Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Baru Beberapa Hari Bekerja, Perawat Salah Satu Rumah Sakit di Semarang Dapat 'Salam Kenal' dari Penghuni Bangsal

Sulistiono • Minggu, 23 November 2025 | 01:00 WIB
Ilustrasi :seorang perawat ketakutan melihat penampakan kursi roda berjalan sendiri. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi :seorang perawat ketakutan melihat penampakan kursi roda berjalan sendiri. (ai/Sulistiono)

RADARSEMARANG.ID - Banyak orang beranggapan Rumah Sakit adalah salah satu tempat yang konon seringkali dianggap angker.

Apalagi keberadaan kamar mayat, sebagai tempat penyimpanan sementara jenazah, juga dianggap lokasi yang paling angker.

Banyak kejadian-kejadian mistis yang terjadi di rumah sakit dialami oleh tenaga medis atau bahkan pasien dan keluarganya.

Cerita horor kali ini berangkat dari kisah yang dialami Dina Mariana, 26, perawat disalah satu rumah tertuadi kota Semarang.

Ditemui RadarSemarang.ID, perempuan yang namanya sama dengan penyanyi terkenal di era tahun 80an itu mengaku kisah mistisnya itu pertama kali dialami saat dia awal-awal bekerja sebagai perawat. 

Dua hari awal bekerja, Dina masih angat, awal bulan Januari, Selasa malam, dia mendapat tugas jaga malam pertamanya di ruang rawat inap kelas 3.

Perawat-perawat seniornya menjuluki ruangan itu terkenal paling berisik saat tengah malam.

Bukan oleh pasien, tapi oleh sesuatu yang lain,sesuatu yang tidak terlihat oleh mata kasat. Tapi Dina tak terlalu mempedulikan, tanggung jawabnya menjalankan tugas mengalahkan rasa takut dengan cerita-cerita horor yang di dengarnya.

Toh dia bertugas tidak sendirian, ada enam perawat lainnya yang berjaga di ruang rawat inap kelas 3 tersebut.

Jarum jam menunjukkan pukul 01.47 dinihari saat Dina sedang mengecek infus pasien. Lampu-lampu lorong berpendar redup, seperti kehabisan tenaga. Udara lembap, berbau obat, bercampur dingin yang seolah menusuk kulitnya.

Ketika ia mencatat tekanan darah pasien terakhir, terdengar bunyi roda, seperti kursi roda didorong seseorang dari arah lorong diluar ruang rawat inap kelas 3.“Mungkin perawat lain,” pikirnya.

Namun ketika ia keluar, lorong itu kosong. Kursi roda yang biasanya terparkir di dekat nurse station, tiba-tiba berdiri sendiri di tengah lorong, menghadap langsung ke arahnya.

Melihat pemandangan itu, Dina hanya bisa tertegun, menelan ludah. Ia merasa seperti sedang diperhatikan.

Dina memegang kursi roda itu dan hendak menyingkirkannya kembali, tetapi saat tangan menyentuh pegangan, kursi itu bergeser sedikit, seakan seseorang duduk di atasnya dan bersiap didorong.

Dina mundur. “Siapa di sana?” suaranya gemetar.

Tak ada jawaban, hanya hembusan angin dingin yang mengalir lewat tengkuknya. Dina langsung bergegas menuju ruang jaga perawat.

Sekitar pukul 02.30, salah satu pasien lansia memencet bel darurat. Dina bergegas masuk.

“Bu, kenapa? Ada yang sakit?” tanya Dina kepada sang pasien.

Perempuan tua itu menatap ke arah sudut ruangan, matanya sendikit mendelik menyiratkan rasa ketakutan. 

Dina mengikuti arah pandang si pasien dan melihat bayangan hitam setinggi anak kecil berdiri diam. Tidak bergerak sama sekali. Hanya diam menatap.

Dina memejamkan mata sedetik, dan ketika membukanya lagi, bayangan itu telah hilang. Namun pasien lansia itu terus menggenggam tangan Dina sambil berbisik.

“Dia suka mengikuti perawat yang sendirian…”bisik sang pasien pelan.

Setelah pasien merasa tenang, Dina kembali ke ruang jaga perawat. Saat langkah kakinya menyusuri lorong menuju ruang jaga perawat, lampu lorong tiba-tiba mati satu per satu, seperti ada yang menelusurinya dari ujung ke ujung.

Dalam kegelapan, ia mendengar langkah kaki kecil berlari. Mendekat. Semakin cepat. Dina, panik, menyalakan lampu senter ponselnya.

Cahaya lampu senter HPnya menangkap jejak kaki kecil di lantai. Basah. Seperti bekas air. Jejak itu berhenti tepat di hadapannya.

Dina menelan napas panjang, tidak berani bergerak. Di tengah rasa takut yang mulai menyergap, tiba-tiba suara anak kecil terdengar dekat sekali.

“Mbak tolong dorong, aku masih di kursi roda,”

Dari balik kegelapan, kursi roda tadi muncul perlahan, bergerak sendiri menuju Dina. Roda-rodanya berdecit, seperti memaksa diperhatikan.

Di belakang kursi roda itu, terlihat sosok kecil tampak samar-samar,tubuhnya pucat, kepala sedikit tertunduk dan wajah putih pucat pasi.

Dina mencoba membaca doa sesuai keyakinannya, meski dengan nada terbata-bata,sembari memejamkan kedua matanya.

Saat dia membuka matanya, penampakan bocah kecil itu sudah hilang, kursi roda yang semula berada ditengah lorong, telah berpindah tempat didepan pintu masuk bangsal anak.

Dina, langsung bergegas, berjalan cepat menuju ruang jaga perawat yang berada di ujung lorong.

Pagi harinya, saat pergantian shift, Dina menceritakan semua kejadian horor selama yang dialami kepada perawat senior.

Perawat senior bernama Kusmiyati itu hanya tersenyum tipis. Dina hanya bisa tertegun. Perasaannya campur aduk, takut dan khawatir.

"Tenang, kamu jangan takut. Dia tidak ngapa-ngapain, cuma pengen nunjukin diri ke parawat yang disayanginya, tidak lebih," imbuh Kusmiyati menenangkan diri seolah tahu perasaan hati Dina. 

Sejak malam itu, setiap kali Dina jaga malam, kursi roda itu selalu pindah tempat,meskipun sudah dikunci.

Dan terkadang, ketika lorong sepi terdengar suara langkah kaki anak kecil. Namun, Dina sudah tak terlalu menghiraukan. Tanggung jawab atas pekerjaannya, membuatnya bisa mengalahkan rasa takut.

"Sampai sekarang masih mas, tapi sudah gak sesering dulu waktu awal-awal kerja, tak lupa setiap dapat jaga malam, saya sempatkan mendoakan arwahnya dan alhamdulillah, sudah jarang dia menampakan diri," tuturnya. (sls)

 



Editor : Baskoro Septiadi
#rumah sakit #Perawat #mistis