RADARSEMARANG.ID, Wonosobo - Hamparan lahan di Kawasan Dataran Tinggi Dieng, Jawa Tengah kondisinya kritis. Hal itu terjadi akibat adanya alih fungsi dari kawasan hutan menjadi lahan pertanian. Sedikitnya 160 ton tanah hilang setiap tahunnya karena erosi.
Direktur Pengembangan Niaga dan Eksplorasi PT Geodipa Energi (Persero), Yudistian Yunis saat ditemui seusai melakukan penanaman pohon di kawasan Dieng menyebutkan, lahan kritis di kawasan Dieng telah mencapai sekitar 7.000 hektare.
Sedangkan tingkat erosi rata-rata sebesar 161 ton tanah per hektare lahan hilang setiap tahunnya.
Menurutnya, kompleksitas permasalahan degradasi lahan dan lingkungan di Dieng ini dikarenakan kecilnya kepemilikan lahan, intensifikasi tanaman semusim terutama tanaman kentang tanpa mengindahkan kaidah konservasi.
Ditambah rendahnya tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kerusakan sumber daya hutan, degradasi lahan dan lingkungan serta lemahnya koordinasi antar sektor.
Kondisi tanah perbukitan di Dieng dengan kemiringan 70 persen yang kini makin masif digunakan untuk lahan pertanian.
Ini akan mengancam berbagai persoalan di Dataran Tinggi Dieng.
Seperti persoalan sumber air, longsor, banjir dan erosi tanah.
Dengan begitu, tentunya dapat menimbulkan dampak buruk bagi masyarakat yakni potensi menimbulkan bencana alam seperti tanah longsor, banjir dan bencana kekeringan.
Lebih lanjut, lahan kritis ini dalam waktu dekat mungkin tidak akan langsung dirasakan akibatnya.
Namun dalam jangka panjang apabila tidak dilakukan langkah-langkah mitigasi seperti penanaman ini bisa mengganggu ekologi dan lingkungan.
"Ujung-ujungnya dampak kerusakan lingkungan yang tidak segera ditangani bisa berdampak pada generasi kita ke depan," jelasnya. (git/ton)
Editor : Agus AP