UBUR-ubur atau medusa termasuk dalam kelas Scyphozoa filum Cnidaria.
Scyphozoa memiliki sekitar 200 spesies dari 66 marga, 20 suku dan 4 bangsa yang tersebar di perairan dunia.
Pergerakan ubur-ubur sangat dipengaruhi oleh arus air, maka digolongkan sebagai zooplankton.
Secara umum bentuk tubuhnya menyerupai payung (umbrella) atau lonceng (bell), transparan atau berwarna, dengan sisi cembung di bagian atas dan mulut di tengah sisi cekung bagian bawah.
Sepanjang tepi payung dilengkapi dengan tentakel dan organ indera berjumlah empat atau kelipatannya dengan susunan yang simetris terhadap sumbu tubuh dan beberapa memiliki tonjolan melengkung (lappet).
Sedangkan ’lengan-mulut’ (oral arms) terletak di bagian tengah payung.
Tentakel dilengkapi dengan sel penyengat (nematosis).
Nematosis merupakan struktur intraseluler paling besar dan kompleks yang berfungsi untuk menangkap mangsa, mempertahankan diri dan membantu pergerakan. Nematosis memiliki jenis racun yang beragam, namun yang paling sering ditemui adalah neurotoksin.
Meskipun ubur-ubur konsumsi tidak sepopuler hewan laut lainnya seperti ikan, cumi dan udang, namun memiliki manfaat positif karena mengandung berbagai nutrisi penting yang berguna bagi manusia.
Sebagian besar tubuh ubur-ubur terdiri dari air dan protein, dan tidak mengandung kolesterol atau lemak, kandungan gulanya pun rendah.
Selain itu, ubur-ubur disinyalir dapat mengobati batuk berdahak, asma, radang, demensia, diabetes dan mencegah penyakit kardiovaskular.
Ubur-Ubur Konsumsi
Di antara 200 spesies ubur-ubur Scyphozoa, hanya spesies dari famili Rhizostomatidae dan Catostylidae saja yang dapat dimakan (edible jellyfish).
Bangsa China telah memanfaatkan ubur-ubur sebagai bahan makanan sejak ribuan tahun silam yang kemudian diikuti oleh Jepang, Taiwan, Hongkong, dan beberapa negara di Asia Tenggara, seperti Singapura dan Malaysia.
Di China, Taiwan dan Jepang ubur-ubur asin (salted jellyfish) merupakan makanan populer dengan nama sui mae, sen blubber, dan kurage.
Vietnam telah mengeksploitasi secara komersial jenis ubur-ubur konsumsi sejak tahun 1900-an.
Di Than Hoa, bagian utara Vietnam, pemanenan ubur-ubur Rhopilema hispidum dan R. esculentum dilakukan setiap bulan April-Mei.
Setiap musimnya dapat dipanen sekitar 800.000-1.200.000 individu.
Dalam satu dasawarsa (1995-2005) ekspor ubur-ubur konsumsi Vietnam meningkat hingga tiga kali lipat, dari 1.500 ton menjadi 4.600 ton.
Malaysia hanya menangkap ubur-ubur Acromitus hardenbergi yang berukuran kecil untuk diperdagangkan.
Di Indonesia sendiri hanya tinggal dua lokasi pemanenan ubur-ubur konsumsi yang masih berjalan, yaitu Cilacap dan Teluk Saleh, Sumbawa.
Nelayan di Cilacap memanen ubur-ubur Crambionella helmbiru (200 ton per hari), sedangkan Teluk Saleh memanen Crambione sp. (100 ton per hari).
Biasanya pemanenan dilakukan pada bulan September-November, bahkan kadangkala hingga akhir Desember.
Dalam lima tahun terakhir, ubur-ubur ini muncul di perairan Cilacap pada 2019 dengan jumlah ekspor 1.000.000 ton, dan muncul lagi pada 2023 dengan jumlah tangkapan 200 ton/hari.
Panen ubur-ubur yang tinggi juga terjadi di wilayah Jetis yang dapat mencapai 150-200 ton/hari.
Sedangkan di Dermaga Pelabuhan Perikanan Cilacap (PPSC) hasil tangkapan ubur ubur mencapai 60-70 ton/hari.
Ekspor salted jellyfish dari Indonesia pada tahun 2000-2004 mencapai 34.997.156 kg yang setara dengan 39.469.269 USD.
Sekali melaut para nelayan bisa mendapatkan Rp 800 ribu hingga Rp 2 juta.
Biasanya setiap perahu nelayan dapat memanen ubur-ubur hingga 1,5 ton dengan harga jual Rp 900/kg.
Daerah Tangkapan
Daerah penangkapan ubur-ubur konsumsi Crambionella helmbiru di Cilacap meliputi pantai sepanjang 43,75 km dari Tegal Kamulyan hingga Jetis, terutama di dekat tiga muara sungai utama, yaitu Serayu, Sungai Bengawan, dan Sungai Ijo.
Bahkan akhir-akhir ini lokasi penangkapan ubur-ubur konsumsi meluas hingga pantai Karangbolong dan Petanahan, Kebumen.
Ubur-ubur konsumsi di pantai selatan Cilacap biasanya muncul dengan jumlah melimpah pada musim angin timur dan cuaca dingin yang tidak disertai hujan.
Hasil tangkapan ubur ubur pada tahun 2019 mencapai 900 ton, namun pada 2020-2022 terjadi penurunan yang drastis akibat seringnya terjadi hujan akibat fenomena La Nina.
Bila hujan, populasi ubur-ubur akan menghilang dan tidak muncul di permukaan air.
Nelayan di Cilacap umumnya memakai jukung dan compreng untuk menangkap ubur-ubur.
Jukung terbuat dari fiberglass, dengan ukuran panjang 8,20 m, lebar 1,5 m, dan tinggi 1,5 m, menggunakan mesin 15 HP dengan kapasitas bahan bakar 15 liter.
Perahu yang lebih besar disebut compreng yang terbuat dari kayu dengan panjang 14 m, lebar 3,5 m dan tinggi 2 m dengan mesin 24 HP dan kapasitas bahan bakar 50 liter.
Jenis alat tangkap yang umum digunakan untuk memanen ubur-ubur adalah drift nets dan hand nets diameter 50 cm dengan mata jala 5 inchi untuk keduanya.
Tiga jenis alat tangkap ubur-ubur lain yang biasa digunakan di beberapa daerah adalah push nets (scoop nets), beach seines, dan weirs.
Jukung yang dioperasikan dua nelayan mampu memuat ubur-ubur sebanyak 1-1,5 ton, sedangkan compreng yang dioperasikan lima nelayan dapat memuat hingga 5 ton.
Biasanya nelayan melaut hingga dua kali dalam sehari dengan hasil 2-4 ton.
Pada masa lalu seorang pengepul dapat membeli ubur-ubur dari nelayan sebanyak 50 ton.
Namun sekarang hanya mampu mengumpulkan 20-30 ton saja dengan harga Rp 900/kg.
Kemudian dijual ke gudang (penampungan) dengan harga Rp 1000/kg sudah termasuk upah tenaga kerja dan transportasi.
Setelah melalui berbagai proses pengeringan, ubur-ubur tersebut dikirim ke eksportir di Jakarta untuk diekspor ke sejumlah negara di kawasan Asia Timur, seperti China dan Jepang, bahkan negara tetangga, seperti Singapura dan Malaysia guna diolah menjadi bahan makanan maupun kosmetik.
Ekspor ubur-ubur konsumsi ke Malaysia pada 2022 dari perbatasan Kalimantan mencapai 9,6 ton atau senilai Rp 5,9 miliar.
Musim Panen dan Spesies Target
Hanya satu jenis ubur-ubur yang dipanen di pantai selatan Cilacap, yaitu Crambionella helmbiru yang dideskripsi sebagai jenis baru pada tahun 2014 oleh tim dari LIPI (sekarang BRIN) dan Jepang.
Jenis ubur-ubur ini memiliki payung yang relatif besar, bundar dan tebal dengan berat 1,5-2 kg per individu.
Kisaran diameter payung adalah 17,5 cm, dengan beberapa individu dapat mencapai lebih dari 25 cm.
Profesor Makoto Omori menyebut tipe ini sebagai tipe Cilacap bluish karena payung dan lengan mulut dari spesimen yang segar berwarna agak kebiruan.
Menurut pengamatan kami terdapat tiga variasi pada tepian payungnya, yaitu tipe 1 atau polos (tanpa corak dan ornamen), tipe 2 atau titik merah (red spots) di mana terdapat satu titik merah pada setiap ujung sumbu tubuh, setidaknya terdapat total delapan titik, dan tipe 3 atau pita merah (red bands), adanya dua titik merah terletak di setiap lappet, berderet sangat rapat, membentuk dua lingkaran pita merah pada tepi payung.
Musim ubur-ubur konsumsi Crambionella helmbiru di Cilacap bervariasi setiap tahunnya, umumnya sekitar bulan Agustus sampai November pada saat angin timur yang dingin.
Blooming ubur-ubur pernah terjadi pada tahun 1989.
Panen ubur-ubur pada 2003 terjadi di bulan Agustus, pada 2004 di bulan November, dan pada 2006 di bulan Oktober.
Sedangkan pada 2008-2010 terjadi antara bulan September-Oktober.
Kemudian menghilang dan muncul lagi pada 2019.
Variasi musim penangkapan ini erat kaitannya dengan daur hidup Crambionella yang memiliki beberapa fase perkembangan.
Hanya pada fase medusa (dewasa) ubur-ubur ini memiliki ukuran besar dan bobot berat (1,5-2 kg per individu) yang dapat diproses menjadi bahan makanan.
Crambionella helmbiru adalah biota perairan laut terbuka (oseanik), namun pada musim ubur-ubur mereka terseret oleh ombak yang kuat ke arah pantai selatan Cilacap.
Pada awal musim hujan (Agustus-Oktober), kadangkala hingga November, terjadi peningkatan masukan air tawar yang bersih dan kaya akan nutrisi untuk plankton krustasea yang menjadi pakan utama dari Crambionella.
Inilah alasan mengapa para nelayan menangkap ubur-ubur ini di perairan dekat muara sungai.
Biasanya musim ubur-ubur berlangsung selama 40 hari, kadangkala sangat pendek, hanya dua minggu, kemudian menghilang, dan muncul kembali beberapa minggu kemudian.
Hal ini terjadi pada 2009, Crambionella muncul pertama kali pada minggu ketiga bulan September, dua minggu kemudian menghilang, namun muncul kembali lima minggu kemudian (pertengahan November). Bahkan pada 2011-2018 tidak terjadi panen, ubur-ubur raib dari perairan.
Keuntungan yang Diperoleh
Pada musim panen ubur-ubur, nelayan melaut dari jam 7 sampai 10.
Bahkan pada saat musim puncak, mereka dapat melaut hingga dua kali sehari, dari pagi hingga sore.
Hasil tangkapan berkisar antara 300-500 kg/perahu/hari atau lebih tinggi lagi pada saat puncak panen.
Setelah kembali ke darat, mereka langsung menjual hasil tangkapannya ke pengepul yang menunggu di tepi pantai.
Setidaknya terdapat 50 pengepul di Cilacap.
Transaksi jual-beli berlangsung setelah harga disepakati, pengepul menyuruh pekerjanya untuk mengangkut ubur-ubur dari perahu untuk ditimbang.
Kisaran harga setiap kilogram ubur-ubur basah dari nelayan adalah Rp 900-Rp 1.000.
Setelah itu, para pekerja mengumpulkan ubur-ubur ke dalam tobong kayu atau bambu yang dilapisi plastik tebal (3 m x 1,6 m x 0,6 m).
Selanjutnya ubur-ubur ini dimasukkan ke dalam gentong-gentong plastik untuk diangkut dengan mobil boks ke gudang (penampungan) untuk pengolahan selanjutnya.
