RADARSEMARANG.ID - Sari Ekawati, seorang karyawati sebuah perusahaan di Semarang punya pengalaman horor yang tak bisa dia lupakan.
Wanita yang akrab disapa Sari itu bercerita kepada RadarSemarang.ID yang menemuinya di kantin kantornya saat istirahat siang.
Sari menceritakan, malam itu hujan turun hanya rintik kecil yang menampar genting rumahnya di salah satu kampung di daerah Gunungpati.
Jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul 23.40. Ia masih terjaga, menonton televisi sambil menyiapkan laporan kerja untuk dilaporkan ke kantornya esok pagi. Maklum dia adalah bagian administrasi keuangan kantor.
Rumah perempuan 26 tahun itu berada di sebuah gang sempit, hanya beberapa langkah dari rumah almarhum Bu Ratna, tetangganya yang meninggal tiga hari lalu.
Tetangganya itu dikenal ramah. Sari sering berbagi atau terkadang bu Ratna sering meminjam beberapa kebutuhan dapur atau membantu menjemur pakaian. Tapi sejak kematiannya, suasana gang jadi sepi dan agak dingin.
Ketika hendak mematikan televisi,karena laporan yang disusunnya sudah selesai, Sari mendengar suara sandal gesek di jalan depan rumahnya.
“Siapa yang lewat jam segini?” ucap Sarii dalam hati. Bergegas dia mengintip lewat jendela depan.
Dari sela tirai, dia melihat sosok perempuan berjalan perlahan di bawah sinar lampu jalan yang temaram. Kain dasternya bermotif bunga ungu. Rambutnya terurai, menutupi sebagian wajah.
Sari terpaku. Dia sangat mengenali daster itu, ya itu adalah daster yang biasa dipakai bu Ratna di malam sebelum meninggal.
Sosok itu berhenti tepat di depan pagar rumah Sari. Kepalanya menunduk, lalu perlahan mendongak.
Meski wajahnya tertutup rambut, Sari bisa melihat kulit pucat kebiruan dan mata kosong menatapnya.
Melihat penampakan yang hanya berjarak lima meteran, Sari tersentak mundur. Ia menutup tirai rapat-rapat, jantungnya berdebar kencang. Dari luar terdengar suara lembut memanggil namanya.
“Sari…pinjam gula, ya,” terdengar suara pelan bu Ratna dari balik tirai jendela.
Suara itu lirih, serak, namun sangat jelas.
Sari berusaha menenangkan diri. Ia menggenggam tasbih di meja, berdoa sekuat mungkin. Tapi semakin lama suara itu semakin dekat, seperti berasal dari dalam rumah.
Tiba-tiba lampu ruang tamu berkedip tiga kali, lalu padam. Hanya tersisa cahaya dari ponselnya di meja. Dalam kegelapan, terdengar suara sandal basah menapak di lantai.
Perlahan, aroma tanah basah memenuhi ruangan. Lalu, di belakang Sari terdengar suara yang sama, berbisik pelan di telinganya:
“Sari…gulanya udah aku balikin,”suara itu kembali menggema di dalam ruangan rumahnya.
Dengan segenap keberanian yang tersisa, Sari menoleh. Dan dia menjerit keras. Tetangganya yang sudah meninggal dunia itu berada tepat dibelakangnya, dengan wajah putih pucat, mata hitam dengan tatapan kosong dan mengenak daster yang dikenakan saat dia meninggal dunia.
Keesokan paginya, tetangga yang curiga, rumahnya sepi, menemukan Sari dalam keadaan pingsan di ruang tamu.
Anehnya, di meja dapur rumahnya, ada toples gula yang masih setengah penuh, dan terlihat ada jejak tanah merah basah di sekelilingnya. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi