alexametrics

Membentuk Karakter dengan Penerapan Budaya 5S

Artikel Lain

Oleh: Ari Asriyati Rufaida, S.Pd

RADARSEMARANG.ID – Dalam perjalanan hidup seseorang atau siswa pasti dalam perjalanan selalu berbeda beda walaupun kadan ada sedikit yang menyerupai.dimasa sekarang lambat laun budaya karakter mulai terkikis oleh laju pesatnya perkembangan teknologi, Indonesia dulu terkenal dengan keramahtamahannya, sopan santunnya, kegotongroyongan dan kekeluargaannya kini mulai pudar.

Yang ada adalah kepentingan pribadi dan kelompoknya yang sangat menonjol. Hal ini disebakan oleh generasi muda sekarang dari awal karakter sikap, mental sudah terkikis dengan teknologi, sebab lain adalah kurangnya pengawasan dari orang tua,karena orang tua mempunyai peranan penting dalam membentuk karakter bagi anak anaknya tetapi kini peran orang tua sedikit tidak ada karena adanya tuntutan ekonomi.

Sejak pagi orang tua sudah harus berangkat kerja atau ke sawah sorenya baru pulang hal inilah yang membuat perilaku anak sulit terkontrol apalgi sekarang lagi berkembang game online semakin membuat mental dan sikap anak sulit untuk dikendalikan. Oleh karena itu Pembentukan Karakter seharusnya sudah terbentuk mulai diusia dini sehingga akan dapat diketahui seperti apa nantikanya anak yang baru tumbuh kembang akan menjalani kehidupannya.

Baca juga:  Mendorong Percepatan Zakat dan Insentif Pajak di Pandemi Covid-19

Oleh karena itu penanaman budaya karakter sangat penting dimasa sekarang ini ,tidak ada kata terlambat sebelum melakukan usaha menuju ke prubahan karakter anak.

Di sekolah peran Guru sangatlah penting dalam menumbuhkembangkan dan memberikan pengertian kepada anak anak betapa pentingnya karakter harus terbentuk, karena dalam sekolah fungsi dari pendidikan budaya karakter adalah untuk membentuk karakter seorang peserta didik sehingga menjadi pribadi yang bermoral, berakhlak mulia, bertoleran, tangguh, dan berperilaku baik.

Adapun beberapa fungsi pendidikan karakter adalah sebagai berikut; Untuk mengembangkan potensi dasar dalam diri manusia sehingga menjadi individu yang berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik. Untuk membangun dan memperkuat perilaku masyarakat yang multikultur. Untuk membangun dan meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam hubungan internasional.

Character education seharusnya dilakukan sejak dini, yaitu sejak masa kanak-kanak. Pendidikan ini bisa dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan, serta memanfaatkan berbagai media belajar.

Disamping fungsi dari pendidikan karaklter juga bertujuan tujuan utama pendidikan karakter adalah untuk membangun bangsa yang tangguh, dimana masyarakatnya berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, dan bergotong-royong.Untuk mencapai tujuan tersebut maka di dalam diri peserta didik harus ditanamkan nilai-nilai pembentuk karakter yang bersumber dari Agama, Pancasila, dan Budaya.

Baca juga:  Analisis Fenomena Mundurnya Generasi Milenial dan Generasi Z dari Kursi CPNS

Berikut adalah nilai-nilai pembentuk karakter tersebut: kejujuran, sikap toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, kemandirian, sikap demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, sikap bersahabat, cinta damai, gemar membaca, peduli terhadap lingkungan, peduli sosial, rasa tanggungjawab, religius.

Nah melihat dari fungsi dan tujuan diatas sepantasnyalah sebagai pendidik kita harus selalu memberi pengarahan terhadap anak anak agar memahami seberapa penting pendidikan karakter bagi perkembangan sikap dan perilaku anak anak.dengan membudayakan sikap 5S. Salam, diharapkan setiap siswa jika bertemu dengan bapak ibu guru, teman dan warga masyarakat selalu ucapkanlah salam. Senyum, tersenyumlah dalam keadaan suka maupun dalam keadaan tidak suka karena dengan senyum dapat mengubah perilaku siswa menuju ke suasana bathin yang tidak pendendam.

Kemudian Sapa, selalu budayakan menyapa terlebih dahulu walaupun kenal maupun tidak kenal hal ini akan menumbuhkan rasa persaudaraan yang baik beperilakulah dengan sopan dan santun jangan sombong, angkuh dan cuek dengan sesama karena dengan sopan santun dapat menumbuhkan rasa impati dan simpati.

Baca juga:  Guru Menjadi Tokoh Sentral dan Kesayangan

Kita mengerti betapa sulitnya kita membangun budaya pendidikan karakter setelah 2 tahun tidak ada pembelajaran tatap muka dengan anak anak namun usaha yang harus kita lakukan adalah sekolah harus memiliki nilai-nilai yang dianut dan disampaikan kepada seluruh pemegang kebijakan sekolah melalui berbagai media.

Pengajar, tenaga kependidikan, dan semua civitas sekolah termasuk tenaga kebersihan dan keamanan mendiskusikan nilai-nilai yang karakter sekolah sebagai nilai yang benar. Pengajar dan peserta didik menanamkan dan mengembangkan nilai-nilai karakter yang dianut di kelas masing-masing. Memberikan dilema-dilema dalam mengerjakan suatu nilai, misalnya tentang kejujuran.

Pembiasaan penerapan nilai di setiap kesempatan. Semua warga sekolah harus mendiskusikan masalah yang terjadi apabila ada pelanggaran dengan sebijak mungkin. Menjalin hubungan yang baik antara pihak sekolah dan wali murid. (*/bas)

Guru SMK N 1 Karangawen

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya