RADARSEMARANG.ID - Momen libur panjang Hari Raya Waisak 2025 benar-benar dimanfaatkan masyarakat untuk berpetualang.
Salah satu destinasi yang paling diburu di long weekend ini adalah Gunung Prau, Kabupaten Wonosobo Jawa Tengah.
Namun, antusiasme yang begitu tinggi berujung pada pemandangan yang "fantastis" di jalur pendakian favorit.
Gunung Prau dilaporkan diserbu pendaki selama long weekend pekan ini. Imbasnya terasa langsung, terutama di jalur klasik via Patakbanteng, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo.
Pada hari ini, Minggu, 11 Mei 2025, jalur tersebut diketahui mengalami kepadatan pendaki yang luar biasa, padat merayap.
Konfirmasi visual datang juga dari media sosial. Sebuah unggahan di platform X oleh @Jateng_Twit menunjukkan kondisi Pos 1 Pendakian Gunung Prau via Patakbanteng yang sudah dipenuhi pendaki.
Foto dan video yang beredar di kalangan warganet juga menampilkan antrean padat pendaki. Pemandangannya seolah menjadi lautan manusia tengah bergerak perlahan menuju puncak.
Namun demikian, suara sorakan tawa pendaki yang terdengar mengisi udara, hingga menciptakan suasana hangat di alam.
Libur panjang ini tampak menjadi kesempatan bagi pendaki untuk melepaskan diri dari rutinitas dan menikmati ketenangan di puncak gunung.
Sejumlah pengguna TikTok dan Instagram melaporkan bahwa jalur yang sempit mengalami kemacetan parah, dengan antrean para pendaki yang terlihat seperti 'ular tanpa ujung'.
Seorang pengguna dengan akun akun @idz***k_ memaparkan, "Sudah terjebak di jalan raya, di jalur pendakian juga mengalami kemacetan”.
Lebih lanjut, Gunung Prau dikenal memiliki jalur relatif bersahabat bagi pemula dengan bonus pemandangan "golden sunrise" yang ikonik di puncaknya.
Akses yang tidak terlalu sulit dari kota-kota besar juga menjadikannya pilihan utama saat ada waktu libur panjang.
Kondisi ini membuat Patakbanteng, sebagai salah satu pintu masuk utama menanggung beban volume pendaki yang sangat besar.
Bahkan, nyaris membuat aktivitas pendakian Gunung Prau di jalur tersebut "lumpuh" saking padatnya.
Situasi ini tentu menuntut kesabaran ekstra dan kesadaran kolektif para pendaki untuk menjaga kelancaran antrean dan keselamatan bersama.
Editor : Baskoro Septiadi