RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali ini di alami Mulyono dan keluarganya, yang baru saja menempati sebuah rumah yang baru mereka beli di daerah Rejomulyo, Kecamatan Semarang Timur. Sebuah rumah yang berada persis disebelah bekas bangunan gudang triplek.
"Waktu pertama kali lihat, memang rumahnya sudah lama tak terawat karena kosong dan disebelahnya itu bekas gudang yang juga lama tak dipakai"ungkap Mulyono saat ditemui RadarSemarang.ID.
Saat melihat calon rumahnya waktu itu, Mulyono mengaku sebenarnya ada firasat rumahnya dan bangunan disebelahnya itu ada penunggunya, tapi karena kebutuhan mendesak tempat tinggal dan harganya yang terjangkau, akhirnya dia memutuskan membeli.
"Untuk ukuran lokasi dan luas bangunan, dengan harga yang ditawarkan itu sangat sangat murah, empat kali lipat dari harga pasaran di daerah itu"tutur Mulyono tanpa mau menyebutkan nominal harganya.
Pada bulan September 2025, Mulyono, istrinya dan dua anaknya pindahan dari rumah kontrakan mereka di Tlogosari ke rumah baru di Rejomulyo.
Malam Pertama menempati rumah baru, tidak ada kejadian-kejadian aneh yang mereka alami. Paling suara geludak-geluduk di bangunan bekas gudang disebelah kanan rumah .
Baca Juga: Asyik Begadang di Pos Kamling, Tiga Pemuda Diteror Suara Gamelan Dari Kebun Bambu
Mereka tak terlalu menghiraukan, karena beranggapan kemungkinan suara geludak-geluduk itu tikus yang berkeliaran di dalam bekas bangunan gudang.
Malam Kedua Suara Misterius
Malam kedua di rumah suasana berjalan tenang, hingga sekitar pukul dua dini hari, istrinya, Bu Istiqomah, mendengar suara seperti meja dan barang-barang di dalam bekas gudang seperti ada yang memindahkan.
"Kreekkkk... kreeekk... kreekkk..."
Padahal gudang itu sudah lama tutup, hampir sepuluh tahun dan tidak ada penjaga gudang yang menjaga.
Bu Istiqomah mencoba membangunkan suaminya.
“Pak, denger nggak?” bisiknya.
Mulyono yang sudah terlelap hanya menggerutu,
“Ah, mungkin suara tikus.”
Tapi suara itu semakin jelas. Kali ini tak hanya suara meja kursi yang di geser, tapi ada suara orang-orang yang sedang beraktivitas diselingi suara langkah kaki berjalan di lantai gudang tersebut.
Hingga pagi, Istiqomah dan suaminya, Mulyono mengabaikan suara-suara yang mereka dengar malam itu.
Penampakan Bocah di Jendela
Keesokan malamnya, sekitar pukul 7 malam, saat anak mereka, Dinda, yang baru berumur sepuluh tahun, tiba-tiba menjerit keras dari dalam kamarnya.
“Ibuuu! Ada anak kecil di jendela kamar!,” teriak Dinda.
Mulyono yang mendengar teriakan anaknya yang nomor dua itu, langsung bergegas berlari dari ruang tengah.
Saat di dalam kamar anaknya, dia mendapati di jendela, memang tampak bekas tapak tangan kecil di kaca, basah seperti baru disentuh dari luar.
Padahal kamar Dinda ada di lantai dua, dan jendelanya menghadap langsung ke tembok bekas gudang yang jaraknya hanya tiga meter.
Ketika Mulyono membuka jendela kamar, tidak terlihat siapa-siapa di luar. Tapi Dinda bersikeras melihat sosok anak kecil tanpa wajah, rambutnya terbakar sebagian, menatapnya diam-diam dari balik jendela.
Akhirnya malam itu, karena masih ketakutan, Dinda tidur bersama di kamar kedua orang tuanya, meski wajahnya masih terlihat ketakutan melihat penampakan bocah di jendela kamarnya.
Gundul Pecingis Menggelinding Di Depan Halaman Gudang
Seminggu pasca anaknya melihat penampakan bocah di jendela kamarnya, Mulyono dan keluarganya sudah tidak mendapat teror suara-suara misterius dari dalam bekas gudang triplek yang berada persis disebelah rumah mereka.
Sampai akhirnya, saat suatu malam Mulyono tengah santai diteras rumahnya pada tengah malam, secara tak sengaja, matanya menangkap sebuah benda yang menggelinding ke sana ke mari di halaman bekas gudang itu.
Semula dia mengira itu benda yang tertiup angin sehingga menggelinding diseputaran halaman gudang, tapi saat dia merasakan bahwa malam itu tidak ada angin yang berhembus, ada yang aneh.
Mulyono beranjak dari tempat duduknya dan berjalan mendekati halaman gudang yang bersebalahan dengan halaman rumahnya tapi dipisahkan tembok yang tidak terlalu tinggi, hanya satu meter,sehingga dirinya bisa melihat dengan jelas halaman gudang.
Saat persis berada disebelah halaman, Mulyono kaget, saat mengetahui benda yang menggelindin kesana kemari itu bentuknya bulat mirip kelapa tapi memiliki wajah manusia dengan muka yang menyeramkan, senyumnya menyeringai, dengan tatapan mata merahnya.
Meski melihat penampakan yang menyeramkan didepannya, Mulyono tak takut. Dia langsung beristighfar dan membaca doa-doa hingga akhirnya penampakan yang orang-orang bilang gundul pecingis itu hilang dengan sendirinya.
Justru setelah penampakan gundul pecingis di halaman bekas gudang itu, sudah tidak pernah terdengar lagi suara-suara aneh dan penampakan menyeramkan dari arah gudang.
"Alhamdulillah setelah saya lihat penampakan gundul pecingis itu, kami sekeluarga tak pernah dengar lagui suara-suara aneh atau makhluk menyeramkan, semoga tidak pernah ganggu lagi" harap Mulyono mengakhiri kisah horor yang di alami keluarganya. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi