelorakan pentingnya kerja-kerja pers yang mengedepankan fakta dan kode etik jurnalistik (KEJ). Meski kita berada dalam perputaran arus dan gelombang desrupsi informasi.

Siapa lagi yang memperjuangkan eksistensi pers dan eksistensi kerja jurnalistik, kalau bukan kita sendiri yang menjadi penjaga gawangnya. Selamat Hari Pers Nasional 2022.(*)

Baca juga:  Sembuh, Ingin Meniru Pak Hendi

Ida Norlayla

Redaktur Pelaksana Jawa Pos Radar Semarang


Sajikan Produk yang Bagus

Saya memaknai Hari Pers Nasional tahun ini sebagai penanda profesi dan tanggung jawab. Produk jurnalistik bisa punya pengaruh besar terhadap masyarakat dan kemajuan. Menyajikan produk yang bagus dan terbaca menjadi penyemangat. Agar produk jurnalistik bisa dinikmati semua pihak. Apalagi perkembangan zaman semakin bergeliat bersama teknologi. Produk jurnalistik bisa seiringan berkembang tanpa meninggalkan ruhnya. (*)

Ryan Fadli

Wartawan Jawa Pos Radar Semarang di Kabupaten Batang


Bangga Jadi Wartawan

Hari Pers Nasional 2022, dalam pikiran saya justru keprihatinan minat baca generasi sekarang yang sangat minim. Itu jadi PR besar kita sebagai pengelola media, meningkatkan minat baca generasi zaman now, terlebih untuk membaca koran. Kecenderungan generasi zaman sekarang, suka tontonan visual, kalau pun membaca justru informasi-informasi sampah yang bukan karya jurnalistik. Tantangan kedua adalah mengembalikan semangat wartawan profesional yang bukan hanya menerima informasi, rilis via WA, copas, tapi harus mendapatkan langsung data sampai ke akar-akarnya, terjun ke TKP, cover both side, dan pantang menyerah. Bikin berita-berita eksklusif dan beda. Foto-foto yang ciamik. Berat memang, tapi asyik. Kita harus bangga jadi wartawan. (*)

Arif Riyanto

Pemimpin Redaksi Jawa Pos Radar Semarang


Menghidupkan dan Menghidupi

Sejak kecil sangat familiar dengan media. Orang tua suka baca, karena ibu saya guru. Akhirnya pada 2014 saya menjadi bagian dari Jawa Pos Radar Semarang. Tentu ini menjadi cita-cita terdalam saat kecil. Dulu hanya pembaca, sekarang bagian di dalamnya. Dunia pers jadi perjalanan terbaik hidup saya. Karena membuka berbagai macam makna hidup. Sangat menghidupkan dan menghidupi banyak orang di sekelilingnya. Selamat Hari Pers Nasional. Wujudkan pers sehat dan demokratis. (*)

Baca juga:  Pilar Demokrasi Keempat

Lutfi Hanafi

Wartawan dan Kepala Biro Jawa Pos Radar Semarang di Kota Pekalongan


Pers adalah Hidup Saya

Sebagai wartawan perempuan, saya merasa sangat diuntungkan. Terutama ketika ditempatkan di Polda Jateng. Saya sering mendapat info-info penting terlebih dahulu dibanding wartawan laki-laki.

Selama itu pula belum pernah terpikirkan untuk ganti pekerjaan. Ada trik yang membuat orang tua bangga dengan profesi saya. Dalam kesempatan wawancara door stop dengan tokoh nasional, saya sengaja di depan, sehingga dishoot oleh rekan wartawan televisi. Alhasil, wajah saya nampang di televisi, dilihat orang tua dan tetangga. Mereka semakin bangga hahaha

Tentu saja hal-hal tak menyenangkan tidak saya ceritakan kepada orang tua. Misalnya, diancam orang yang mengaku preman setelah saya menulis pelaku kriminal ditangkap. Atau HP saya dicuri di kantor oleh orang yang tidak terima temannya ditangkap polisi kemudian kasusnya saya tulis.

Pers adalah hidup saya. Hidup yang harus diperjuangkan. Maka tak perlu muluk-muluk, hanya butuh semangat tinggi, kerja keras, bertanggung jawab, dan gembira ria. Hari Pers Nasional, saatnya semakin kompak, mengukuhkan diri menjadi yang terbaik agar tetap eksis. (*)

Listyorini Retno Wibowo

Redaktur & Kepala Biro Jawa Pos Radar Semarang di Magelang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya