RADARSEMARANG.ID - Cerita horor yang dialami seorang penghuni rumah kos di daerah Semarang Tengah. Pengalaman mistis menjadi penghuni rumah tua ini dibagikan Adam Bayu, 26, warga asal Rembang.
Pria yang akrab dipanggil Bayu ini baru satu tahun tinggal di kota Semarang, setelah diterima bekerja disalah satu perusahaan yang berlokasi di Jalan Pemuda. Sebelumnya dia bekerja di kota Cirebon.
Bayu memutuskan bekerja di ibukota Provinsi Jawa Tengah ini, dengan alasan lebih dekat dengan keluarganya yang tinggal di kota Rembang tepatnya di kecamatan Sulang.
"Ya biar kalau pulang dekat dengan keluarga, istri gak mau diajak pindah, karena kebetulan dia jadi guru disana dan anak saya masih kecil mas," tutur Bayu mengungkapkan alasannya.
Namun, siapa sangka kepindahannya dari Cirebon ke Semarang membuat Bayu memperoleh pengalaman mistis, saat dia baru saja pindah ke kota Lunpia ini. Semua berawal saat tinggal di sebuah rumah tua yang dijadikan rumah kos.
Di salah satu kampung tak jauh dari Pasar Johar, berdiri sebuah rumah tua dua lantai yang oleh pemiliknya dirubah menjadi tempat kos-kosan. Catnya sudah memulai memudar dimakan usia, atapnya bocor di beberapa tempat.
Baca Juga: Cerita Horor Driver Ekspedisi Ini Ditumpangi Cewek Misterius saat Melintas di Jalur Alas Roban
Meski berlokasi di pusat kota, namun pemilik kos tidak memasang tarif mahal.
"Untuk ukuran kos-kosan ditengah kota murah banget mas, karena itu banyak yang tingga disitu, terutama mahasiswa dan karyawan bergaji pas-pasan kayak saya," tuturnya.
Awal Januari, Bayu datang ke Semarang. Setelah mencari kesana kemari, akhirnya dia mendapat tempat kos yang menurutnya cocok. Selain tempatnya tenang, yang paling penting harganya terjangkau.
Di rumah kos yang berasitektur kolonial itu, Bayu menempati kamar nomor 11, di pojok lorong lantai dua, persis di bawah loteng yang jarang dibuka.
Saat bertemu Ibu Taslimah, pemilik kos yang menyerahkan kunci kamarnya, dia hanya berpesan singkat.
“Mas Bayu, saya pesen selama kos disini, jangan buka jendela kamar diatas jam dua belas malam ya, sama kalau denger suara-suara diatas, biarkan saja," ucap bu Taslimah waktu itu tanpa menyebutkan alasan larangannya itu.
Waktu itu, Bayu menganggap angin lalu larangan ibu kosnya tersebut. Dia mengira itu hanya candaan, sehingga Bayu tak bertanya lebih jauh tentang larangan ibu kosnya itu.
Tapi malam pertama menempati kamar kosnya, saat dirinya hendak tidur usai pulang kerja sekitar pukul 23.00, tiba-tiba Bayu mendengar suara langkah pelan di langit-langit kamarnya.
"Kayak suara orang jalan mondar-mandir di atas loteng, terus berhenti persis diatas kamar saya," ungkap Bayu.
Saat itu Bayu mengaku tak menghiraukan suara langkah itu. Duia teringat pesan ibu kosnya untuk mengabaikan jika mendengar suara di atas loteng.
Namun, ketika dia hendak memejamkan mata, tiba-tiba dari atas langit-langit kamarnya, dirinya mendengar suara orang tapi pelan.
Bayu langsung bangun dari peraduannya. Dia terduduk diatas kasur, berusaha medengarkan suara misterius itu dengan seksama. Dinding kamarnya terasa dingin seperti di dalam freezer lemari es.
Dia berusaha berpikir positip, mungkin suara langkah kaki dan suara orang berdesis diatas kamarnya hanyalah angin.
Tapi besok paginya, ia menemukan debu turun dari langit-langit, membentuk jejak langkah kecil menuju pintu kamarnya.