Bagi Hasil
Pembagian hasil untuk nelayan yang melaut porsinya adalah bagi rata.
Misalnya, sebuah jukung yang dioperasikan oleh dua nelayan dengan bahan bakar 15 liter sekali jalan akan mendapatkan 500 kg ubur-ubur.
Jika harga ubur-ubur Rp 1.000/kg akan diperoleh Rp 500.000.
Keuntungan bersih nelayan, setelah dikurangi biaya bahan bakar (15 x Rp 6.500 = Rp 97.500) adalah Rp 201.250/orang/hari.
Sedangkan compreng yang dioperasikan oleh lima orang dengan 50 liter bahan bakar akan mendapatkan 1.500 kg ubur-ubur.
Dengan harga yang sama akan didapatkan Rp 1.500.000. Setelah dikurangi biaya bahan bakar (50 x Rp 6.500 = Rp 325.000), maka setiap orang mendapatkan Rp 235.000/hari.
Penghasilan nelayan akan berkurang lagi apabila jukung atau compreng yang digunakan adalah sewaan dari juragan.
Sehingga mereka harus membayar uang sewa.
Pemilik perahu kadangkala juga turut serta dalam penangkapan ubur-ubur, sehingga ia mendapatkan penghasilan dua kali yaitu sebagai pemilik dan sebagai nelayan.
Sementara para tengkulak dan pabrik pengolahan akan memperoleh keuntungan yang tentunya jauh lebih besar.
Berikut analisis sederhana untuk menggambarkan keuntungan mereka.
Tengkulak yang juga memiliki pabrik pengolahan dapat membeli 50 ton ubur-ubur basah dalam setiap musimnya, sehingga diperlukan modal sebesar Rp 52 juta.
Jika ia mempekerjakan 15 orang untuk memproses ubur-ubur dengan tiga macam pekerjaan (setiap macam pekerjaan dilakukan oleh lima orang) dengan waktu kerja yang berbeda, perhitungan pengeluaran untuk satu kali proses adalah sebagai berikut:
Tukang langsir, bekerja selama lima hari dengan upah harian Rp 14.000 akan mendapatkan Rp 70.000 atau Rp 350.000 untuk lima orang.
Tukang potong, bekerja selama 10 hari dengan upah harian Rp 15.000 akan mendapatkan Rp 150.000 atau Rp 750.000 untuk lima orang.
Tukang ngasin, bekerja selama 20 hari dengan upah harian Rp 16.000 akan mendapatkan Rp 320.000 atau Rp 1.600.000 untuk lima orang.
Dengan demikian pemilik pabrik pemrosesan harus menyediakan dana sebesar Rp 52.750.000 untuk membayar upah para pekerja dalam satu musim yang bisa terdiri atas puluhan kali proses.
Jika diasumsikan bahwa 1 kg ubur-ubur dapat menghasilkan 0,2 kg berat semi-kering, maka dari 50.000 kg berat basah akan dihasilkan 10.000 kg berat semi-kering. Lalu, jika payung dan lengan mulut proporsinya dianggap sama, namun dengan harga yang berbeda, maka akan dihasilkan 5.000 x Rp 13.000 = Rp 65.000.000 untuk tubuh saja.
Sedangkan untuk ubur-ubur yang lengkap dengan payung dan lengan mulut 5.000 x Rp 20.000 = Rp 100.000.000.
Keuntungan yang diperoleh adalah Rp 112.250.000 (total penjualan Rp 165 juta dikurangi modal Rp 52.750.000).
Analisis ini tidak sepenuhnya benar, karena setidaknya ada dua komponen lagi yang harus ikut diperhitungkan, yaitu biaya untuk zat kimia dan garam dapur yang digunakan selama pemrosesan, serta proporsi antara payung dan lengan mulut yang mungkin kurang akurat. (*/web)
Mulyadi, Conni M. Sidabalok, dan Nova Mujiono
Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Editor : H. Arif Riyanto