RADARSEMARANG.ID - Kisah horor kali di datang dari pengalaman yang dibagikan Jatmiko (33), warga Petompon Semarang. Kisahnya ini berdasar pengalamannya saat bekerja sebagai malam ruko dikawasan Semarang Barat.
Ruko itu, ungkap Jatmiko, sejak pandemi banyak yang kosong, ditinggalkan para penyewanya, menyisakan beberapa ruko yang masih ditempati,semuanya berada di lantai satu. Sedang dilantai dua dan tiga, semuanya kosong.
"Itu bangunan ruko tiga lantai mas, tapi setelah covid banyak yang kosong, cuma ada dua atau tiga ruko kalo gak salah yang ada dilantai bawah yang ditempati," ungkap Jatmiko mengawali perbincangan dengan RadarSemarang.ID
Baca Juga: Riding Malam Hari, Pengendara Motor Asal Semarang Kesasar Masuk Kampung Setan' Alas Roban
Bangunan ruko itu sendiri berada ditepi jalan tapi bukan jalan utama, kanan kiri bangunan masih berupa lahan kosong, sementara dibagian belakang bangunan adalah kebun bambu yang cukup lebat.
Selama empat tahun, Jatmiko bekerja sebagai penjaga malam ruko tersebut, sebelum akhirnya pertengahan tahun ini dia resign dan memutuskan membantu istrinya berjualan angkringan di daerah Sampangan.
Meski hanya empat tahun bekerja sebagai penjaga malam, namun banyak pengalaman mistis yang dialaminya saat menjalankan tugas menjaga ruko tersebut.
Suatu malam, seperti biasa setelah Isya, Jatmiko datang ke tempat tugasnya menggantikan temannya yang masuk shift siang. Untuk menenami tugasnya, dia tak lupa membawa termos kopi, radio kecil untuk menemani kesunyian malam, senter dan pentungan buat jaga-jaga.
Baca Juga: Teror Makhluk Halus Penghuni Rumah Kosong Sebelah Gudang yang Baru Ditempati
Lampu Menyala Sendiri
Sekitar pukul 24.00, Jatmiko, naik ke lantai dua, untuk melakukan kontrol. Dengan lampu senternya, dia melangkah pelan, menyusuri lorong lantai dua yang gelap. Situasi aman, tidak ada yang mencurigakan. Jatmiko melanjutkan naik ke lantai tiga.
Namun, saat langkah kakinya hendak naik tangga, dari celah tangga menuju lantai tiga, ia melihat seberkas cahaya. Lampu lorong lantai tiga menyala lumayan terang. Jatmiko heran, karena semua lampu baik dilantai dua maupun tiga selalu dimatikan.
“Walah iki mesti sing jogo sore lali mateni lampu (Walah ini mesti yang jaga sore lupa matikan lampu,” batin Jatmiko.
Ia melanjutkan naik, menapaki tangga perlahan. Saat sampai di depan pintu lorong lantai tiga, ia mematikan lampunya. Suasana menjadi sangat gelap. Setelah mematikan saklar lampu. Dia kembali turun ke bawah.
Tapi baru ia menuruni bebrapa anak tangga. Klik!lampu di lantai tiga kembali menyala terang. Meski sedikit agak merinding, Jatmiko kembali naik lantai tiga.
Mematikan lampu untuk kedua kalinya. Dilihatnya saklar itu masih normal, tidak longgar. Ia cek ruangan-ruangan, semua kosong.
“Angin… pasti cuma angin,” gumannya menghibur diri, meski dia sadar, saklar tidak mungkin bergerak sendiri hanya karena angin.
Kursi yang Bergerak Sendiri di Lantai Tiga
Setelah mematikan saklar lampu, Jatmiko kembali turun. Namun, lagi-lagi gangguan datang. Tepat saat langkah kakinya berada di tengah tangga, telinganya mendengar suara gesekan kursi dari salah satu ruangan bekas ruang meeting,suaranya seperti kursi yang didorong.
Suara kursi besi diseret pelan di lantai keramik yang sudah berdebu.
Jatmiko berhenti,dia berdiri mematung, sembari mengamati suara itu. Dia yakin, suara itu bukan seperti tikus, bukan seperti angin. Itu jelas kursi yang diseret perlahan, seperti seseorang sedang menariknya untuk duduk.
Karena penasaran, da mengintip ke arah lorong lantai tiga. Lampunya masih mati. Ruangan itu gelap.
Tapi suara kursi besi yang diseret itu masih terdengar, bahkan makin jelas suaranya.
Meski diliputi rasa takut, Jatmiko mencoba berteriak. “Siapa di situ woiii!!??” teriak Jatmiko dengan nada bergetar.
Tak ada jawaban. Suara itu berhenti, suasan kembali sunyi. Karena penasaran, Jatmiko berjalan ke arah sebuah ruangan, tempat sumber suara.
Ia menyorotkan lampu senternya ke dalam. Kursi besi di pojok ruangan, terlihat seolah baru saja dipindah, mesih tampak sedikit bergoyang. Jatmiko mundur beberapa langkah dan segera meninggalkan lantai tiga, secepatnya turun ke bawah.
Suara Ketukan di Jendela Pos Jaga
Dengan langkah tergopoh-gopoh menuruni tangga, akhirnya Jatmiko berhasil mencapai pos jaga yang berada di pojok halaman ruko. Dia segera membuat kopi, untuk sekedar menenangkan diri.
Namun, belum sempat menyeruput kopi panasnya, tiba-tiba kaca pos jaga tempat dia duduk, ada yang mengetuk dari luar.
Jatmiko segera keluar pos, namun dia tidak melihat siapa-siapa diluar. Hanya halaman ruko yang gelap, dengan lampu penerangan yang redup di pojokan belakang. Dia kembali masuk ke dalam pos.
Namun, baru saja pantatnya menyentuh kursi. Kaca pos jaga kembali ada yang mengetuk. Kali ini suaranya lebih keras dibanding ketukan yang pertama.
"Tok… tok… tok…tok!"suara ketukan sangat keras. Jatmiko mulai geram. Dia langsung mengambil pentungan yang ditaruh diatas meja.
Saat keluar dengan perasaan emosi, dia tidak mendapati siapa-siapa diluar. Tidak ada orang sama sekali.
Keesokan paginya, ketika petugas shift pagi datang, Jatmiko meminta untuk mengecek rekaman CCTV lantai tiga.
Dari rekaman CCTV sekitar pukul 24.00, mereka melihat saat lampu menyala sendiri lantai tiga.
Yang membuat bulu kuduk berdiri adalah ketika lampu menyala, di ujung lorong yang gelap, terlihat bayangan samar berdiri menghadap kamera. Tubuhnya tinggi, kurus, tapi tidak terlalu jelas bentuknya.
Ketika lampu padam lagi, bayangan itu tidak ada.
Dan di waktu yang sama dengan suara kursi, CCTV di dalam ruang meeting menunjukkan kursi itu bergerak sedikit. Perlahan. Tidak seperti ditarik manusia, lebih seperti meluncur sendiri.
“Gedung itu cuma tiga lantai dan 95 persen banyak yang kosong,tapi kalau malam mulai diatas jam 12 malam, kayak ada penghuni tambahan mas”tutur Jatmiko mengakhiri obrolannya dengan RadarSemarang.ID (sls)
Editor : Baskoro Septiadi