alexametrics

Naik Kereta Semenit Rp 4.427

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Minggu kemarin mendadak ingin naik kereta (lagi). Yang harganya paling mahal. Kesampaian Sabtu, 22 Januari 2022. Jurusan Semarang – Surabaya. Tiketnya Rp 850 ribu. Perjalanan hanya 3 jam 12 menit. Berarti semenit Rp 4.427. Lebih mahal dibanding naik pesawat Jakarta – Surabaya.

Sejak pandemi melanda negeri ini saya tidak naik kereta. Disamping takut tertular virus korona, juga ribet. Lagi pula keretanya dibatasi. Banyak yang berhentii beroperasi. Perjalanan kereta baru mulai normal sejak 3 Januari 2022.

Saya pilih kereta yang paling mewah. Argo Anggrek Luxury Sleeper. Kebetulan jamnya cocok. Berangkat pukul 13.18. Setelah jam kantor. Bukan untuk menikmati fasilitas. Tetapi, lebih karena naluri.

Untuk ke stasiun saya naik ojek online. Mengenakan sandal jepit dan menenteng tas kresek. Kontras dengan penumpang lain. Seorang perempuan mengenakan celana model chinos warna khaki. Atasannya putih tipis. Hanya sampai atas pusar. Dua kopernya dibawakan tukang angkut.

Saya bukan orang zuhud. Yang tidak lagi menginginkan kenikmatan dunia. Juga bukan pengikut paham hedonisme. Yang mendewakan kesenangan materi. Bagi saya, kemewahan dan kesederhanaan itu beda tipis. Tergantung siapa yang merasakannya.

Saya sudah naik semua jenis kereta. Naik kelas super ekonomi yang tarifnya Rp 49 ribu juga enjoy-enjoy saja. Sebelum pandemi sering naik kereta Maharani. Sejenis Airlangga sekarang. Duduknya berhadapan. Harus beradu dengkul. Jepit-jepitan. Sandarannya tegak. Boyok harus kuat menahan nyeri.

Sebelum naik Argo Anggrek Luxury, saya naik kereta ekonomi Ambarawa Ekspres. Tepatnya 17 Januari 2022. Jurusan Surabaya – Semarang. Lama perjalanan 4 jam 16 menit. Lebih lama sejam empat menit dibanding Argo Anggrek. Tarifnya Rp 90 ribu. Itulah kali pertama saya naik kereta semasa pandemi Covid-19. Idep-idep orientasi. Khawatir ribet. Ada persyaratan rapid test antigen yang sampelnya diambil 1 x 24 jam sebelum keberangkatan.

Baca juga:  Golok-Golok Mentok untuk Hidup Lebih Antusias

Ternyata lancar-lancar saja. Di stasiun Pasar Turi Surabaya sudah disediakan tempat rapid test antigen. Malah dua. Di halaman dan ruang tunggu keberangkatan. Cukup menunjukkan kode booking kereta dan membayar Rp 35 ribu. Setelah itu, langsung disuruh duduk di kursi pengambilan sampel. Sembilan menit kemudian hasilnya keluar. Hasil itu ditunjukkan bersama tiket ketika mau masuk ke ruang tunggu.

Di Semarang hampir sama. Saya berangkat dari Stasiun Tawang. Bedanya, harus scan barcode. Kalau diisi kode booking langsung terhubung dengan data calon penumpang. Tidak perlu menunjukkan KTP maupun tiket. Beberapa orang saya lihat kebingungan. Mereka tidak memiliki aplikasinya. Untung saya punya naluri. Sebelum ke stasiun sudah download aplikasi dari Play Store.

Saat itu, suasana di stasiun cukup ramai. Untuk pengambilan sampel saya harus antre enam menit. Nama saya dipanggil ke bilik nomor 1 dari 5 bilik yang tersedia. Tujuh belas menit kemudian hasilnya keluar. Hasil tes bersama tiket itulah yang dipergunakan untuk naik kereta.
Begitu kereta datang dari arah Jakarta pukul 13.15 saya bergegas naik. Semula saya mengira gerbong kereta luxury berada paling depan. Tempat duduk saya nomor 2A juga menghadap ke depan. Ternyata sebaliknya.

Baca juga:  Gubernur Ganjar Pastikan Stadion Jatidiri Rampung Tahun Ini

Begitu duduk saya langsung memencet-mencet semua panel elektrik di samping tempat duduk. Ada tiga tombol untuk mengatur kursi semau gue. Mau kaki selonjor dengan sandaran lurus seperti kasur juga bisa. Atau mau setengahnya sambil menonton film. Layarnya pribadi persis di depan dengan jarak semeter. Tempat duduk itu sudah terprivatisasi. Tersekat. Terpisah dari penumpang lain. Masing-masing penumang tidak bisa ngobrol.

Di samping tempat duduk ada panel-panel pengatur musik dan lampu. “Bapak membutuhkan head set?” tanya pramugari. “Tidak,” jawab saya. Saya tidak ingin menonton TV, film, atau sekadar mendengarkan musik.
Keinginan saya hanya satu. Menulis. Tulisan yang Anda baca ini.

“Apa wifi-nya konek, Pak?” Tanya Ulin Nuha, redaktur pelaksana Radar Kudus, lewat WA. Pertanyaan wartawan cerdas. Saya kemudian mencobanya. Ternyata tidak bisa. Entah. Apa saya yang gaptek?

Ada meja makan seperti di pesawat VIP. Saya coba untuk membukanya. Sebelum bisa, pramugari sudah datang. “Boleh saya bukakan mejanya?” tanya awak kereta yang mengenakan kain batik panjang semata kaki dan baju model kebaya warna merah itu. Saya jawab dengan tersenyum.

Di benak saya akan banyak pilihan minuman seperti di pesawat. Teh, kopi, cola, orange jus, atau susu. Ternyata pramugari hanya menawari dua pilihan. “Mau tambah kopi atau teh?” tanyanya. Dua-duanya saya dilarang minum. Saya minta air putih.

Makannya sudah dipaket. Lauknya ayam goreng, abon, kering tempe, dan telor dadar. Nasinya berwarna kekuningan. Tetapi bukan nasi kebuli. Bukan pula nasi selamatan. Rasanya mirip nasi goreng. Tapi entahlah. Lidah saya sudah lama tak mengenali berbagai macam masakan. Dokter tak memberi banyak pilihan.
Saya dilarang makan makanan bersantan, daging warna merah, sayur warna hijau, segala macam sea food, bebakaran, goreng-gorengan, segala makanan berlemak, junk food, makanan yang diawetkan, kecut, dan pedas. Bahkan, kerupuk juga dilarang. Nasi pun dibatasi. Padahal, sudah disuruh menghindari roti dan mie. Minum demikian halnya. Tidak boleh teh, kopi, soda, es, jahe, dan minuman beralkohol. Larangan itu sering saya langgar. Hehehe.

Ada juga snack. Saya buka tutupnya yang bertulisan Kereta Luxury. Isinya, kacang atom, jeli, wafer kukis, dan minuman kotak rasa apel. Tapi, tidak saya sentuh. Ketika mau berangkat saja ada karyawan yang nganter tonjokan. Tiga kotak makanan ringan. Kelihatannya enak-enak. Tapi hanya saya icipi sepotong.

Baca juga:  Ribuan Jamu Palsu Dimusnahkan, Ada Produk Madu hingga Obat Kuat

Pramugari yang wira-wiri ke depan dan belakang juga menawari selimut. Saya bilang terima kasih. Penghangat badan itu pun ditaruh di rak bawah monitor. Tapi tidak saya pakai. Sepanjang perjalanan nyaris saya hanya duduk tegak menghadapi laptop. Sesekali melihat pengukur kecepatan di HP. Rata-rata 90 – 100 km/jam. Kereta hanya berhenti sekali di Bojonegoro.

Pukul 16.27 kereta tiba di stasiun Pasar Turi Surabaya. Tiga menit lebih cepat dari jadwal. Saya dijemput anak ragil dengan sepeda motor. Pulang menempuh perjalanan 17 km.

Begitulah. Naik ojek, kereta mewah, kemudian sepeda motor, yang berganti-ganti akan menambah rasa syukur. Itulah kenikmatan sejati. (*)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya