RADARSEMARANG.ID - Seorang pedagang warung makan di sekitaran Gunungpati Semarang menceritakan pengalaman horornya selama berjualan.
Namanya Suparman, 53, pria yang akrab dipanggil Parman ini bergantian menjaga warungnya yang nyaris buka hampir 24 jam.
"Kalau pagi sampe sore, biasanya istri yang nunggu warung, nanti kalo habis maghrib sampai tengah malam, gantian saya yang jaga warung," tutur Parman.
Warung Suparman ini meski berada ditepi jalan rraya Ungaran-Gunungpati, namun letaknya agak jauh dari pemukiman warga.
Warungnya sederhana terbuat dari kayu, beratap seng, dan hanya dilengkapi dengan beberapa kursi kayu sederhana.
"Jualannya ya seperti ini mas, cuma kopi saset, mi instan dan gorengan buatan istri, kalau pagi ada makan nasi lauk," ucap pria yang memiliki tiga anak ini kepada RadarSemarang.ID yang menemuinya diwarungnya yang sederhana.
Kebanyakan pembelinya sopir truk dan tukang ojek yang ngalong nyari penumpang pada malam hari.
Berjualan hingga tengah malam, meski berada ditepi jalan raya, namun beberapa kali dia mengaku mengalami peristiwa-peristiwa mistis.
"Ya gak sering mas, tapi beberapa kali pernah ngalami, ya kata orang mistis-mistis gitu ya," tuturnya.
Seperti yang dialaminya tiga bulan lalu. Dia masih ingat, hari Selasa malam. Waktu itu hujan rintik-rintik sekitar pukul 00.30.
"Malam itu sebenarnya saya mau tutup warung, karena cuaca germis, jalanan sepi banget, kayaknya udah gak ada orang lewat, mending saya mau tutup pulang ke rumah," ucap Parman.
Namun, saat dia hendak bersiap menutup warungnya, tiba-tiba didepan warungnya terdengar suara motor berhenti.
Seorang perempuan memakai jaket warna hitam dan helm full face yang menutupi wajahnya.
"Setelah turun dari motor, perempuan itu masuk kedalam warung saya gak lepas jaket dan helm, langsung duduk di kursi pojok, saya tanya kan minum apa mbak?" cetus Suparman.
Suparman mengungkapkan perempuan misterius itu hanya menjawab pelan, dengan suara yang menurutnya sedikit aneh
“Kopi hitam panas, dia menjawab nadanya pelan tapi piye yo mas, suorone kuwi agak aneh gitu loh,” ungkap Suparman.
Meski masih diliputi tanda tanya dengan perilaku pembelinya yang tidak membuka jaket dan helmnya, Suparman segera bergegas membuatkan kopi panas pesanannya.
Tak sampai satu menit, dia membuat kopi panas dan segera menghidangkannya di meja perempuan misterius tersebut.
Namun alangkah terkejutnya Suparman, saat dia menghidangkan kopi, perempuan itu tiba-tiba membuka helmnya dan penampakan mengerikan terlihat didepannya.
"Saat kopi saya taruh di mejanya dan saya mau bilang monggo mbak, dia tiba-tiba buka helmnya dan perempuan itu gak punya wajah mas, gak punya hidung, wajahnya halus rata bener-bener seram," ungkap Parman menggambarkan penampakan yang dilihatnya.
Sesaat Suparman mengaku waktu itu sempat terpaku dan segera membaca doa sesuai keyakinannya, hingga akhirnya penampakan didepannya seketika menghilang saat dia mengedipkan mata.
"Hilangnya waktu mata saya berkedip, perempuan itu menghilang," tuturnya.
Beberapa saat pembelinya itu menghilang, Suparman bergegas keluar warungnya untuk mengecek keberadaan motor yang ditumpangi perempuan itu.
"Saat saya cek, motor yang suaranya terdengar, juga sudah gak ada didepan warung," ucapnya.
Meski baru saja melihat penampakan menyeramkan persis dihadapannya, Suparman mengaku tidak trauma sama sekali.
Baca Juga: Pria Ini Diganggu Penampakan Menyeramkan saat Menginap di Salah Satu Hotel di Bandungan, Auto Kabur
"Ya kalau trauma atau takut enggak sih, cuma agak kaget saja, yang penting kita berdoa. Mungkin itu mbaknya pengen mampir saja malam itu," ucapnya lagi.
Gangguan berupa penampakan itu merupakan gangguan terjelas yang pernah dilihatnya saat dia berjualan malam hari.
"Kalau gangguan suara beberapa kali pernah, yang sering itu suara motor kencang lewat depan warung, tapi gak ada penampakan kendaraan dan pengendarannya," cetusnya.
Yang terpenting, uungkap Suparman, penampakan makhluk halus tidak menampakan diri saat istrinya berjaga warung.
"Istri saya orangnya penakut, nanti kalau lihat yang serem dia gak mau nunggu warung," tutup Suparman mengakhiri cerita horornya. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi