Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Langgar Pantangan Warga, Mahasiswa KKN Diteror Perempuan Berwajah Menyeramkan Penunggu Bukit Kembar

Sulistiono • Selasa, 18 November 2025 | 01:05 WIB
Ilustrasi penampakan makhluk menyeramkan penunggu Bukit Kembar. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi penampakan makhluk menyeramkan penunggu Bukit Kembar. (ai/Sulistiono)

RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali ini dikisahkan Sapto Nurcahyo, 22, seorang mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di kota Semarang saat mengikuti kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu desa di kabupaten Semarang.

Saat bertemu RadarSemarang, pria asal kabupaten Jepara ini mengisahkan pengalaman mistisnya yang akan di kenang seumur hidupnya.

"Itu pengalaman mistis sekaligus terhoror yang pernah aku alami mas, untungnya aku masih dalam lindungan Tuhan, sehingga bisa selamet dan kembali ke kampus," ungkap mahasiswa yang akrab dipanggil Sapto ini.

Sebagai mahasiswa yang sudah memasuki masa akhir, salah satu tugas kuliah yang harus di jalani Sapto adalah mengikuti kegiatan KKN.

Bersama teman-temannya yang tergabung dalam Tim 2, Sapto ditempatkan di sebuah desa kecil di lereng perbukitan kabupaten Semarang.

Desa seperti pada umumnya dilereng perbukitan, tenang, jauh dari hiruk kipuk kota dan ramah-ramah warganya.

Namun saat awal tiba di desa itu dan menghadap Kepala Desa beserta perangkatnya serta berkenalan dengan warga, mereka mengingatkan untuk tidak naik ke bukit kembar yang ada di desa itu pada malam hari setelah magrib.

“Jangan naik ke Bukit Kembar pas habis Maghrib. Jalan ke sana, ora kabeh kanggo menungso,” tutur pak Rahmat, sang Kepala Desa mengingatkan.

Awalnya Sapto menganggap peringatan itu hanyalah mitos desa  untuk menakut-nakuti warga pendatang.

Sampai pada suatu malam, tiba-tiba listrik di kampung tempat KKNnya padam, otomatis sinyal HP juga ikut hilang. 

Karena suntuk, Sapto berinisiatif keluar rumah tempat selama ini dia tinggal bersama teman-teman satu tim KKN, untuk mencari udara segar. Semula dia mengajak teman-temannya, tapi satupun tak ada yang bersedia. 

Jarum jam saat itu sudah menunjukkan jam 10 malam. Sapto langsung melangkah gontai keluar dari Posko KKN, menyusuri jalan setapak yang mengarah ke bukit Kembar.

Kondisi jalan yang agak gelap dan hanya diterangi sinar rembulan, membuat Sapto tanpa sadar, langkahnya membawa ke punggung bukit Kembar.

Semakin jauh ia berjalan, semakin aneh suasananya. Suara jangkrik yang sebelumnya riah terdengar, mendadak hilang.

Angin yang semula sepoi-sepoi menerpa tubuhnya, mendadak seperti terhenti.Tapi anehnya, pepohonan di sekitarnya tampak bergerak meskipun diam.

Di tengah gelapnya malam, Sapto melihat sinar kecil berkelip di kejauhan, seperti lampu senter. Ia mengira itu warga yang sedang ronda. Diapun memanggil dengan suara agak keras.

“Pak…? Pak, nunggu sinyal ya? Barengan yo, Pak.”

Sinar itu berhenti bergerak. Lalu perlahan naik ke atas setinggi dua meter kemudian naik lagi lebih tinggi.

Melihat hal itu Sapto terpaku. Itu bukan senter. Dia memperhatikan lebih seksama cahaya yang hanya beberapa meter dari tempat dia berdiri.

Dan dia memastikan, cahaya yang semula dia anggap lampu senter itu ternyata sepasang mata,membara merah, melayang di udara.

Belum hilang rasa terkejutnya, dari balik pepohonan terdengar suara lirih seperti perempuan menyanyi lir-ilir, suaranya melengking tidak wajar. Angin tiba-tiba menerpa wajahnya, membawa aroma tanah basah bercampur anyir.

Dari kegelapan, muncul sesosok perempuan berambut sangat panjang, bajunya lusuh seperti kain kafan basah.

Wajahnya pucat, namun bagian matanya kosong hitam seperti arang. Ia melayang perlahan, sementara mata merah di atasnya masih mengawasi, seolah bukan miliknya,melainkan milik sesuatu lain yang mengiringinya.

“Mas ngopo mlebu wilayahku (Mas ada apa masuk wilayahku)," bisiknya, suaranya seperti dua lapis, suara perempuan dan suara berat laki-laki bersamaan.

Sapto mundur, namun kakinya seolah tertahan tanah. Tanah itu seperti memegang pergelangannya.

Tubuhnya gemetar ketika perempuan itu semakin dekat, wajahnya hampir menyentuh wajahnya.

Tiba-tiba dari arah desa terdengar suara teriakan keras

“Sapto Sapto! Mundur! ojo ndangak (jangan mendangak)," terdengar suara teriakan dari arah kampung, tapi dia tidak tahu siapa yang meneriakinya waktu itu.

Suara itu membuatnya tersentak. Secara refleks dia menunduk seketika. Begitu ia melakukan itu, sosok perempuan itu mendadak menghilang, dan genggaman tanah di kakinya terlepas.

Dari arah belakang, tiba-tiba belasan warga berlarian menghampirinya dengan obor. Mereka menuntun Sapto ke Balai Desa setempat.

Setibanya di Balai Desa, puluhan warga dan teman-teman satu Tim KKN sudah menunggu dirinya.

Setelah duduk di kursi dan minum agar lebih tenang. Muncul Mbah Kusmin, yang oleh warga dianggap sebagai sesepuh desa.

Mbah Kusmin yang usianya sudah lebih dari 90 tahun itu duduk disebelahnya dan memegang kepala Sapto sembari bicara dengan nada tenang.

“Bukit Kembar itu ndelok sing ora keno didelok. Makhluk yang matanya merah itu ora seneng karo wong anyar. Wis apik awakmu isih iso mulih. (Bukit Kembar itu melihat apa yang tidak bisa dilihat. Makhluk yang matanya merah itu tidak suka sama orang baru. Sudah bagus kamu masih bisa pulang),” kata mbah Kusmin sembari mengusap-usap kepala Sapto.

Sapto yang sudah mulai agak tenang, hanya mengangguk, tapi tubuhnya masih lemas. Dari Balai Desa, malam itu dia kembali ke Posko KKN yang jaraknya sekitar 1 kilometer, untuk beristirahat.

Saat dia berusaha tidur, sulit bagi Sapto untuk memejamkan mata. Dari kejauhan, tepat dari arah bukit itu, ia masih mendengar suara lirih perempuan menyanyi lagu Ilir-ilir yang di dengarnya saat berada di Bukit Kembar itu.

"Lir ilir lir ilirrr," sayup-sayup suara perempuan itu masih terdengar ditelinganya.

Sapto menoleh ke kanan dan kiri, tapi teman-temannya sudah terlelap dalam tidurnya. Sampai subuh, dia masih mendengar suara nyanyian itu dari arah Bukit Kembar.

Karena teror nyanyian itu, Sapto keesokan paginya menghadap ke dosen penanggung jawab KKN dan meminta pindah lokasi.

"Alhamdulilah dosen menyetujui, saya pindah ke desa lain tapi masih satu kecamatan mas, tapi itu pengalaman mistis yang benar-benar membuat saya takut plus kapok untuk tidak meremehkan apapun yang diperingatkan kepada kita," tutup Sapto mengakhiri kisah horornya. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
#Bukit kembar #semarang #Cerita Horor #Horor #horor semarang #Pantangan #Kuliah Kerja Nyata (KKN) #pengalaman mistis #Kejadian Horor #mistis