Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Ruwat Rambut Gimbal, Tradisi Pembangkit Wisata Jawa Tengah

Sigit Rahmanto • Rabu, 3 Juli 2024 | 16:48 WIB
Prosesi upacara ruwatan cukur rambut gimbal yang dilakukan bupati Wonosobo dan Wakilnya Muhammad Albar saat berada di TMII.
Prosesi upacara ruwatan cukur rambut gimbal yang dilakukan bupati Wonosobo dan Wakilnya Muhammad Albar saat berada di TMII.

RADARSEMARANG.ID, Wonosobo - Jawa Tengah merupakan daerah dengan tradisi yang beragam. Dibalik semua itu, ternyata keunikan tradisi tersebut mampu menjadi salah satu mendongkrak sektor pariwisata.

Di Wonosobo  ada tradisi ruwat rambut gimbal Dieng yang masih tetap lestari. Setiap event besar, biasanya prosesi ruwat rambut gimbal akan selalu diikutsertakan. Menjadi magnet tersendiri untuk mendatangkan wisatawan di Jateng.

Setiap HUT Wonosobo, tradisi prosesi ruwat rambut gimbal selalu menjadi hal yang menarik. Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Agus Wibowo menjelaskan jika beberapa tempat di kawasan Dieng telah mentradisikan ruwat rambut gimbal ini sejak lama.

“Prosesi ruwat rambut gimbal selalu diadakan setiap tahun. Ini menjadi salah satu magnet bagi wisatawan,” ujarnya.

Agus menambahkan, hampir setiap tahun juga pasti ada anak yang memiliki rambut gimbal. Generasi ini terus tumbuh dari keluarga satu ke keluarga lainnya.

"Tumbuhnya rambut gimbal pada anak itu tidak bisa dipilih. Jadi seolah-olah rambut gimbal ini yang akan memilih jatuhnya ke siapa," katanya.

Untuk itu, tradisi ruwat cukur rambut gimbal untuk membebaskan seseorang yang diruwat dari hukuman atau kutukan yang membawa bahaya. Dalam konteks ruwat gimbal maka tradisi ini ingin menghilangkan rambut gembel agar si anak memiliki rambut yang normal.

Selain itu, anak yang telah diruwat dengan cara dicukur rambutnya diharapkan bisa memperoleh keberkahan dan kesehatan. Ruwatan ini telah menjadi  legenda yang terus hidup di bumi Kahyangan Dieng.

Ia telah menjadi kepercayaan bagi warga setempat bahwa anak yang berambut gembel ini merupakan keturunan orang pertama yang hidup di dataran tinggi Dieng yaitu Tumenggung Kyai Kolodete. 

“Rambut gembel ini tumbuh secara alami pada anak-anak. Biasanya rambut ini muncul pertama kali disertai demam tinggi dan mengigau saat tidur," ujarnya.

Gejala ini baru berhenti sendiri tatkala rambut sang anak menjadi kusut dan menyatu antara yang satu dengan lainnya.

Rambut itu biasanya akan terus menggimbal sebelum tumbuhnya kesadaran dari anak untuk mencukurnya. Biasanya dalam setiap prosesi ruwatan, sang anak akan dimintai tentang apa keinginannya.

"Setiap keinginannya berbeda-beda. Ada yang permintaannya sederhana dan lucu, tapi juga ada permintaan yang cukup berat bagi orang tua untuk mengabulkannya,” lanjutnya.

Dalam ritual pemotongan rambut gimbal menggunakan dua metode berbeda. Di beberapa desa ruwatan menggunakan model akulturasi agama Islam.

Dengan menggabungkan tradisi jawa dengan tumpeng robyong yang nantinya dimakan bersama.

Kemudian ada iringan salawat jawan atau rebana, pengajian dan do'a - doa tolak bala dikumandangkan saat prosesi cukur rambut gembel di Telaga Cebong, Sembungan.

Sementara di beberapa tempat ada yang hanya menggunakan tradisi jawa murni. Dengan prosescukup panjang.

Tapi itu berjalan sesuai khasanah masing-masing tempat. Saking pentingnya tradisi ini, tradisi ini telah dipatenkan dan berstatus menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) yang dimiliki Kabupaten Wonosobo.

Bersamaan dengan beberapa tradisi lain, seperti tari topeng lengger, hak-hakan kalioso, kesenian bundengan dan wayang othok obrol.

“Jadi dalam momentum event tertentu, ruwat rambut gimbal selalu diikutsertakan. Selain untuk mensakralkan acara itu juga untuk menarik para wisatawan yang berkunjung ke Wonosobo,” tambahnya. (git/fth)

 

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#rambut gimbal #Disporapar Jateng