Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Baru Tiga Hari Bekerja, Penjaga Malam Sekolah di Lereng Gunung Ungaran Diajak Kenalan dengan Sosok Misterius Ini

Sulistiono • Kamis, 11 Desember 2025 | 04:00 WIB
Ilustrasi :penjaga sekolah ketakutan melihat penampakan hantu perempuan didepan ruang kelas. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi :penjaga sekolah ketakutan melihat penampakan hantu perempuan didepan ruang kelas. (ai/Sulistiono)

RADARSEMARANG.ID - Kisah horor kali ini masih berdasarkan pengalaman yang dialami orang-orang yang profesinya sebagai penjaga malam.

Cerita horor datang dari Subakti, 32, warga salah satu desa dikabupaten Semarang, yang berada dilereng pegunungan Ungaran. Pria yang akrab dipanggil Bakti itu berprofesi sebagai penjaga Sekolah Dasar (SD) Negeri yang ada di desanya. 

Dia baru saja menjalani profesi penjaga malam SD, setelah kehilangan pekerjaan sebagai buruh pabrik di daerah Bawen. Sempat menganggur beberapa bulan, akhirnya dia mendapat informasi jika SD yang masih satu desa dengan tempat tinggalnya membutuhkan penjaga malam.

"Dapat info ada lowongan penjaga itu, saya langsung nglamar dan diterima, alhamdulilah"tutur Bakti saat mengawali perbincangan dengan Radar Semarang.ID.

Bangunan SD itu sendiri,ungkap Bakti, terletak di ujung desa, terpisah dengan perkampungan warga, berjarak kurang lebih 1 kilometer dari rumah-rumah warga.

Lokasinya berada diperbukitan, jika pagi atau siang, viewnya sangat indah, karena menghadap langsung Gunung Ungaran.

Namun, ketika malam menjelang, suasananya berubah total. Mencekam, karena lampu penerangan yang minim dan disekeling bangunan sekolah adalah kebun dan rimbun pohon bambu. 

Jalan didepan sekolah juga bukan jalan utama, sehingga tidak banyak warga yang lalu lalang. Jalan didepan sekolah adalah akses satu-satunya menuju pemakaman desa setempat, yang berjarak kurang lebih 100 meter dari SD tersebut. 

"Beda kalau pagi, suasananya enak mas,pemandangannya bagus, tapi kalau malam, habis magrib suasananya jadi berbuah, rodo horor," kata Bakti menggambarkan suasana di sekolah yang dijaganya tersebut. 

Dan pengalaman horornya ini terjadi saat dia baru beberapa hari masuk kerja, menggantikan penjaga malam sebelumnya yang sudah pensiun. Bagaimana kisahnya?inilah penuturannya : 

Tiga hari sudah Subakti menjalani pekerjaannya sebagai penjaga malam sekolah di daerah lereng pegunungan Ungaran.

Rutinitas pekerjaan yang dijalaninya setiap malam selalu sama, yakni memeriksa ruang kelas, mengunci gerbang, lalu duduk di pos jaga sambil mendengarkan radio tua yang suaranya sering berderak.

Namun malam dihari ketiga itu dia mendapat pengalaman mistis yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pengalaman yang nyaris membuat dirinya mundur dari profesinya.

Suara Riuh Anak-Anak di Tengah Malam
Sekitar pukul 1 dinihari, saat kabut tebal mulai turun dan menutupi halaman sekolah, Bakti mendengar suara yang membuat bulu kuduknya meremang. Ada tawa perempuan dari arah ruang kelas tiga. 

Awalnya Bakti mengira itu hanya suara dari rumah warga yang terbawa angin. Tapi ketika suara itu berulang dan terdengar juga suara kursi serta bangku diseret, dia yakin itu bukan dari rumah warga.

"Wah kalo ini jelas suaranya dari ruang kelas tiga nih, coba saya cek"gumam Bakti sembari melangkah ke arah ruang kelas tiga yang berjarap dua puluh meteran dari tempat dia berjaga. 

Saat menyusuri lorong kelas menuju kelas tiga, tiba-tiba lampu disepanjang lorong yang dilaluinya, padam. Suasana menjadi bertambah gelap. Bakti langsung menyalakan senter yang dibawanya. 

Saat mendekati ruang kelas tiga, suara tawa perempuan yang tadi terdengar nyaring, tiba-tiba menghilang, berubah menjadi sebuah bisikan yang terdengar jelas ditelinganya. Bisikan itu seolah dari arah belakang.

Bisikan itu membuat Bakti tercekat. Napasnya berdetak lebih cepat. Ia menyorotkan senter ke seluruh koridor, tapi tidak melihat apa pun disana. 

Ruang Kelas Tiba-tibaTerbuka Sendiri


Ketika rasa tegang mulai menyelimuti, Bakti dikagetkan dengan pintu  salah satu ruang kelas yang ada didepannya, tiba-tiba terbuka sendiri.

"Loh padahal tadi udah ta kunci, koq iso mbuka dewe"gumamnya. 

Ketika ia mendekat untuk mengecek kedalam ruang kelas, pintunya bergerak pelan,sangat pelan,  seperti baru saja disentuh seseorang.

Di dalam ruang kelas, suasananya lebih dingin dari luar. Semua meja tersusun rapi, kecuali satu. Di atas meja itu terdapat buku tulis anak dengan halaman terbuka. Tulisan kapur putih, namun tidak terlalu jelas terbaca.

Raka terbelalak. Ia tidak mengenal tulisan itu. Ia mundur perlahan, namun saat membalikkan badan, ia melihat siluet seorang perempuan berdiri diam di ambang pintu. Tubuhnya pucat, kepalanya sedikit menunduk, dan rambutnya menutupi sebagian wajah.

Melihat penampakan itu, Bakti lari sekuat tenaga menuju gerbang sekolah. Jantungnya berdegup kencang, napasnya hampir putus.

Tapi sialnya saat sudah sampai dipintu gerbang, ia mencoba membuka kunc, tapi kunci berputar sendiri, seolah ada tangan lain yang menggenggamnya dari balik besi.

Dari belakang, ia mendengar suara perempuan, kadang tertawa, kadang menangis, suaranya semakin mendekat. Bakti menahan nafas, dia tak berani menoleh ke belakang. 

Sampai akhirnya ia berhasil membuka pintu gerbang dan berlari kencang ke arah perkampungan warga. Dan, suara perempuan itu berhenti tiba-tiba. Suasana menjadi hening.


Namun sebelum ia benar-benar menjauh, terdengar suara perempuan itu. Kali ini suara tawa yang terdengar nyaring. 

 Baca Juga: Pulang Lembur, Karyawan Swasta Ini Diganggu Hantu Perempuan yang Bonceng Motornya

Penampakan perempuan di malam itu, membuat Bakti benar-benar ketakutan. Malam itu, dia tidak kembali ke sekolah tersebut. Dia baru kembali, setelah hari mulai terang. 

Siang harinya, Bakti sengaja mendatangi rumah Supardi, penjaga malam sekolah yang digantikannya karena pensiun. 

Saat melihat kedatangannya, Supardi yang rambutnya sudah memutih semua itu senyam-senyum, seolah ada sesuatu yang dipendamnya. 

"Kowe mesti meh crito yo mau mbengi (kamu pasti mau cerita tadi malam ya)?"tebak pria yang akrab dipanggil Mbah Pardi itu. 

"Iya mbah, aku weruh wong wedok ne ruang kelas, ngguya-ngguyu terus jaluk tulung oq mbah, aku wedi to, aku tak metu wae yo mbah (Iya mbah, aku lihat penampakan perempuan diruang kelas, tertawa-tawa terus minta tolong mbah, aku takut to, aku ta keluar kerja saja ya mbah)" jawab Bakti. 

"Gakpopo, kuwi gur pengen kenalan tok, sesok-sesok wes ora ngetoki maneh, wes to percoyo aku. Ne diganggu maneh, awakmu metu kerjo orapopo (Gak apa-apa, itu cuma pengen kenalan saja, besok-besok khan gak nglihati lagi, sudah to percaya aku. Kalau diganggu lagi, kamu keluar kerja gakpapa)" jamin mbah Pardi. 

Dan ucapan mbah Pardi itu terbukti, saat dia kembali bertugas malam menjaga sekolah itu, dirinya sudah tidak lagi mendapat gangguan dari sosok perempuan tersebut. 

"Alhamdulillah mas, omongan mbah Pardi terbukti, sekali itu saja saya diweruhi, sampai sekarang sudah gak ngetoki lagi"pungkas Subakti mengakhiri ceritanya. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
#kisah horor #Cerita Horor #Lereng Gunung Ungaran #hantu perempuan #penjaga malam #Horor #horor semarang #pengalaman mistis #mistis #pengalaman horor