Berita Semarang Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Event Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Foto

Catatkan Pertumbuhan Signifikan, PT BKK Jateng Siap Bertransformasi Jadi BPR Digital

Agus AP • Kamis, 1 Juli 2021 | 21:28 WIB
Photo
Photo
RADARSEMARANG.ID, Semarang – Di tengah situasi sulit akibat pandemi Covid-19 yang melanda negeri ini, PT BKK Jateng Perseroda berhasil mencatatkan kinerja yang luar biasa. Indikator pertumbuhan kinerja yang kinclong pada tahun kedua ini semakin memantapkan perseroan untuk bertransformasi menjadi BPR Digital.

Hal itu diungkapkan oleh Direktur Utama PT BKK Jateng Perseroda Koesnanto SH. M. Kn,. Menurutnya, di masa pandemi kinerja PT BKK Jateng cukup menggembirakan. Jumlah debitur turun namun tidak terlalu signifikan. Pada posisi Desember 2020 yang mencapai 507.000 debitur, turun 5.800 debitur pada kuartal I/2021 menjadi 501.000 debitur. “Hal ini memang karena situasi, di mana sejumlah debitur belum mampu meneruskan usahanya karena pandemi. Namun kita bisa melihat, asset kita bagus. Di Desember 2020 aset di Rp2,3 triliun, kemudian untuk target akhir tahun 2021 sebesar Rp2,4 triliun. Alhamdulilah di kuartal I/2021 kita sudah mencapai Rp2,298 triliun, di kuartal II/2021 kita bergerak di Rp2,3 triliun. Artinya, bahwa walupun di masa pandemi ini kita masih bisa terjaga dengan bagus,” kata Koesnanto.

Dari sisi pertumbuhan kredit, pada Desember 2020 sebesar Rp1,3 triliun, kemudian di kuartal I/2021 ada di posisi Rp1,360 triliun, dan di kuatal II/2021 mencapai Rp1.370 triliun. “Ini (pertumbuhan kredit) luar biasa karena berpengaruh pada pencapaian laba usaha. Pada Desember 2020 perolehan laba Rp38,5 miliar, sementara target 2021 Sebesar Rp53 miliar. Pada Juni 2021 laba BKK Jateng sudah di angka Rp22 miliar artinya di situasi pandemi, BKK Jateng ini bisa menumbuhkan laba luar biasa di kisaran 30% lebih. Ini tentunya membanggakan,” ujarnya.

Pada HUT ke 2 PT BKK Jateng ini mengusung spirit “Membuat Kerja Hebat Bukan Janji Yang Besar”, maknanya bagaimana BKK Jateng bekerja hebat dengan mengoptimalkan modal yang besar yakni Rp287 miliar. Jika melihat POJK 12, POJK 3/2016 tentang kegiatan usaha dan jaringan kantor PT BPR BKK, masuk kategori KU 3 yang artinya menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia. Untuk itu BKK Jateng Siap bertransformasi Jadi BPR Digital, tanpa harus meninggalkan ciri khas BPR yakni, melayani masyarakat dengan sentuhan, dengan tatap muka dan konvensional yang tentunya diperlukan kerja hebat.

Koesnanto menjelaskan data debitur BKK Jateng yang usianya di bawah 48 tahun ada 39.000 artinya ada 75% yang memang disiapkan untuk layanan digita. Tahun ini BKK Jateng tengah membangun fondasi teknologi dengan baik, diharapkan di tahun 2022 awal atau pertengahan sudah Go Digital.

“Digitalisasi BPR ini untuk melayani segmentasi pasar yang 75% tadi karena, artinya teknologi yang kami ciptakan semangatnya menangani debitur usia generasi melinenial, dengan tetap patron melayani budaya lokal. Perpaduan budaya lokal dan teknologi itu harus bisa berjalan dengan baik,” tuturnya.

Dengan 27 Kantor Cabang ada 103 kantor kas, BKK Jateng memiliki produk-produk unggulan, siap untuk menjadi BPR terkemuka, minimal di Jawa Tengah di tahun 2024, dan memiliki target besar untuk menjadi BPR terkemuka Nasional pada 2025, tentunya kerja hebat ini menjadi salah satu spirit BKK Jateng dalam megembangkan usahanya, mengelola bisnis dan berperan aktif dalam masyarakat Jateng pada kususnya, dan Indonesia pada umumnya.

Koesnanto menjelaskan ada lima strategi untuk tetap mempertahankan kinerja di tengah pandemi, yang Pertama penguatan likuiditas, dalam rangka pemenuhan kebutuhan pembiayaan masyarakat, BKK Jateng memiliki Cash Ratio yang bagus yakni 37,14%. Kedua adalah efisiensi, BKK Jateng mencoba untuk melakukan penghematan di biaya operasional, ada biaya-biaya yang tidak terlalu dibutuhkan dalam supporting bisnis. Ketiga sesuai dengan arahan OJK BKK Jateng harus mendukung program pemerintah dalam restrukturisasi kredit, relaksasi. “Nah kami ada Rp166 miliar dari 6.319 debitur yang dilakukan relaksasi terhadap debitur yang terdampak pandemi. Kebijakan itu merupakan implementasi POJK 11,” jelasnya.

Keempat meningkatkan pendapatan yang berbasis komisi, basis pemulihan cadangan yang akan berpengaruh dalam capaian laba usaha perseroan di tahun 2021. Kelima, fokus pada bisnis UMKM. Selain itu, dalam menjalankan bisnisnya BKK Jateng mengedepankan 3K yakni Keseimbangan, Keselarsasn dan Keserasian. Keseimbangan artinyamenyeimbangkan antara orientasi profit dan orientasi social, menjadi satu kekuatan. Keselarasan, yakni setiap produk yang diciptakan BKK Jateng harus memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat, factor penting dalam menciptakan produk.

Keserasian, antara pengurus, stake holder, shell holders intinya ingin membahagiakan masyarakat dengan produk yang bagus, stake holder dengan laba yang bagus dan kesejahteraan karyawan yang bagus. Dengan mengusung semangat ‘Membangun Daerah Memahami Budaya Lokal’ yang menjadi tageline BKK Jateng, melalui kantor cabang dan kantor kas yang tersebar diberbagai daerah, memiliki kultur yang berbeda. Untuk itu dalam melakukan pendekatan kepada debitur juga dilakukan dengan sentuhan budaya lokal.

“Kami ada produk BKK Sinden yakni untuk Seni dan Industri Kreatif. BKK Joglo: Rumah khas Jawa. Tak hanya itu, dalam prospek ke masyarakat pun, menggunakan Bahasa ibu. Yang di Banyumas ya menggunakan dialek Banyumasan, dialeg Tegal untuk masyarakat setempat. Interaksi ini jadi kekuatan dengan dukungan teknologi,” jelasnya.

Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Undip Prof Suharnomo mengapresiasi kinerja BKK Jateng yang mampu bertahan bahkan tumbuh positif di tengah pandemi. Selain itu penggunaan budaya lokal untuk menjangkau nasabah, sangat menginspirasi menjadi kekuatan tersendiri.

Di masa pandemi saat ini, berbeda dengan krisis 1998 dan 2008, di mana UMKM justru mejadi penopang perekonomian masyarakat. Saat ini, UMKM paling terdampak karena adanya pembatasan operasional, pembatasan jarak, sementara UMKM saat ini sebagian besar masih menggunakan cara konvensional, yakni bertatap muka dalam bertransaksi.

“Di Jawa Tengah, misalnya data BPS menunjukkan hanya 23,6% atau 2.968 unit UMKM yang baru memanfaat kan teknologi internet. Angka nasional bahkan baru mencapai 13% yang menggunakan platform digital. Jadi sangat kecil sekali, namun ada optimisme juga karena 84% UMKM sudah menggunakan smartphone nya untuk jualan transaksi, prospek orang dan sebagainya,” tuturnya. (*/bas) Editor : Agus AP
#PT BKK Jateng