RADARSEMARANG.ID - Ardiansyah (32) seorang driver taksi online, warga Surtikanti, Semarang Utara pengalaman mistis bersama penumpangnya. Kisah mistis pria yang akrab dipanggil Ardi ini, terjadi satu minggu jelang datangnya bulan suci Ramadhan tahun 2026 ini.
"Saya masih ingat malamnya malam sabtu atau jumat malam, puasa kurang seminggu," tutur Ardi mengawali perbincangan dengan RadarSemarang.ID.
Ardi menceritakan kejadian mistis, yang dialaminya ini adalah kali kedua, semenjak dirinya menjalani profesi driver taksi online tiga tahun lalu. "Ini yang kedua mas, tapi ini benar-benar sempat bikin aku syok dan libur narik dua hari," cetusnya.
Malam itu hujan gerimis membasahi kota Semarang. Jalanan mulai sepi ketika Ardi, seorang driver online berusia 34 tahun, masih menerima order demi mengejar setoran untuk keperluan bulan puasa.
Jam di dashboard mobilnya menunjukkan pukul 23.48 WIB. Ponselnya berbunyi, notifikasi pesanan masuk.
Penjemputan berada di sebuah rumah tua di kawasan Gajahmungkur, tak jauh dari Taman Merapi, salah satu kawasan elite di kota Semarang. Tujuannya menuju Stasiun Tawang.
Baca Juga: Baru Dua Minggu Tinggal di Kos, Mahasiswa Asal Riau Ini Melihat Penampakan Menyeramkan
Ardi sempat mengernyit saat melihat titik penjemputan. Gang kecil. Gelap. Dan rumah itu tampak berada di ujung jalan buntu. Seingatnya di daerah itu tidak ada gang kecil. Tapi diabaikan perasaannya itu.
“Ah, mungkin penumpangnya buru-buru naik kereta malam,” gumamnya.
Ia tetap berangkat. Semakin masuk ke gang, suasana makin sunyi. Lampu jalan sebagian mati. Hanya suara deru mobilnya dan rintik hujan yang terdengar.
Ketika sampai di titik lokasi, Ardi langsung merinding. Rumah itu terlihat kosong. Cat temboknya mengelupas. Halaman dipenuhi rumput liar. Pagar besi berkarat setengah terbuka. Tidak ada cahaya sama sekali.
“Ini beneran ada orang tinggal?,” pikirnya.
Ardi hampir membatalkan order ketika pintu rumah tiba-tiba terbuka perlahan. Seorang pria keluar dari dalam rumah.
Usianya sekitar 40 tahunan. Tubuhnya kurus. Mengenakan jaket hitam lusuh dan celana panjang gelap. Wajahnya pucat pasi seperti orang sakit. Matanya cekung dan tatapannya kosong. “Tawang,” ucap pria itu pelan.
Suaranya berat dan serak. Ardi menelan ludah. “Ohh iya-iya Pak, silakan.”
Baca Juga: Tujuan Pencairan Gaji ke 13 Tahun 2026 untuk PNS, PPPK, TNI, Polri, Pensiunan dan Pejabat Negara
Pria itu naik ke jok belakang tanpa banyak bicara. Anehnya, saat penumpangnya duduk , mobilnya terasa sangat berat. Padahal penumpangnya kurus. Sepanjang perjalanan, suasana sangat hening. Tidak ada obrolan. Tidak ada suara batuk. Tidak ada suara gerakan sama sekali.
Ardi mencoba mencairkan suasana. “Mau naik kereta jam berapa, Pak?”
Tidak ada jawaban. Sunyi. Ia melirik kaca spion. Pria itu masih duduk diam sambil menunduk. Wajahnya samar terkena lampu jalan. Pucat.
Ardi mulai merasa tidak nyaman. Bulu kuduknya berdiri sejak tadi. Apalagi udara di sekitar mobilnya terasa semakin dingin.
Saat melintas dekat RS Kariadi, Ardi mendengar suara pelan tepat di belakang telinganya. “Tolong... cepat...”
Ardi refleks menoleh sedikit. Namun jalanan licin membuat mobilnya sempat sedikit oleng. Ia buru-buru fokus kembali ke depan. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di depan Stasiun Tawang.
Ardi menghentikan mobil. “Pak, sudah sampai.”
Tidak ada jawaban. Ardi menoleh ke belakang. Jok belakang mobilnya kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tapi jok belakangnya mobilnya seperti bekas ada yang menduduki.
Ardi membeku. Darahnya seperti berhenti mengalir. Ia langsung turun panik sambil melihat sekitar stasiun. Tidak mungkin orang turun tanpa terasa. Sejak tadi mobilnya juga tidak berhenti.
Namun benar. Penumpangnya hilang. Tiba-tiba aplikasi di ponselnya berbunyi. “Perjalanan selesai.” Tapi anehnya tarif perjalanan tertulis Rp 0. Nama pemesan pun berubah menjadi kosong. Tidak ada foto profil. Tidak ada nomor telepon. Hanya titik hitam. Ardi mulai gemetar hebat.
Karena penasaran sekaligus takut, ia memutuskan kembali ke rumah tadi. Ia melaju kencang kembali ke titik penjemputan. Rasa penasarannya mengalahkan rasa takutnya.
Baca Juga: Serem! Pulang Lembur Tengah Malam, Karyawan Percetakan Ini Dihadang Hantu Perempuan di Simpang Jalan
Saat tinggal beberapa puluh meter dari gang itu, ternyata ada beberapa warga sedang duduk di pos ronda. Melihat Ardi mondar-mandir di depan rumah kosong tersebut, seorang bapak menghampiri.
Ardi menjelaskan bahwa tadi ia menjemput penumpang dari rumah itu menuju stasiun. Mendengar itu, wajah warga langsung berubah tegang.
“Dari rumah ini?” tanya salah satu warga pelan.
Para warga saling pandang. “Rumah ini udah lama kosong, Mas,” kata seorang bapak tua.
"Pemiliknya kerja di Bandung, tapi sudah lama rumahnya dibiarkan kosong, karena tinggal di Bandung”jelas salah satu warga lainnya.
Ardi makin pucat. Salah satu warga lalu mencoba menelepon pemilik rumah menggunakan speaker. Tak lama kemudian telepon tersambung.
“Halo Pak, maaf ganggu malam-malam. Mau tanya... bapak lagi di Semarang?”
Baca Juga: Merinding! Sering Terdengar Suara Gamelan Misterius dari Gedung Tua di Pinggiran Kota Semarang Ini
Suara dari telepon terdengar jelas. “Enggak Pak, saya masih di Bandung. Rumah kosong kok. Belum ada rencana pulang.”
Ardi langsung merasakan lututnya lemas. Ardi perlahan membuka galeri order terakhir di aplikasinya. Ia memperlihatkan foto profil penumpang yang tadi muncul sesaat sebelum hilang. Semua warga terdiam.
Karena wajah di foto itu sama persis dengan adik pemilik rumah yang sudah meninggal setahun lalu. Semakin lemaslah Ardi, setelah dia tahu baru saja membawa penumpang yang sudah setahun lalu meninggal dunia.
"Itu kenangan yang masih membekas mas, ta inget-inget terus. Tapi pas setelah kejadian itu, aku sempat prei dua hari, masih agak trauma hehehe"kata pria asli Semarang ini mengakhiri obrolan dengan RadarSemarang.ID. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi