Berita Semarang Raya Jateng Nasional Ekonomi Edukasi Entertainment Features Games & eSports Sport Sepakbola Khazanah Lifestyle Tekno Traveling Otomotif Parenting Rubrik Event Foto

Pedagang Bakso Keliling Dapat Pembeli Perempuan Misterius Penunggu Sungai, Endingnya Mengerikan

Sulistiono • Sabtu, 15 November 2025 | 03:00 WIB
Ilustrasi :Pedagang bakso keliling dan pembeli misterius. (ai/Sulistiono)
Ilustrasi :Pedagang bakso keliling dan pembeli misterius. (ai/Sulistiono)

RADARSEMARANG.ID - Sunarto, 45, pedagang bakso kelililing warga Sukoharjo sudah menetap di kota Semarang sejak tahun 1995. 

Dulu saat berjualan bakso keliling dia menjajakan dengan menggunakan gerobag dorong, namun seiring usia dan kondisi jalan yang semakin bagus, lima tahun terakhir, dia berjualan keliling dengan menggunakan sepeda motor, rombong baksonya di taruh di jok. 

"Dulu jualan pake gerobag, sekarang karena usia sudah makin tua, fisik menurun, jualannya pake motor keliling," tuturnya. 

Biasanya Narto berjualan jelang magrib hingga dagangan habis. 

"Kalau selesai jualannya gak mesti mas, tergantung habisnya jam berapa, bisa jam delapan sudah habis, kadang jam dua belas malam baru habis, namanya juga dagang, gak nentu," ujar pria yang memiliki tiga anak ini. 

Berjualan pada malam hari keliling dari kampung ke kampung membuat Sunarto memiliki banyak pengalaman mulai dari cerita unik sampai horor. 

"Wah ceritanya ya macem-macem mas, mulai dari dihadang orang mabok minta bakso gratis, sampai penampakan aneh-aneh yo pernah," tutur Sunarto. 

Namun satu pengalaman horor yang pernah dialaminya, masih membekas sampai saat ini. Menurutnya, itu pengalaman mistis yang paling menegangkan selama menjalani profesi sebagai pedagang bakso keliling. 

Suatu malam dipenghujung bulan Agustus, jarum jam sudah menunjukkan angka jam 23.30 wib, dagangan Sunarto masih tersisa beberapa porsi saja.

Rasa capek, membuat dia ingin segera pulang ke rumahnya di daerah Meteseh, Tembalang. Apalagi, tiba-tiba gerimis mulai turun. 

Biasanya, Sunarto selalu melewati jalan utama untuk menuju ke rumahnya. Tapi malam itu, seorang bapak-bapak, pembeli baksi terakhirnya menyarankan untuk lewat jalan alternatif agar lebih cepat sampai.

 “Lewat jalan kecil di belakang kampung aja, To. Lebih cepat, nggak sampai setengah jam udah tembus ke jalan besar.”

Karena kondisi badan sudah lelah, Sunarto menuruti saran pembelinya. Ia menyalakan sepeda motornya yang dibelakangnya ada rombong bakso, melaju ke arah jalan yang tidak terlalu lebar, hanya cukup dilewati sepeda motor, sesuai saran bapak-bapak itu. 

Jalanan itu sepi, hanya suara jangkrik dan sesekali gemericik air dari kejauhan.

Hujan yang semula gerimis semakin agak lebat mengguyur. Lampu motornya yang semula menyala terang, entah mengapa tiba-tiba mulai meredup. Aneh. 

Setelah berjalan beberapa menit, Sunarto mulai merasakan keanehan.

“Tadi kata orang jalan ini tembus ke jalan besar, kok malah kayak makin masuk ke dalam ya?” gumamnya. 

Di kiri-kanannya hanya tampak pepohonan gelap, dan tanah becek. Tiba-tiba dari kejauhan, terlihat jalan yang tampak mulus berkilau seperti aspal baru. Lega rasanya hati Sunarto. Ia terus melajukan kendaraannya arah jalan itu.

Saat melaju itulah. dari jarak sepuluh meter, ditepi jalan yang mulus itu terlihat seorang perempuan yang berdiri didepan rumahnya yang megah melambaikan tangan ke arah dirinya, bertanda hendak membeli baksi. 

Sunarto mendekat, hingga akhirnya dia hentikan motor dan rombong baksonya persis didepan perempuan itu yang langsung menyodorkan mangkok, tanpa mengucapkan sepatah katapun, tapi memberi isyarat dua jari.

"Ooh mau beli dua porsi, tapi kok mangkoknya cuma satu, tapi saya masih mikir, mungkin dia lupa bawa satu mangkok lagi," kata Sunarto.

Meski begitu dia langsung melayani pesanan perempuan itu. Usai dibuatkan, tanpa sepatah katapun, perempuan misterius itu langsung membawa semangkuk baksonya kedalam rumahnya yang megah bergaya Spanyolan.  

Namun ditunggu beberapa menit, perempuan itu tak kunjung kembali. Cuaca tiba-tiba gelap gulita.

Sunarto tak bisa melihat disekitarnya. Rumah megah yang ada didepannya tiba-tiba juga hilang, sepeerti ditelan gelap. 

Rasa takut mulai menyergap. Belum hilang rasa takut dan herannya, ban motor yang membawa rombong bakso tiba berbunyi seperti menyeret sesuatu yang basah. 

Penasaran, Sunarto melihat ke bawah. Jalan yang semula aspal mulus, ternyata jalan berlumpur dan tepat dia berdiri ternyata dia berada di tepi sungai besar dengan arus tenang.

Permukaannya memantulkan cahaya bulan, membuatnya tampak seperti jalan hitam berkilau.

Nafas Sunarto tercekat. Ia menoleh ke belakang, tapi jalan yang tadi ia lewati hilang.
Yang ada hanyalah kabut pekat. Perempuan dan rumah megahnya hilang. 

Sunarto langsung membaca doa seadanya, mendorong sepeda motornya yang terjebak di jalan tepi sungai yang berlumpur. Terseok-seok dia mencoba mendorong motornya.

Namun, motor dan rombong baksonya tak bergerak sama sekali. Terasa berat didorong.

Keesokan paginya, warga menemukan sepeda motor dan rombong baksonya terguling di tepi sungai, mangkuk-mangkuknya pecah, dan jejak kaki Sunarto terputus di tengah tanah becek.

Sunarto ditemukan warga dalam keadaan selamat, namun kondisinya linglung terduduk di pinggiran sungai, masih menggigil dan terus bergumam,

"Saya kesitu karena ada yang manggil perempuan beli bakso, didepan rumah mewah,seperti istana, jalan menuju rumahnya aspal mulus lebar," gumam Sunarto. 

"Itu kejadian yang paling mengerikan mas, saya sampai libur jualan tiga hari setelah kejadian itu, moga-moga gak ngalami lagi lah yo," harapnya. (sls)

Editor : Baskoro Septiadi
#Penunggu Sungai #semarang #Cerita Horor #kejadian mistis #hantu perempuan #Horor #pedagang bakso keliling #horor semarang #mistis #perempuan misterius