Oleh: Muhamat Sulkan
RADARSEMARANG.ID--Hampir tiga tahun telah berlalu sejak Kurikulum Merdeka diberlakukan. Namun, masih banyak guru yang menghadapi kesulitan mengimplementasikannya dalam pembelajaran di kelas. Hal itu berdampak kepada murid yang kurang semangat untuk mengikuti pelajaran.
Salah satu kendala yang dihadapi adalah belum tersedianya bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan capaian pembelajaran. Sesuai isi keputusan Kemendikbudristek Nomor 33 Tahun 2022, capaian Pembelajaran Bahasa Indonesia pada elemen menyimak, membaca, maupun menulis murid dituntut untuk mampu memahami, menganalisis, menginterpretasi, dan mengungkapkan gagasan dalam bentuk teks berbasis audio visual atau mutimodal. Sedangkan selama ini, bahan ajar yang digunakan di kelas masih berbentuk teks dengan gambar statis dan belum dilengkapi akses media audiovisual.
Kendala lain yang dihadapi guru adalah masih kesulitan dalam menerapkan model pembelajaran yang mendukung pembelajaran kontekstual, aktif, kreatif, dan kolaboratif sesuai dengan implementasi Kurikulum Merdeka. Model Project Based Learning (PjBL) adalah salah satu cara terbaik untuk mendorong murid untuk lebih memahami dan menulis teks deskripsi. Menurut Buck Institute for Education (BIE, 1999) dalam Al-Tabany (2017: 41), Projek Based Learning adalah model pembelajaran yang melibatkan murid dalam kegiatan pemecahan masalah dan memberi peluang murid bekerja secara otonom mengkontruksi belajar mereka sendiri, dan puncaknya menghasilkan produk karya murid bernilai realistik.
Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut diperlukan upaya pengembangan bahan ajar berbasis multimodal yang diitegrasikan dengan model Project Based Learning (PjBL). Untuk itu, penulis melakukan pengembangan bahan ajar tersebut yang telah diujicobakan terbatas di dua sekolah tingkat SLTP di Kabupaten Demak. Bahan ajar yang disusun berisi materi teks deksripsi yang dilengkapi teks berbasis multimodal sehingga dapat diakses dengan smartphone murid. Selain itu, bahan ajar dilengkapi kegitan murid yang diintegrasikan dengan model pembelajaran PjBL.
Pengembangan bahan ajar yang disusun juga memperhatikan pendekatan pembelajaran mendalam. Pembelajaran mendalam adalah proses belajar yang mendalam dan berkelanjutan yang memungkinkan murid untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk sukses di abad ke-21. Terdapat tiga aspek pembelajaran mendalam yang diintegrasikan dalam bahan ajar, yaitu Mindfull, Meaningfull, dan Joyful.
Bahan ajar diintegrasaikan dengan model pembelajaran berbasis proyek yang terdapat dalam lembar kerja murid. Hal itu dimaksudkan untuk memenuhi aspek Mindful dalam pembelajaran mendalam. Dengan menerapkan model pembelajarn PjBL dimaksudkan mampu mengajak murid benar-benar secara sadar aktif dan terlibat dalam proses pembelajaran.
Bahan ajar juga berisi teks dekskripsi yang menggambarkan ojek di sekitar murid yaitu tentang keindahan Pantai Glagahwangi, Masjid Agung Demak, dan Kerupuk Bakar. Hal itu dimaksudkan untuk memenuhi aspek Meaningful dalam pembelajaran mendalam dengan menghadirkan objek yang konkret dan kontekstual.
Selain itu, bahan ajar juga dilengkapi dengan teks multimodal yang bisa diakses dengan smartphone murid. Hal itu dimaksudkan untuk memenuhi aspek Joyful Learning dalam pembelajaran mendalam dengan menghadirkan media audiovisual yang mengikuti perkembangan teknologi abad 21. Media audio visual diharapkan mampu meningkatkan susana menyenangkan dalam proses pembelajaran di kelas.
Integrasi elemen multimodal dan model PjBL terbukti mampu meningkatkan efektivitas bahan ajar dalam mengembangkan kemampuan murid untuk menulis teks deskripsi. Bahan ajar yang dikembangkan dapat membuat pembelajaran lebih menarik, kontekstual, interaktif, dan menyenangkan, sehingga mampu meningkatkan motivasi minat belajar murid. (*/aro)
Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UPGRIS, Guru Bahasa Indonesia MTs Sholihiyyah Kalitengah Mranggen Demak
Editor : H. Arif Riyanto