RADARSEMARANG.ID, Wonosobo – Sebanyak 177 atlet dalam negeri dan 1 orang Swiss mengikuti Wonosobo International Paragliding Competition 2023 di Bukit Kekep, Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo.
Ketua Provinsi Paralayang Jawa Tengah Nur Kholis mengatakan, ini adalah event rutin. Sedikitnya, Kabupaten Wonosobo sudah mengadakan event paralayang berskala nasional 4 kali. Kali ini, berskala internasional.
“Dengan event ini, kami berharap akan memunculkan talenta-talenta dari Wonosobo, Jawa Tengah, dan Indonesia. Kami juga berharap akan memberikan kontribusi yang signifikan dalam sektor pariwisata di Kabupaten Wonosobo. Karena ini merupakan olahraga yang sport tourism,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Sabtu (15/7).
Dia menyebutkan, terdapat 2 kategori dalam kompetisi ini. Yakni, senior dan junior. Kualifikasi kedua kelas tersebut adalah dari kecakapan atlet.
Sebelumnya, ada assasement atau pengujian dari Persatuan Gantolle dan Paralayang Indonesia (PGPI) untuk menguji bahwa seorang pilot itu sudah layak naik kelas.
Dari pilot 1 menjadi 2 atau 3. Bahkan sampai seorang master. Pihaknya melombakan akurasi atau ketepatan mendarat.
Kholis menjelaskan, venue paralayang di Desa Lengkong ini sudah teruji dari sisi safety. Untuk menjadi tempat level internasional melalui banyak pengujian.
Mulai dari event lokal, kemudian provinsi, dan kalau bagus lagi menginjak ke event nasional.
Wonosobo punya 3 tempat take off di Wonosobo. Yaitu, Lengkong, Kahyangan Sky Land di Menjer, kemudian Blembem di Perkebunan Tambi.
”Tempat yang sudah terakreditasi untuk lomba skala internasional adalah di Lengkong,” ungkapnya.
Peserta asal Semarang Hening Paradigma mengaku, sebelum kompetisi, sudah mencoba terbang 3 kali dalam 1 jam. Hal itu termasuk yang tercepat di Indonesia.
“Saya beberapa hari ini di sini melihat berbagai macam pemandangan yang beda dari tempat lain. Ini cocok untuk menjadi destinasi wisata,” akunya. (din/lis)
Editor : Baskoro Septiadi