RADARSEMARANG.ID – Sebuah kisah pendakian penuh ketegangan kembali mencuat setelah dibagikan dalam kanal YouTube Besok Pagi.
Lima pendaki hampir mengalami kejadian nahas di Gunung Salak setelah secara tidak sadar melanggar titah seorang penjaga spiritual atau kuncen setempat yang dikenal dengan panggilan Abah.
Kisah ini diceritakan langsung oleh narasumber bernama Wahyu, yang saat itu melakukan pendakian bersama empat rekannya.
Mereka dituntun oleh seorang teman bernama Kancil, yang mengenal dekat sosok Abah seorang figur yang disebut-sebut memiliki peran sebagai kuncen Gunung Salak.
Baca Juga: Duka di Gunung Slamet: Pendakian Kang Egy Berakhir Mencekam Setelah Kepergian Fitriani Sundari
Awal Mula: Bertemu Abah dan Abaikan Larangannya
Malam sebelum naik, para pendaki sempat beristirahat di rumah Abah. Dalam suasana hening menjelang Subuh, Abah muncul tanpa suara, mengejutkan seluruh rombongan.
Menurut Kancil, sosok kuncen itu dikenal kalem namun memiliki pengetahuan spiritual mendalam terkait Gunung Salak.
Abah memperingatkan mereka agar tidak memulai pendakian pada waktu yang terlalu pagi, terutama menjelang Subuh.
Namun, sebagian anggota kelompok yang merasa ragu secara logika memutuskan untuk naik lebih awal sekitar pukul 06.00.
“Bocah batu banget ini, udah dibilangin jangan,” ujar Wahyu menirukan ekspresi kesal Abah yang hanya terlihat dari raut wajah, bukan ucapan.
Baca Juga: Legenda Babat Alas Viral di YouTube Nadia Omara: Persekutuan Kepala Desa Sakti dengan Makhluk Halus
Kejanggalan Pertama: Suara Takbir dari Balik Terpal
Saat hujan turun deras, mereka berhenti untuk berteduh dan mendirikan flysheet dari terpal majelis yang mereka bawa. Ketika salat Zuhur, kejadian janggal terjadi.
Wahyu mendengar takbir dengan suara sangat ngebas dari balik terpal, seolah ada sosok lain yang ikut salat di belakang mereka.
“Suaranya jelas banget, Allahu Akbar, tapi kami berlima nggak ada yang di posisi itu,” ungkapnya.
Tak hanya itu, sebuah sandal milik salah satu pendaki tiba-tiba hilang misterius, padahal sebelumnya diletakkan tepat di samping mereka. Setelah salat selesai dan mereka menggulung terpal, sandal itu muncul kembali di bawah alas terpal tempat yang seharusnya mustahil terlupa atau terlewat oleh lima orang sekaligus.
Pertanda Kedua: Kemunculan Sosok Nenek-Nenek
Dalam perjalanan menuju pos berikutnya, Wahyu turun sebentar untuk mengambil gambar menggunakan kamera digital. Di titik inilah ia mengaku melihat sesosok nenek bertongkat yang tampak marah dan menegur dirinya.
Temannya, Kancil, langsung menyadari kejanggalan itu. “Di jalur seterjal ini nggak mungkin ada warga lewat tongkat. Itu pasti bukan manusia,” ujarnya.
Nenek misterius ini disebut-sebut menjadi pertanda buruk lanjutan yang akhirnya membuat rombongan semakin waspada.
Minim Perlengkapan, Hujan Deras, dan Jalur Licin
Kondisi makin sulit karena kelima pendaki ternyata membawa perlengkapan minim: tenda seadanya, flysheet darurat, tanpa sleeping bag, dan tanpa jas hujan. Pendakian pun menjadi semakin berat saat hujan turun dan jalur rimbun Gunung Salak berubah sangat licin.
Wahyu menegaskan bahwa jalur yang mereka tempuh berbeda dengan jalur resmi sekarang, bahkan saat itu masih harus berurusan dengan security vila yang meminta biaya masuk.
Klimaks: Kesadaran terhadap Titah Abah
Serangkaian kejadian ganjil yang mereka alami membuat Wahyu dan teman-temannya baru menyadari bahwa titah ABA bukan sekadar larangan tanpa sebab. Mereka mulai percaya bahwa ada konsekuensi tak terlihat setelah mereka memaksa naik lebih pagi dari waktu yang disarankan.
“Kayaknya bener deh, apa yang terjadi ini gara-gara kita ngeyel sama ABA,” ujar Wahyu dalam video tersebut.
Kisah dramatis ini menjadi pengingat bagi para pendaki agar selalu menghormati aturan lokal, petunjuk pemandu, dan faktor spiritual yang dipercaya masyarakat setempat—terutama di gunung-gunung yang dikenal angker seperti Gunung Salak.
Editor : Baskoro Septiadi