Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pendidikan dan Ijazah: Antara Pengetahuan, Keterampilan, dan Pengesahan Resmi

R
Penulis: Radar Semarang❯
Dr. Mulyanto, Ketua Program Studi (Kaprodi) Magister Manajemen (S2) Universitas Muria Kudus
Dr. Mulyanto, Ketua Program Studi (Kaprodi) Magister Manajemen (S2) Universitas Muria Kudus

Advertisement

Oleh: Dr. Mulyanto

RADARSEMARANG.ID--Pendidikan berfungsi sebagai salah satu alat utama dalam membangun peradaban suatu bangsa. Melalui proses pendidikan, individu tidak hanya memperoleh wawasan, tetapi juga membangun karakter, mengembangkan keterampilan, memperkuat etika, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.

Pendidikan seharusnya menjadi sarana bagi individu untuk memahami kehidupan sekaligus memberikan kontribusi terhadap kemajuan masyarakat. Namun, dalam kenyataan sosial, ada sebuah pertanyaan yang perlu dipikirkan: apakah masyarakat kita masih memandang pendidikan sebagai proses pembentukan karakter seseorang, atau justru semakin menilai ijazah sebagai tujuan utama dari pendidikan?

Advertisement

Pertanyaan ini bukan hanya sekadar masalah administratif dalam dunia pendidikan. Lebih dalam, pertanyaan tersebut menyentuh esensi pendidikan itu sendiri. Ketika ijazah dipandang lebih berharga daripada pengetahuan, gelar akademis lebih dianggap penting daripada kompetensi, dan tingkat pendidikan lebih menentukan pengakuan sosial daripada integritas individu, kita perlu merefleksikan kembali makna sejati dari pendidikan.

Ijazah secara fundamental adalah dokumen resmi yang menandakan bahwa individu telah menyelesaikan tingkat pendidikan atau memenuhi kriteria akademis tertentu. Dalam urusan administrasi, ijazah memiliki peran yang signifikan. Ijazah bisa dimanfaatkan sebagai syarat untuk mengajukan permohonan kerja, melanjutkan pendidikan, berpartisipasi dalam seleksi jabatan, atau mematuhi ketentuan profesi tertentu.

Oleh karena itu, adalah keliru jika ijazah dianggap tidak penting. Masalahnya bukan pada adanya ijazah, tetapi pada bagaimana kita menafsirkannya dan memanfaatkannya. Ijazah seharusnya menjadi tanda bahwa seseorang telah menjalani pendidikan, bukan satu-satunya indikator kecerdasan, kemampuan, dan kualitas individu

Advertisement

Bukan Hanya Menghimpun Gelar

Salah satu tantangan dalam pendidikan kontemporer adalah kecenderungan untuk menilai keberhasilan berdasarkan hasil yang tampak jelas, seperti nilai, gelar, sertifikat, dan ijazah. Ukuran tersebut memang diperlukan dalam sistem pendidikan, tetapi tidak memadai untuk mencerminkan keseluruhan kualitas individu. Pendidikan yang berkualitas seharusnya menghasilkan individu yang mampu berpikir rasional, mengambil keputusan yang bertanggung jawab, beradaptasi dengan perubahan, dan memberikan kontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.

Di dunia pekerjaan, misalnya, gelar pendidikan bisa menjadi dasar untuk menilai kualifikasi awal seseorang. Namun, sukses dalam melaksanakan tugas juga tergantung pada keahlian, pengalaman, etos kerja, kemampuan komunikasi, kreativitas, dan integritas.

Hal yang sama berlaku dalam sektor pemerintahan dan kepemimpinan. Pendidikan formal mampu memperluas pengetahuan dan meningkatkan kemampuan analisis. Akan tetapi, gelar akademis tidak secara otomatis menjamin kebijaksanaan, kejujuran, atau keberpihakan terhadap kepentingan publik

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar SemarangIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Mahasiswa PPG UMK Dorong Warga Bersih, Sehat, dan Kreatif melalui Buku PHBS dan Pemanfaatan Limbah

Mahasiswa PPG UMK Dorong Warga Bersih, Sehat, dan Kreatif melalui Buku PHBS dan Pemanfaatan Limbah

Mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muria Kudus (UMK) sukses melaksanakan projek kepemimpinan yang mengusung tema “Dari Peduli Menjadi Kreasi: Mendorong Masyarakat Bersih, Sehat, dan Kreatif.”

Dosen MPD dan PGSD UMK Aktualisasikan Kompetensi Digital Bagi Para Guru SD di Kabupaten Jepara

Dosen MPD dan PGSD UMK Aktualisasikan Kompetensi Digital Bagi Para Guru SD di Kabupaten Jepara

Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) membuka peluang bagi guru untuk mengembangkan pembelajaran.

Pascasarjana Universitas Muria Kudus Resmikan Pusat Kajian AI Berbasis Budaya Lokal

Pascasarjana Universitas Muria Kudus Resmikan Pusat Kajian AI Berbasis Budaya Lokal

Program Pascasarjana Universitas Muria Kudus (UMK) meluncurkan Pusat Kajian Artificial Intelligence (AI) dalam rangkaian acara Pelepasan Calon Wisudawan dan Wisudawati Program Pascasarjana Periode Oktober 2026.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer