Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Penjaga Makam di Semarang Ini Alami Kejadian Mistis yang Tidak Bisa Dilupakan

Sulistiono • Rabu, 17 Desember 2025 | 03:00 WIB
Ilustrasi penjaga makam terkejut melihat penampakan keranda dan perempuan tua. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi penjaga makam terkejut melihat penampakan keranda dan perempuan tua. (ai/Sulistiono)

RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali datang dari kisah yang dialami Yatno (bukan nama sebenarnya), seorang pria berusia 45 tahun, yang beprofesi sebagai salah satu penjaga kompleks pemakaman di wilayah Meteseh, kecamatan Tembalang. 

Dalam perbincangan dengan Radar Semarang, Yatno mengaku sudah hampir 20 tahun menjalani pekerjaan sebagai penjaga makam. Meski statusnya penjaga, bukan berarti dia sehari-hari tinggal di kompleks pemakaman.

"Ya, penjaga tugasnya melakukan kontrol dan bersih-bersih kompleks makam mas. Kalau kontrol malam itu biasanya ngecek apakah ada lampu penerangan yang padam atau gak"ungkap Yatno menjelaskan tugasnya. 

Selama 20 tahun menjalani profesi ini, membuat Yatno banyak mengalami kisah-kisah mistis. Namun satu kisah mistis yang dialaminya dan masih membekas sampai sekarang adalah saat kejadian pada bulan Juli tahun ini. 

"Itu kejadian yang masih saya ingat sampai sekarang mas"ucapnya. 

Bagaimana kisahnya, inilah penuturannya :

Malam rabu di pertengan bulan Juli 2025, seperti malam-malam sebelumnya, Yatno yang biasa dengan suasana sunyi, desir angin, dan suara dedaunan yang bergesekan dikompleks pemakaman, menjalankan tugasnya melakukan kontrol. Jarum jam saat itu menunjukkan pukul 22.10, belum terlalu malam.

Cuaca sendiri saat itu hujan baru saja reda, hujan yang datang tiba-tiba ditengah musim kemarau.

Sembari membawa senter, Yatno melangkahkan kaki menembus kabut tipis dan berjalan di antara batu-batu nisan.

Lampu-lampu jalan kecil yang jarang dipasang membuat sebagian area makam tenggelam dalam gelap yang pekat.

Kontrol malam itu tak hanya mengecek lampu penerangan, tapi juga memastikan kondisi dua makam baru yang ada di pojok belakang kompleks pemakaman. 

Kontrol malam itu juga untuk mengantisipasi jika ada orang kesasar atau anak muda berpacaran dengan mencari tempat yang gelap. 

Saat langkah kakinya melewati blok makam paling tua, yang jarang dikunjungi karena lokasinya berada di lahan yang menanjak, Yatno mendengar sesuatu yang membuatnya berhenti.

Suara seretan. Pelan, panjang, seperti sesuatu diseret di atas tanah basah.

Curiga ada orang, Suyatno mengarahkan lampu senternya ke arah semak-semak yang ada didepannya. 

"Hoiii sopo kuwi (Hoii siapa itu)?”teriak Yatno dengan bahasa jawa khas Semarangan. 

Tak ada jawaban. Suara  seretan itu kembali terdengar, kali ini  lebih jelas.

Penasaran, Yatno kemudian berjalan mengikuti suara tersebut, matanya menatap tajam ke sekeliling.

Di dekat sebuah pohon besar yang akarnya mencuat ke permukaan, ia melihat sebuah keranda bambu tua, basah oleh hujan, tergeletak di tengah jalan makam.

“Lho kok bisa keluar?” gumamnya heran. Karena ia yakin sekali keranda itu disimpan di gudang dan tak pernah dipakai lagi.


Ketika ia mendekat keranda tua itu, tiba-tiba kerandanya bergoyang seolah ada sesuatu di dalamnya.

Yatno tertegun melihat pemandangan itu. Segera dia mengangkat penutup keranda sedikit dan saat itu juga seluruh udara di sekitarnya terasa membeku.

Di dalam keranda tidak ada apa-apa.Kosong. Hanya kain kafan tua, kusut, berwarna kecoklatan.

Yatno menghela napas lega, tapi napas itu terhenti saat ia melihat bekas tangan, jejak jari panjang, mencengkeram kain kafan itu, seperti seseorang baru saja bangkit dan keluar. Belum hilang rasa terkejutnya. Dari arah belakang dia mendengar suara langkah kaki. 

Dan di antara kabut, ia melihat sesosok wanita berdiri membelakanginya. Rambutnya basah menutupi seluruh wajah.

Baju putihnya, compang-camping dan menempel pada kulit pucatnya. Tubuhnya sangat kurus, HAnya tulang dibalut kulit.


“Bu Ibu dari rombongan mana? Sudah malam,” tanya Suyatno dengan nada bergetar.

Perempuanh tua itu tak menjawab. Namun bahunya bergerak, seperti sedang menahan tawa.

Yatno mundur beberapa langkah. Senter di tangannya mulai bergetar. Lalu perempuan itu perlahan menoleh, tapi cara memutar kepalanya tidak normal, tetapi melengkung, seperti sendi lehernya tak lagi bekerja selayaknya manusia.

Wajahnya pucat, matanya kosong, dan mulutnya sobek sampai ke pipi. Perempuan itu menyeringai ke arah Yatno yang hanya bisa diam terpaku. Keranda tua di sampingnya tiba-tiba bergeser sendiri. 

Tiba-tiba perempuan tua itu mendekat ke arah Yatno yang berdiri dalam jarak lima meteran, tapi langkahnya tidak menapak tanah, dia melayang vertikal, terbang ke arah pohon besar yang berada persis disampingnya. 

Penampakan hantu perempuan itu menghilang dibalik rerimbunan dahan pohon tua berusia ratusan tahun itu sembari diringi suara tawa yang memecah keheningan malam di kompleks pemakaman.

Yanto langsung balik badan, berjalan cepat meninggalkan lokasi, untuk kembali ke rumahnya yang berjarak satu kilometer dari kompleks pemakaman itu. 

Keesokan paginya, Yanto kembali ke kompleks pemakaman. Rencananya, dia akan mengembalikan keranda tua yang sudah tidak dipakai itu ke gudang. 

Namun. setibanya dilokasi semalam, dia tak lagi mendapati keranda itu lagi ditengah jalan. Yatno mendapati keranda yang terbuat dari bambu dan berusia puluhan itu sudah berada didalam gudang. 

Belum hilang rasa terkejutnya, saat mengecek kedalam keranda, dia tidak mendapati kain kafan lusuh yang dilihatnya tadi malam. 

Segera dia mengunci gudang yang biasa digunakan untuk menyimpan perlengkapan pemakaman dan kembali ke pintu gerbang kompleks pemakaman yang pagi itu lengang tidak ada siapapun kecuali dirinya. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
#Cerita Horor #kejadian mistis #hantu perempuan #Horor #horor semarang #kisah mistis #keranda #penjaga makam #kompleks pemakaman #mistis