RADARSEMARANG.ID, Semarang—Stunting merupakan pertumbuhan dan perkembangan anak yang tidak sesuai dengan anak seusianya.
Ini terjadi karena kekurangan gizi kronis selama periode kritis pada awal kehidupan anak.
Angka kejadian stunting di Jawa Tengah masih berkisar 24% dan relatif tinggi di Kota Semarang.
Menurut dosen Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang Dr. Sri Sumarni, Bdn., M.Mid., keterlambatan dalam mendeteksi dini penyimpangan tumbuh kembang balita dapat meningkatkan risiko kejadian stunting.
“Permasalahan tumbuh kembang yang terjadi pada balita disebabkan oleh kurangnya stimulasi yang diberikan kepada balita. Kondisi ini terjadi karena kurangnya pengetahuan yang dimiliki oleh orangtua tentang stimulasi yang adekuat sesuai dengan usia balita,” katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Dikatakan, banyak kegiatan dengan koordinasi unsur pemerintah daerah diharapkan mampu menjadi solusi dalam upaya meningkatkan pengetahuan ibu dalam deteksi dini stunting
Nah, untuk membantu mengatasi stunting ini, dosen Kebidanan Poltekkes Kemenkes Semarang menggelar pengabdian kepada masyarakat di Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang
Sri Sumarni sebagai ketua tim pengabdi menjelaskan, tujuan kegiatan ini untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang sebagai upaya pencegahan stunting.
Dalam pengabdian masyarakat ini, Sri Sumarni didampingi dosen lainnya, yakni Dhita Aulia Octaviani, S.ST, M.Keb.; Dhias Widiastuti, S.ST., M.Kes.; dan Tecky Afifah Santy Amartha, S.Si.T, M.Tr.Keb. serta mahasiswa Kebidanan S2 Poltekkes Kemenkes Semarang.
Mereka membentuk kelompok masyarakat teredukasi yang memiliki kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya deteksi dini penyimpangan tumbuh kembang dalam upaya pencegahan stunting.
Pihaknya melakukan pendampingan dengan menggelar nonton bareng video animasi yang dilakukan secara langsung dan beberapa kali di bulan Juli, Agustus, dan September 2024 yang terintegrasi dalam kegiatan masyarakat.
“Kegiatan ini diikuti peserta sebanyak 63 orang ibu yang memiliki batita dan kader kesehatan di Pudakpayung,” katanya.
Menurut Sri Sumarni, banyak media yang bisa dipakai untuk pencegahan stunting.
Stunting harus ditangani serius karena anak merupakan generasi penerus bangsa.
Anak sehat merupakan anak yang tumbuh dan berkembang baik.
Anak sehat jasmani dan mental adalah generasi masa depan bangsa.
Kaprodi Magister Terapan kebidanan ini juga mengajak seluruh masyarakat untuk nonton video animasi tentang deteksi dini stunting di laman https://www.youtube.com/watch?v=jkoCfLfv8zc
“Harapannya, terbentuk kelompok masyarakat teredukasi stunting atau masyarakat sadar stunting” harapnya. (web/aro)
Editor : H. Arif Riyanto