"Waktu bangun pagi sekitar jam setengah lima itu ada debu dari atas atap, terus bentuknya kayak kaki kecil mengarah pintu kamar saya, tapi saya anggap ahh mungkin debu biasa kebetulan bentuknya kayak mirip kaki," ujarnya.
Setelah melewati malam pertama di kamar kosnya yang baru, selama enam hari sama sekali tak lagi mendengar suara-suara misterius di atas loteng kamarnya.
Namun, memasuki minggu keduanya tinggal di rumah kos itu, sekitar pukul setengah satu malam, jendela kamarnya seperti ada yang mengetuk dari luar.
Belakang jendela kamarnya adalah sebuah halaman yang lumayan luas, yang biasa digunakan untuk menjemur pakaian.
Di pekarangan belakang kamarnya itu juga ada dua pohon yang lumayan besar, namun Bayu mengaku tak jenis pohonnya.
"Saya kebetulan lagi wa-nan sama istri, tiba-tiba kok jendela kamar ada yang ngetuk, suara pelan...tok..tok...tok," ucap Bayu.
Bayu memberanikan diri membuka jendela kamarnya. Tidak ada siapa-siapa, hanya halaman belakang gelap gulita.
Tapi saat ia menutup jendela, pantulan di kaca kamarnya memperlihatkan sosok perempuan pucat berdiri di belakangnya, menatap tanpa mata.
"Waktu itu saya cuma berdiri kaku, gak bisa teriak, kaki rasanya berat buat melangkah," ungkapnya.
Keesokan paginya saat hendak berangkat kerja, Bayu menyempatkan mampir ke Samsul, tetangga kamar kos, menceritakan penampakan yang dilihatnya. Samsul menanggapi serius.
“Loh sampeyan di kamar nomer 11 to? Harusnya udah dikosongin. Dulu ada cewek yang kos di sana, tahun lalu. Dia gantung diri di loteng. Sejak itu, orang yang tinggal di kamar sebelas selalu dengar dia jalan-jalan di atas,” kata Samsul saat itu.
Mendengar tanggapan teman sekosnya itu Bayu mengaku tak percaya. Dia mengira, Samsul hanya mengarang cerita.
Tapi malam harinya, saat dia sedang menyelesaikan pekerjaan kantornya yang belum beras di kamar kosnya.
Sekitar pukul satu malam, jendela kamarnya terbuka sendiri. Angin dingin berhembus membawa bau busuk.
Tiba-tiba dari cermin kaca yang menempel di tembok, dia melihat sekelebat bayangan. Mengira itu pencuri, Bayu langsung bergegas keluar kamar. Dia berjalan menuju tangga, karena bayangan yang dilihatnya mengarah ke sana.
Saat berjalan naik tangga menuju loteng, lampu tiba-tiba berkedip-kedip. Dari arah loteng terdengar suara seperti gesekan tali dan derit kayu, seperti sesuatu yang menggantung dan berayun perlahan.
Penasaran dengan suara itu, Bayu menengadahkan wajahnya. Dan, sebuah bayangan jatuh cepat dari atas, sesuatu yang mirip tubuh perempuan dengan rambut panjang menutupi wajahnya.
"Tubuh itu hampir menimpa saya sebelum menghilang begitu saja, terus yang bikin saya shock dan takut setengah mati, di tangga loteng itu ada bekas tali yang sudah kusut sama bau anyir banget," jelasnya.
Mendapati hal itu, Bayu langsung berlari ke kamarnya dan tanpa berpikir panjang, mengemasi barang-barangnya.
"Saya langsung lari ke kamar, ambil semua barang-barang, keluar dari rumah kos malam itu juga dan nyari losmen yang murah-murah untuk tinggal sementara"tutur Bayu.
Esok paginya, sebelum berangkat ke kantornya, Bayu menyempatkan menemui pemilik kos untuk berpamitan.
"Saat pamitan, ibu kos sepertinya paham apa yang saya alami, meski waktu itu saya tidak cerita," ucapnya. Dia mencari rumah kos lainnya yang lebih aman dan nyaman tanpa ada gangguan.
Kini sudah hampir satu tahun dia meninggalkan rumah kos, Samsul teman kosnya dulu yang ditemuinya bercerita, jika kamar nomor sebelas yang pernah ditempatinya, masih kosong dan terkunci rapat. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi