Sejak empat tahun lalu, pembangunan yang baru setengah jadi belum dilanjutkan. Nasibnya, sebagian gedung semakin tidak terawat dan banyak yang rusak. Halaman pasar ditumbuhi rumput, atap bangunan bocor dan pintu pasar dibiarkan terbuka.
Tidak ada petugas yang menjaga. Semua dibiarkan tak terurus. Tahun 2021 sebenarnya anggaran kelanjutan pembangunan pasar sudah ditetapkan Rp 11 miliar. Tapi anggaran tak bisa diserap karena gagal lelang.
Kepala Bidang Pasar Disperindag Wonosobo, Suprayitno mengatakan, tahun ini anggaran pembangunan Pasar Sapuran ditetapkan mencapai Rp 10 Miliar. Nilainya memang turun dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 11 Miliar. "Kita sudah dapat anggaran dan turun. Karena ada keterbatasan anggaran. Jadi harus turun," katanya.
Anggaran Rp 10 miliar rencananya baru akan digunakan untuk menyelesaikan bangunan pokok di tengah gedung. Sementara untuk sub terminal di lokasi baru akan diusulkan di proses penganggaran berikutnya. "Ada kios yang perlu direhab sekalian. Lha nek ini ada yang belum direhab. Tapi secara prinsip nanti fungsi pasar akan berjalan," tambahnya.
Sayang, meski sudah ada anggaran belum bisa memastikan jika pembangunan akan berjalan. Sebab, melihat tahun sebelumnya, meski anggaran telah turun justru gagal lelang. "Tapi mudah-mudahan tahun ini engga (gagal lelang) lagi. Makanya tahun ini kita lelang awal, kalau gagal kita bisa ulang," ungkapnya.
Selain itu, juga telah dilakukan review atas perubahan penganggaran yang terjadi. Sehingga bisa segera mengajukan ke tahap selanjutnya di proses perencanaan, pengadaan hingga pelaksanaan. Saat ini pedagang masih menempati bangunan sementara.
Dengan menggunakan sistem sewa. Pertahun mencapai Rp 200 juta. “Jika pembangunan tak segera dirampungkan maka menurutnya akan terus terjadi pemborosan anggaran,” tambahnya. (git/fth) Editor : Agus AP