RADARSEMARANG.ID, SEMARANG – Ada banyak sekolah internasional di Kota Semarang.
Seperti Binus School, meski menggunakan kurikulum internasional sekolah ini tidak melupakan muatan lokal.
Hal itu disampaikan Kepala Sekolah Binus School Semarang Elsie L Bait. Menurutnya meskipun menggunakan kurikulum Cambridge.
Posisi Binus School berada di Indonesia, sebab itu muatan lokal tetap dijunjung tinggi.
Bahkan di sekolahnya anak-anak tetap diajari Bahasa Jawa. Dengan demikian mereka tetap mengetahui
“Meski sekolah internasional kami juga belajar bahasa Indonesia. Anak-anak dari Perancis, Srilanka, dan lainnya pun tetap diajari. Karena kami cinta Indonesia, kami juga tidak bisa melupakan bahasa jawa,” jelas Elsie ketika ditemui di sekolahnya, Senin (9/9) kemarin.
Ia menambahkan setiap satu bulan sekali. Murid-murid mempunyai jadwal untuk belajar bahasa Jawa pada gurunya masing-masing.
“Kami sekali dalam satu bulan belajar bahasa Jawa yang diajarkan sama guru-guru yang dari Jawa,” imbuhnya.
Menurutnya nilai-nilai budaya dan pendidikan lokal dalam proses pembelajaran ini sangat penting untuk melatih karakter peserta didik.
Menggabungkan elemen internasional dan lokal ini bertujuan untuk mencetak generasi yang tidak hanya berwawasan global, tetapi juga memiliki karakter kuat dan memahami identitas budaya Indonesia.
Lebih lanjut Binus School kata dia juga terus berkomitmen memberikan pendidikan yang berkualitas untuk peserta didik. Yakni dengan dukungan teknologi yang mumpuni.
Pihaknya pun terus melakukan terobosan dalam bidang teknologi. Ada empat inovasi, diantaranya digital breakthrough, high-tech laboratories, leadership international opportunity, dan rain-water harvesting.
“Inovasi ini tentu menjadi komitmebn Binus School sebagai upaya terobosan jntuk menghasilkan bibit muda yang memiliki karakter dan siap menghasapi era global,” tandasnya.
General Operation Manager Binus School Semarang Erik Krisnawan menyampaikan selama dua tahun berdiri ada banyak perkembangan yang dilakukan oleh sekolah baik fisik berupa penambahan gedung dan fasilitas serta nonfisik seperti beragam program yang mendukung sektor akademis dan nonakademis peserta didik.
Hal itu menambah daya tarik masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di Binus School Semarang.
"Di awal dulu hanya 100 siswa, kemudian bertambah jadi 260, dan kini sudah hampir 400 siswa,” ungkapnya.
Sementara Wakil Kepala Sekolah TK dan SD Binus School Semarang Fabien Jean Etienne Rousselot menambahkan dengan inovasi Digital Breakthrough, siswa dapat memanfaatkan fasilitas teknologi mutakhir seperti VR Goggles dan active floor yang membantu siswa mendapatkan pengalaman baru dari segi visial dan juga sensorik.
"Kalau kita harus ke Karimunjawa atau ke Arab Saudi misalnya kan butuh biaya. Nah dengan VR Goggles, anak-anak bisa tahu isi laut atau melihat Ka'bah,” akunya. (kap)
Editor : Tasropi