alexametrics

Drone Hilang Kontak, Turun ke Jurang Saling Berpegangan Tangan

Perjuangan Menggapai Titik Longsor di Kaki Gunung Prau

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Peringatan tahun baru 2022 membawa kabar buruk bagi warga Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang. Saat masyarakat ramai berwisata, desa di kaki Gunung Prau itu mengalami longsor besar. Kejadiannya tepat saat malam tahun baru atau Jumat (31/12/2021) sekitar pukul 20.45.

Sepanjang weekend seusai longsor, kabar tersebut belum banyak tersiar. Senin (3/1/2021) baru diketahui bahwa longsor yang terjadi sangat besar dari Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Batang Ulul Azmi. Luasannya mencapai 1 kilometer dengan material 1,7 juta meter kubik.

Bencana itu berjarak sekitar 700 meter dari pemukiman warga. Tepatnya di area perkebunan kentang. Longsor juga berhasil memutus akses jalan dan jembatan yang baru saja dibuat. Akses jalan beton itu dibangun swadaya oleh masyarakat setempat.

Mengetahui kabar itu, sekitar pukul 11.40, mencoba menghubungi Sekretaris Desa Pranten, Ela Nurlaila. Saya mendapatkan kiriman kontak dengan nama Bu Carik Pranten Cantik. Gambar dan informasi detail berhasil tergali. Hal itu memancing saya untuk menuju ke lokasi.

Meminjam mobil Diskominfo Batang, saya dan empat orang wartawan lain berangkat ke lokasi. Nekat, dengan celetukan ayo mangkat, langsung meluncur dengan mengendarai mobil Avanza biru tua 2008. Sementara medan yang akan dilewati menanjak dan berkelok-kelok. Jarak Desa Pranten dari pusat Kota Batang sekitar 56 kilometer atau 2 jam perjalanan. Rute terdekat melalui jalan Bawang-Banjarnegara. Tapi tidak berani melaluinya karena daerah rawan.

Akhirnya mengambil keputusan dengan melintasi jalur Bandar-Batur, memutar lewat Banjarnegara. Jaraknya sekitar 60 kilometer. Medannya sama-sama ekstrim namun lebih landai. Mobil berangkat sekitar pukul 14.00. Sampai di Kecamatan Wonotunggal, ada sedikit insiden. Gubrak, ban serep di bagian bawah belakang mobil terjatuh. Pengait ban terlepas dan tidak bisa dipasang kembali. Itu bikin deg-degan, beruntung tidak mengenai kendaraan lain di belakang. Ban serep kami ambil dan taruh di bagasi.

Baca juga:  Belajar Sistem Peredaran Darah Sulit? Prosotan Lebih Asyik

Perjalanan kembali dilanjutkan, medan yang berkelok, menanjak, dan sedikit padat, membuat kami lambat sampai tujuan. Terutama saat berada di Banjarnegara. Dari Banjarnegara akses ke Desa Pranten harus melalui satu jalur sempit di dekat pabrik pengolahan gas bumi Desa Karangtengah, Kecamatan Batur, Banjarnegara. Mobil tidak bisa berpapasan. Saat itu kami berpapasan dengan mobil Kijang biru tua dari arah Desa Pranten.

Sekitar pukul 16.30 kami baru sampai di lokasi. Kebetulan Sekdes Pranten yang kami andalkan untuk jadi narasumber tidak ada di rumah. Mobil kami saat itu terparkir di SDN 1 Pranten. Saya pun berinisiatif mendatangi rumah Kepala Desa Pranten bersama satu orang. Jaraknya sekitar 100 meter dengan jalan menanjak. Sesampainya di lokasi, nafas pun cukup terengah-engah. “Mas pak Kades ada di rumah,” tanya saya ke pemuda di sana.

Kades Pranten ternyata baru saja berangkat menuju Banjarnegara mengendarai mobil Kijang biru tua. Beberapa kali dihubungi melalui ponsel, Kades Pranten tak sekalipun menjawab. Sinyal di sana putus nyambung. Hari pun semakin petang.

Tak mau sia-sia tanpa hasil. Berbekal keterangan seorang perangkat desa, kami langsung menuju lokasi longsor. Ia baru saja pulang meninjau longsor, sudah tidak sanggup untuk ikut ke lokasi lagi.

Baca juga:  Tembok Rumah Retak, Lantai Ambles, Penghuni Ngungsi

Jalan menuju titik longsor kondisinya sangat parah. Bebatuan tajam dan licin mendominasi sepanjang perjalanan. Namun, longsor itu terjadi di jalan beton yang baru saja selesai dibangun. Rombongan sampai di lokasi pukul 17.10. Kami pun bergegas mengambil gambar. Saya terperangah, memandangi besarnya area longsor.

Gemercik air terdengar dari dasar longsoran yang telah membentuk daerah aliran sungai dengan kedalaman puluhan meter. Sementara tinggi material longsor yang menimbun dan melenyapkan jalan mencapai 5 meter. Tak ada satu orang pun di sana, hanya ada dua pemuda di seberang longsor.

Tak mau kehilangan momentum jelang senja, kami mengambil gambar dari berbagai sudut. Berjalan cepat, saya naik di atas material longsor. Puas mengambil gambar, saya mencari enggel lain dari atas batu besar di tepi jalan. Batunya hampir sebesar rumah. Di atas sana, area longsor terlihat lebih luas.

Insiden kecil kembali terjadi. Satu rekan saya, wartawan foto menerbangkan drone dari dekat. Baru beberapa detik mengudara, drone miliknya hilang kontak. Terjatuh dan terjun ke dalam jurang di area longsor. Beruntung drone tersebut masih bisa diselamatkan. Ia turun ke jurang dengan saling berpegangan tangan.

Belum puas mendapatkan gambar, kami melanjutkan penyusuran. Hanya bertiga kami menyisir bukit dan kebun kentang di sebelah kanan jalan. Ribuan kentang terlihat berserakan sepanjang mata memandang. Umbi tersebut seperti sudah layu terkena terik matahari dan guyuran hujan. Sekitar 300 meter kami mendaki lahan kentang itu, akhirnya puncak longsor terlihat.

Baca juga:  Bermegah – Megahan di Dunia hingga Maut Menjemput

Pucuk bukit terbelah, menyisakan satu bagian yang masuk wilayah Banjarnegara. Ada kepuasan tersendiri, bisa melihat langsung dan menceritakannya melalui tulisan. PR saya waktu itu, bagaimana bisa cepat menulis saat itu juga.

Pukul 17.45 kami memutuskan beranjak meninggalkan lokasi. Perjalanan pulang melintasi jalur berbeda. Jalur bebatuan atau kali mati sepanjang 3 kilometer sebelum sampai Tol Khayangan, Jalur Banjarnegara-Bawang. Suasana di dalam mobil seperti menaiki Jeep melintasi jalur offroad. Semua terguncang.

Dalam kondisi terpepet karena deadline, saya memaksakan diri mengetik berita dengan ponsel. Saya juga sudah memberi tahu kalau mengirim berita terlambat. Semua orang di dalam mobil tidak berani melihat ponselnya. Takut mabuk perjalanan.

Walau demikian, saya tetap memaksakan diri dengan kekuatan kepepet. Goncangan mobil seakan tak begitu berpengaruh. Begitu pula dengan suhu dingin pegunungan karena kaca mobil harus dibuka. Padahal biasanya saya lebih sering mabuk perjalanan saat di dalam mobil.

Berita selesai diketik pukul 18.10. Sinyal untuk mengirimkan email berita sangat lemah saat itu. Draft email hanya memberikan keterangan dalam antrean. Berita dan foto juga saya kirim ke nomor whatsApp redaktur. Berharap bisa terkirim saat ada sinyal. “Lega. Usai melintasi turunan tajam Krakalan sinyal berangsur membaik. Berita di email bisa terkirim pukul 18.40,” tandasnya.

Longsor di sana masih di pantau hingga saat ini. BPBD Kabupaten Batang menunggu mahkota longsor habis untuk bisa membersihkan material yang ada. Kondisinya sangat rawan, hingga tidak ada tindakan yang dilakukan sampai longsor susulan berhenti. (yan/ida)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya