alexametrics

Membelah Lautan Rob hingga Meniti Jalan Terjal Bekas Tambang

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Banjir rob dan dampak abrasi mengajarkan pada kita tentang betapa pentingnya menjaga lingkungan hidup dan rasa kemanusiaan. Banjir rob itu telah menenggelamkan kawasan pesisir Sayung selama bertahun-tahun. Tidak hanya lahan pertanian yang terendam, namun rumah warga juga tenggelam oleh air laut. Satu hal yang menarik adalah ketika ada satu keluarga yang masih bersikukuh bertahan di tengah banjir rob. Yaitu keluarga Pasijah, 54.

Butuh perjuangan keras agar bisa sampai di rumah Pasijah ini. Betapa tidak, sepanjang mata memandang dari Desa Bedono, Kecamatan Sayung, ke arah timur, yang ada hanyalah hamparan air laut nyaris tak bertepi. Dari kejauhan hanya terlihat pohon mangrove yang menjulang tinggi. Di balik rerimbunan pohon mangrove itulah rumah Pasijah. Ia  mencoba bertahan dari gempuran gelombang air laut yang mengganas.

Menuju ke rumah Pasijah, tiada cara lain kecuali saya harus menyewa perahu nelayan. Harus merogoh kocek agar tujuan liputan tercapai. Perahu sopek nelayan itu pun mengarungi laut yang dulunya berupa areal pertambakan. Di sinilah pengalaman terpenting dalam sebuah liputan jurnalistik, ketika bisa menemui sasaran yang dituju.

Baca juga:  Makam Sidogemah yang Terdampak Tol Semarang-Demak Menyisakan Sejumlah Cerita Misteri

Apapun dan bagaimanapun harus sampai di rumah Pasijah.  Bangunan berukuran 6×15 meter persegi yang selalu basah kena air laut ini menjadi saksi keganasan rob dan abrasi yang mengikis wilayah pesisir Sayung. Boleh dibilang, tidak ada kehidupan lain kecuali di rumah Pasijah ini.

Beruntung, dengan perjalanan yang dramatik dengan menaiki sepeda motor Scoopy berlanjut dengan perahu nelayan itu, saya bisa menemui Pasijah.  Kesimpulannya, Pasijah merupakan perempuan tangguh yang menghuni rumah sederhana yang selalu terkoyak air laut itu. Di rumah inilah, Pasijah dan keluarga mengisi kehidupannya sehari-hari berdamai dengan air laut.

Liputan lain yang tak kalah dramatis adalah ketika meliput bidan yang bertugas di kampung terpencil, Dukuh Seklenting dan Gojoyo, Desa Wedung, Kecamatan Wedung. Untuk bisa ke kampung nelayan itu, hanya ada dua pilihan yang sama-sama tidak nyaman dilalui. Naik perahu nelayan atau jalan darat dengan sepeda motor dengan risiko terpeleset ke areal pertambakan.

Baca juga:  Begini Proses Pemasangan Girder Tol Semarang-Demak, Butuh 45 Menit dan Jeda Waktu 2 Jam Persiapan

Sebab, jalanan cukup sempit dan ekstrem. Apalagi, kalau habis hujan sulit dilalui. Tentu, hanya petualang yang sabar menghadapi kondisi infrastruktur yang saat itu masih rusak parah berupa tanah liat.

Pengalaman jurnalistik lain yang tak kalah penting adalah ketika bersama Bupati HM Natsir dan Kepala Dinas Perindustrian, Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Pemkab Demak, Bambang Saptoro Subandrio menjenguk perkampungan warga transmigran di Bangka Barat, Provinsi Bangka Belitung. Dengan perjalanan darat sekitar empat jam dari Bandara Depati Amir, kendaraan roda empat yang dilanjutkan dengan naik motor yang ditumpangi harus memasuki kawasan bekas tambang timah yang di sana sini banyak lubang.  Di kawasan yang belum ada listriknya saat itu cukup merasakan betapa hidup butuh perjuangan dan diperjuangkan, termasuk bagaimana harus bersikap saat meliput kondisi warga transmigran itu.

Tak kalah seru adalah ketika liputan Bupati Eistianah saat layat ke rumah tim sukses di Desa Purworejo, Kecamatan Bonang, Eisti yang didampingi suaminya dr Zaky Maardi  terpaksa naik angkot jurusan Demak-Bonang. Ini dilakukan lantaran jalanan banjir, utamanya yang terjadi di ruas Purworejo-Morodemak. Saya pun harus naik dalam satu angkot dengan bupati. Kondisi angkot yang penuh penumpang berjalan merayap di atas jalan yang terendam air rob. Lagi-lagi dibutuhkan kesabaran dalam perjalanan jurnalistik seperti itu. Harus berani dan merasakan sebagaimana para penumpang lain merasakan naik angkot yang asapnya masuk ke dalam kabin.

Baca juga:  Bertemu Kapolres sebelum Minum Dawet Ireng

Tentu, sebagai jurnalis, pengalaman lain yang mampu membuka cakrawala dan mengasah pengetahuan dunia kewartawanan adalah ketika bisa menghadiri setiap even Hari Pers Nasional (HPN) di berbagai lokasi yang berbeda tiap tahunnya. Setidaknya, saya pernah turut hadir di HPN Manado, Sulawesi Utara (Sulut), HPN di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), HPN di Ambon, Provinsi Maluku, HPN di Padang, Sumatera Barat (Sumbar), HPN di Banjarmasin, Kalimantan Selatan (Kalsel). Dan, HPN di Kendari, Sulawesi Tenggara saat ini absen dulu. (hib/zal)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya