RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali ini di alami empat orang pria yang bekerja dalam satu kantor dan bersahabat sejak mereka bekerja di kantor itu lima tahun lalu. Bahkan ke empat pria yang semuanya masih bujang itu selalu bikin acara bersama-sama.
Keempat sahabat itu adalah Priyoko (26), Andi Yoga (25), Restu Kartiko (24) dan Saiful Sulung (27).
Tak hanya ditempat bekerja, keempatnya juga kompak kos ditempat yang sama di daerah Candisari Semarang.
"Kita sahabatan cukup lama,udah lima tahunan ada, meski kita beda divisi di kantor tapi kita kompak didalam dan luar, termasuk kalo pas dugem malam mingguan," tutur Andi Yoga saat ditemui RadarSemarang.ID
Cerita horor yang mereka alami terjadi bulan lalu, pas malam minggu usai keempatnya pulang dari tempat hiburan malam.
"Kejadiannya pas pulang dugem, tahu khan tempat dugem di Kota Lama?nah kita dari sana dugem, tapi bukan ditempat dugemnya tapi malah di tempat kos kita mas," kata pria yang akrab dipanggil Yoga ini.
Pulang Dugem, Kesurupan
Sekitar pukul 01.20 dinihari, Andi Yoga mengajak ketiga temannya untuk pulang, rasa capek dan ngantuk membuatnya ingin segera pulang ke kos dan beristirahat.
"Yuk pulang, ngantuk pool nih, lihat juga tuh Priyoko udah teler berat," ajak Yoga kepada ketiga sahabatnya sembari menunjuk Priyoko yang sedang mabuk berat terduduk di salah satu sudut ruangan bar.
Dua temannya yang masih kondisi sadar penuh, Saiful Sulung dan Restu Kartiko menyetujui ajakan Yoga. Mereka bertiga keluar sembari memapah Priyoko yang tidak kuat jalan, sempoyongan.
Restu yang masih dalam kondisi sadar penuh membawa mobil yang membawa mereka menuju tempat kos yang berjarak kurang lebih 15 kilometer dari tempat mereka dugem.
Tidak sampai 20 menit karena kondisi jalan yang lengang dinihari itu, mereka tiba di rumah kos exlusif mereka dengan halaman parkir yang cukup luas.
Setelah memarkir mobil, mereka bertiga kemudian membawa Priyoko ke dalam kamarnya karena kondisinya yang masih mabuk berat.
Saat tiba didalam kamarnya, Priyoko tiba-tiba muntah ke lantai. Ketiganya kemudian segera membawa ke kasurnya dan membersihkan muntahan dilantai.
Namun saat mereka selesai membersihkan lantai dan hendak meninggalkan kamar Priyoko, pria itu tiba-tiba mengeram.
Abdi Yoga, Saiful Sulung dan Restu yang hendak melangkah keluar kamar mendadak menghentikan langkahnya.
Mereka balik badan melihat ke arah tubuh sahabatnya yang saat itu sudah dalam posisi duduk di atas kasur.
Wajah Priyoko yang sebelumnya dalam kondisi lemah karena mabuk berat, terlihat berbeda, matanya merah menatap tajam ke arah ketiga sahabatnya.
"Wes gak usah guyon Pri, turu wae, wong mabuk wae koq ndadak guyon meden-medeni (Sudah gak usah bercanda Pri, tidur saja, orang mabuk aja koq pakai becanda nakut-nakuti)," cetus Saiful yang mengira Priyoko bercanda.
Ketiga temannya yang terkejut mendengar ucapan itu kembali hanya bisa berpandangan, namun belum hilang rasa terkejut mereka, tiba-tiba Priyoko melompat dari atas kasurnya dan menyerang Saiful.
Sempat terjadi pergumulan antara Saiful dan Priyoko di lantai. Dua temannya berusaha menenangkan.
Pria asal Wonosobo itu bahkan berkali mencakar tubuh Saiful laiknya seekor macan menerkam mangsanya.
Yoga dan Restu kemudian membantu Saiful yang kesulitan lepas dari cengkraman Priyoko yang seolah memiliki tenaga ekstra.
Yoga menarik tubuh tubuh Priyoko sekuat tenaga, sementara Restu langsung memiting dari belakang sembari membaca ayat-ayat kursi.
Mereka bertiga semakin keras mencoba mengendalikan tubuh Priyoko, bahkan beberapa kali Saiful sempat menendang dan memukul tubuh Priyoko dengan keras sembari meminta untuk istigfar.
Di tengah pergumulan itu, tiba-tiba Yoga teringat tips yang pernah dibacanya disalah satu artikel, jika ada orang kesurupan pencet jempol kakinya kuat-kuat. Dia langsung memencet jempol kaki Priyoko sembari meneriakan takbir dan bacaan murotal.
Seketika tubuh Priyoko lemas, terkulai dilantai. Wajahnya sedikit memerah. Sudah tidak lagi terdengar suara aneh dari mulutnya.
Merasa sudah agak tenang, ketiganya kemudian meninggalkan kamar sahabatnya itu, setelah sebelumnya mereka membopong tubuh Priyoko ke atas kasur.
Keesokan paginya saat mereka santai di ruang tengah kos, Priyoko menemui ketiga sahabatnya dan bertanya.
"Awakku mau bengi mbok kapakke, kok jarem-jarem abang kabeh (Badanku tadi malam kalian apakan, kok memar semua)?" tanya Priyoko.
Sembari tertawa-tawa mereka menceritakan apa yang sebenarnya terjadi semalam. Namun yang membuat mereka terkejut, beberapa hari setelah peristiwa itu dan mencoba mencari tahu.
"Ternyata setelah kita cari tahu, pemilik kos itu katanya memelilihara pesugihan dan lupa memberi makan dalam tanda kutip ya perewangannya.. tapi benar tidaknya walahualam ya mas," tutur Yoga.
Setelah mereka mendapat informasi itu, keempatnya kemudian memutuskan pindah kos di daerah Mugassari tak jauh dari Simpang Lima. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi