Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pesepeda Ini Auto Kabur setelah Melihat Sekelompok Orang Misterius yang Tiba-tiba Hilang

Sulistiono • Sabtu, 15 November 2025 | 14:05 WIB
Ilustrasi : Pesepeda ini ketakutan setelah melihat penampakan sekelompok orang yang ternyata makhluk halus. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi : Pesepeda ini ketakutan setelah melihat penampakan sekelompok orang yang ternyata makhluk halus. (ai/Sulistiono)

RADARSEMARANG.ID - Olahraga bersepeda tak hanya menyehatkan tubuh, namun juga mengasyikan. Bagi sebagian orang olahraga bersepeda jauh lebih mengasyikan karena kita bisa menempuh jarak yang lebih jauh.

Olahraga mengayuh ini juga membuat kita bisa mengeksplore tempat-tempat yang indah, dengan mendatangi lokasi yang hanya bisa dijangkau dengan bersepeda.

Ini perlu diperhatikan, jangan sampai niatnya ingin berolah raga mencari keringat ingin sehat, malah mengalami kejadian yang tak diinginkan menimpa anda, seperti yang dialami Subangun, 49, warga Pucanggading, Mranggen ini.

Kejadian horor dialami pria yang hobi bersepeda sejak tahun 2017 itu, saat tengah sepedaan sendirian di sekitar kawasan Sigar Bencah, setahun silam.

"Biasanya sepedaan bareng teman-teman, rombongan baik muter-muter dalam kotaan atau ke luar kota," tutur pria yang akrab dipanggil Bangun kepada RadarSemarang.ID.

Namun, entah mengapa saat minggu sore, dia ingin keluar sepedaan sendiri, karena sudah seminggu dirinya tidak sepedaan.

Dia tidak menyangka, akan mengalami peristiwa horor yang membuatnya kapok melintas di tempat tersebut. 

Hari minggu jelang petang sebenarnya, tiba-tiba aku pengen gowes seputaran Sigar Bencah, padahal hari sudah mau gelap, jarum jam menunjukkan angka 16.30. Namun. Bangun tetap nekat mengeluarkan sepedanya dan mengayuh menuju Sigar Bencah. 

Dari Pucanggading, tempat tinggalnya jarak ke Sigar Bencah ditempuh kurang lebih setengah jam.

"Sengaja aku tidak melewati tanjakan Sigar Bencah, tapi lewat jalan alternatif melewati perumahan Mangunharjo tembus lapangan tembak dan lanjut Tembalang," katanya.

Lapangan tembak milik salah satu institusi ini dikeliling hutan yang masih alami, dengan dilengkapi beberapa sarana untuk latihan.

Setelah melewati perkampungan terakhir sebelum masuk kawasan lapangan tembak, sepeda yang aku kayuh mulai masuk hutan-hutan dengan jalan makadam. Kanan kiri jalan masih ditumbuhi semak-semak dan pohon jati.

Suasana saat itu sudah mulai agak gelap. Tiba-tiba bulu kudukku berdiri, setelah melewati sebuah lapangan yang dilengkapi dengan bekas bis yang sengaja ditaruh untuk latihan menembak.

Namun, Subangun membuang jauh-jauh perasaannya itu. Dia tetap mengayuh sepeda MTBnya menuju arah keluar hutan.

Namun, baru beberapa meter melintas ditepi lapangan, sekonyong-konyong dia melihat dari arah sebuah bangunan yang mirip pendopo ditengah hutan, ada puluhan orang yang sedang duduk-duduk melambaikan tangan ke arah dirinya.

"Loh siapa mereka ya, kok banyak orang disitu, apa bapak-bapak yang sedang latihan?," pikirnya dalam hati.

Merasa gak enak dipanggil, karena mereka semua melambaikan tangan ke arah dirinya, Subangun kemudian melajukan sepedanya ke arah mereka yang jaraknya kurang lebih 25 meteran.

Namun, saat jarak sudah sekitar sepuluh meter, Subangun menghentikan kayuhan sepedanya.

Karena orang-orang yang tadi dilihatnya duduk-duduk di pendopo dan melambaikan tangan ke arah dirinya, tiba-tiba semua hilang."Loh kemana mereka semua kok ilang?," pekiknya.

 Baca Juga: Niat Cari Arsip Penelitian di Gedung Tua, Mahasiswa di Semarang Ini Malah Melihat Penampakan

Tanpa banyak kata, Subangun langsung balik kanan mengayuh sekuat tenaga sepedanya meninggalkan pendopo yang ada ditengah-tengah hutan itu.

Nafasnya ngos-ngosan, sepeda dipacu kencang meski kondisi jalan tidak rata dan penuh bebatuan.

Dia tidak peduli, cuma satu ingin cepat-cepat keluar dari area lapangan tembak itu dan menemukan perkampungan penduduk.

Akhirnya setelah mengayuh tanpa henti selama kurang lebih setengah jam, Subangun berhasil tiba di perkampungan warga. Dia langsung terduduk lemas didepan rumah salah satu penduduk.

Sebotol air minum yang masih tersisa separo langsung ditenggaknya habis. Tapi nafasnya masih ngos-ngosan, nafasnya naik turun, raut mukanya masih terlihat ketakutan.

Hingga mengundang perhatian salah satu warga yang berada tak jauh dari tempat dia duduk."Kenapa pak, kok kayak habis lihat hantu?," tanya warga tersebut.

Subangun yang mencoba mengatur nafasnya yang masih tersengal menjawab jujur pertanyaan warga itu.

"Nggeh pak, tadi saya dilihati rombongan hantu didalam situ," kata Subangun sembari menunjuk ke arah lapangan tembak yang berupa hutan-hutan itu.

Mendapat jawaban jujurnya, warga tersebut cuma mengangguk-angguk pelan sembari tersenyum penuh arti.

Peristiwa horor yang dialaminya itu membuat Subangun sempat shock beberapa hari, karena baru kali itu dirinya melihat penampakan makhluk halus, tidak cuma satu tapi rombongan dalam jumlah banyak.

"Sejak kejadian itu, saya tidak pernah lagi sepedaan blusukan sendirian ke tempat-tempat seperti itu, kapok mas," tuturnya. (sls)

 

 

Editor : Baskoro Septiadi
#Sigar Bencah Semarang #semarang #lapangan tembak #Cerita Horor #SEPEDA #Horor #horor semarang #olah raga sepeda #Kejadian Horor #Pesepeda #gowes #mistis