RADARSEMARANG.ID - Menjadi pekerja bangunan, membuat Rudiyanto (34), warga Karangawen, Demak, tak pernah membayangkan akan mengalami kejadian mistis, saat mendapat pekerjaan merenovasi sebuah rumah tua di kawasan Semarang Utara.
Pekerjaan renovasi rumah tua itu di order mandornya dari seorang warga Solo, yang baru saja membeli rumah tua bergaya kolonial, yang sudah puluhan tahun kosong, pemilik barunya ingin memugar total bagian dalamnya.
"Waktu itu saya ngerjakan bareng empat tukang lainnya dan pak mandor yang ngawasi kerjaan kami," ungkap pria yang biasa disapa Rudi ini mengawali perbincangan dengan RadarSemarang.
Namun, siapa sangka proyek merenovasi rumah tua itu membuat pria yang memiliki dua anak itu mengalami kejadian mistis untuk pertama kalinya dalam hidupnya.
"Baru kali itu, dapat pengalaman horor saat lagi kerja di proyek," tuturnya.
Hari pertama, saat langkah kakinya memasuki rumah yang akan di renovasi, Rudi langsung merasa ada yang aneh.
Rumah itu lembap, berbau tanah basah, dan setiap langkah di lantai kayunya terdengar seperti ada ruang kosong di bawahnya.
Jendela depan tertutup debu tebal, seolah tak pernah dibuka sejak lama.“Pokoknya ruang tengah sama kamar belakang dibongkar total,” pesan sang mandor kepada Rudi dan pekerja lainnya.
Rudi mengangguk. Pekerjaan mudah, batinnya."Dan satu lagi, kalau sudah magrib, biarpun pas lembur, jangan pukul tembok belakang, usahakan pas siang saja bongkarnya"pesan pak Mandor lagi,
"Agak aneh ini pesan pak mandor"batin Rudi,
Siang hari, Rudi mulai menyiapkan peralatan untuk membongkar tembok kamar belakang. Tembok itu berbeda dari yang lain, catnya mengelupas, namun masih terlihat kuat.
Di tengahnya, samar-samar, terlihat bekas tulisan seperti pernah dipaku atau disobek seseorang.
Saat Rudi hendak mulai melubangi tembok itu, Sugino, teman pekerja bangunan lainnya datang melongok.
“Ati-ati ne mbongkar tembok kuwi, ojo pas magrib-magrib, ngko kowe diweruhi (Hati-hati kalo biongkar tembok itu, jangan pas magrib-magrib, nanti kamu lihat penampakan),” ingatnya dengan nada bercanda.
Rudi yang menganggap itu ledekan, membalas ledekan teman yang juga tetangga di kampungnya itu.
Baca Juga: Driver Ojek Online Ketakutan Setelah Tahu Penumpang yang Diantarnya Adalah Penunggu Rumah Kosong
"Ngko ta bongkare pas magrib, ben diweruhi koyo opo rupane hahaha (nanti aku bongkar pas magrib, biar dilihati penampakan seperti apa wujudnya) hahaha"balas Rudi tergelak.
Sugino yang mendengar jawaban Rudi itu hanya nyengir, sembari berkata singkat.
"Ohhh weruh tenan, semaput kowe Rud (Ohh lihat betulan, bisa pingsan kamu Rud)," timpalnya.
Merekapun melanjutkan pekerjaan, tenggelam dengan pekerjaannya. Hingga tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 17.35, waktunya jelang magrib.
Teman-teman Rudi sudah mulai bersiap-siap mengakhiri pekerjaan dan beristirahat di bedeng yang dibangun depan rumah tua itu.
Namun, karena merasa tanggung, Rudi tetap melanjutkan pekerjaan. Saat palunya menghantam tembok, terdengar bunyi seperti sesuatu dari dalam ikut bergetar.
Setiap pukulan, timbal baliknya terasa seperti ada yang mengetuk dari dalam. Rudi berhenti, menempelkan telinganya ke tembok.
Di baliknya terdengar suara lirih, seperti suara eraman.
Rudi kaget, refleks mundur beberapa langkah. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya suara angin yang masuk lewat retakan. Dia kembali memukul tembok lebih keras.
Retakan muncul dari pukulan palu godam yang di ayunkan ke tembok.
Dan dari celah itu, mengalir aroma busuk, seperti bangkai yang sangat lama tak tersentuh udara. Lampu ruang belakang tiba-tiba mati.
Rudi meraih senter ponsel, namun sebelum sempat menyalakan, dia melihat sosok makhluk berwarna hitam legam, berbulu lebat, mata merah menyala, bertubuh tinggi besar berwajah seram bergelantungan di langit-langit, menatap ke arahnya dengan tatapan penuh amarah.
Melihat penampakan di atas tubuhnya, Rudi terkesiap, tubuhny seketika lunglai. Saat mencoba berlari, langkah kakinya terasa berat, bahkan tak bisa digerakkan sama sekali. Seketika dia pingsan.
Tubuhnya baru ditemukan selepas Isya, setelah teman-temannya curiga, dia tak kembali ke bedeng.
Oleh mandor dan teman-temannya, Rudi dievakuasi ke bedeng untuk mendapat perawatan, karena dia tak kunjung siuman.
Akhirnya atas inisiatif sang mandor, di undanglah pak Kyai untuk menyadarkan Rudi yang masih belum siuman.
Baru jelang tengah malam, Rudi akhirnya siuman dan kembali sadar. Pak Kyai yang mengobati bilang, penunggu disalah satu ruangan itu marah sama dirinya, karena dianggap menganggu ketenangannya.
"Kowe wes ta kandani to Rud, ojo kerjo wayah magrib tapi malah anyel (kamu sudah aku beritahu to Rud, jangan kerja pas magrib tapi malah ngeyel)" kata sang mandor setelah Rudi siuman.
Keesokan paginya, sang mandor sebelum para pekerja memulai pekerjaan mendatangkan kembali pak Kyai untuk memimpin doa keselamatan.
"Alhamdulillah setelah selametan, sudah tidak ada lagi gangguan aneh-aneh, tapi setiap jelang sore, saya merasa ada yang ngawasi diatas atap, sampai pekerjaan renovasi rumah itu selesai, alhamdulilah lancar," pungkas Rudi mengakhiri cerita horornya. (sls)
Dan hingga hari ini, rumah itu belum juga selesai direnovasi.
Editor : Baskoro Septiadi