RADARSEMARANG.ID - Cerita horor dialami Paryono (47), warga Banaran, Grogol, Sukoharjo, yang merantau ke kota Semarang, menjadi pedagang bakso keliling.
Profesi ini sudah ditekuni Paryono sejak usianya masih 25 tahun, artinya dia telah berjualan bakso keliling hampir 22 tahun.
"Wahh awit jaman taseh bujangan mas, saking ndereng gadah anak sampe mpun gadah anak kalih (wah sejak jaman masih bujang mas, dari belum punya anak sampai sudah punya anak dua)," tutur Paryono dengan bahasa kromo khas Solo saat ditemui RadarSemarang.ID.
Paryono biasanya berjualan keliling dikawasan Gisikdrono dan sekitarnya, berjualan selepas magrib hingga habis dagangannya.
"Ya jualan sampe habis mas, kadang jam sepuluh malam udah habis, tapi seringnya diatas jam 11 malam baru habis, tapi Alhamdulillah selama jualan selalu habis," ucap pria yang akrab disapa pak Yono ini.
Berkeliling setiap malam menyusuri perkampungan, melewati pemukiman warga yang ramai penduduk, melintasi tanah kosong, pemakaman bahkan melewati orang yang sedang pesta miras, membuatnya punya beragam pengalaman.
"Macem-macem mas, pernah pas lewat orang yang sedang mabuk-mabukan, terus pada pesen bakso, habis makan gak mau bayar, yo wes ta ikhlaske dari pada nanti ta minta bayar malam ngamuk, jadi repot saya," ungkap pak Yono menceritakan salah satu pengalamannya.
Pengalaman mistis beberapa kali juga dialaminya, mulai dari hal yang ganjil sampai dengan yang membuatnya sempat ketakutan.
"Dulu waktu awal-awal jualan, sering ngalami kejadian mistis, kuah bakso sering bau, padahal baru selesai dibuat, waktu muter tahu-tahu bau," ucapnya mengenang kejadian yang dialami saat awal-awal berjualan.
Namun satu pengalaman horor yang masih dikenangnya dan sempat membuatnya ketakutan terjadi ketika melewati pemakaman kampung.
"Makamnya ini memang agak beda, kalau ditempat lain itu berdekatan dengan rumah-rumah warga, nah kalo ini agak jauh pemakamannya," ungkap pak Yono memulai pengalaman horor yang pernah dialaminya.
Dia menggambarkan pemakaman ini termasuk makam lama, menurut warga sekitar sudah ada sejak tahun 1980-an dan terkenal angker.
Lokasinya berada di tepi sungai yang tidak terlalu lebar, diapit rimbun bambu dan sebuah bekas gudang yang sudah puluhan tahun mangkrak.
"Jalan depan makam ini kalau sudah diatas jam sembilan malam sepi, orang males lewat situ, mending muter meski agak jauh, selain sepi juga lampu jalannya kurang jadi agak gelap," tuturnya.
Paryono sendiri mengaku melewati jalan itu jika terpaksa saja, dia lebih memilih memutar jalan ketimbang melewati depan pemakaman tersebut.
"Kalau cuaca mulai mendung atau mau hujan saya biasanya terpaksa lewat jalan depan makam itu, karena lebih cepat sampai rumah kontrakan kalau mau pulang," beber pak Yono mengungkapkan alasannya.
Sebenarnya, tambah Yono, bukan area pemakaman itu yang membuatnya agak takut kalau melewati jalan itu, tapi adalah bangunan bekas gudang yang sudah puluhan tahun terbengkalai.
Konon katanya di dalam bekas bangunan gudang itu pernah menjadi tempat pembuangan mayat korban pembunuhan.
"Ceritanya dulu ada mayat dibuang didalam bekas gudang itu, jenazahnya baru ketahuan beberapa hari. Dibunuhnya tidak disitu, tapi dibuang di dalam situ," ungkapnya.
Singkat cerita, suatu malam saat hujan rintik-rintik mulai turun, pak Yono memutuskan untuk pulang ke kontrakannya.
Untuk menghindari hujan, dia akan memilih lewat jalan pintas melewati depan pemakaman dan bekas bangunan gudang.
"Saya lupa harinya, tapi belum lama kejadiannya, waktu itu hujan gerimis sudah mulai turun, jualan tinggal beberapa porsi, saya putuskan pulang, siapa tahu di tengah jalan ada yang beli," ucapnya.
Jarum jam saat itu baru menunjukkan jam sepuluh malam, masih sore sebenarnya, namun kondisi jalan yang mengarah ke pemakaman itu benar-benar lengang, tak ada satupun orang yang melintas.
"Ya kan mungkin sudah mulai gerimis, orang juga males keluar rumah," kata pak Yono menerka-nerka waktu itu.
Dengan sedikit agak terburu-buru pak Yono mendorong gerobak dagangannya melewati jalanan yang gelap karena minimnya lampu penerangan jalan.
Sekitar tiga puluhan meter menjelang area pemakaman dan bangunan bekas gudang, samar-samar dia melihat ada seorang laki-laki yang berdiri persis didepan pintu masuk bekas bangunan gudang tersebut.
Baca Juga: Misteri Penampakan 'Kunti Merah' di Terowongan Bendan Semarang
"Jadi kan bekas bangunan gudang itu bersebelahan persis dengan makam, nah didepan pintu masuk gudang, dari jarak agak jauh saya lihat kayak ada orang laki-laki berdiri, tapi kepalanya menunduk," ungkapnya.
Melihat penampakan itu, Yono memperlambat laju mendorong gerobag baksonya, ada perasaan ragu dan takut. Ragu, apakah yang dilihatnya itu manusia atau bukan.
Semakin mendekati sosok laki-laki yang berdiri ditepi jalan, persis dipintu masuk bekas gudang itu. Sepuluh meter dari penampakan itu, Yono mulai agak jelas melihat sosok tersebut.
Dia menggambarkan, sosok itu seorang laki-laki, berusia sekitar 30-an tahun, bertubuh kurus, namun yang membuatnya kaget adalah sebagian wajahnya terkelupas seperti terkena bekas sabetan senjata tajam, kepala bagian atas ada luka menganga dan yang lebih mengerikan lagi satu bola matanya hilang.
"Saya lihat dari jarak sepuluhan meter, kaki ini gemeter, mau teriak gak bisa, mau ndorong gerobak juga kayak gak punya tenaga," ungkapnya menggambarkan situasi yang dialaminya saat itu.
Ketakutannya semakin menjadi, saat sosok menyeramkan itu menoleh kearahnya, seolah-seolah sudah menunggu lama hendak membeli baksonya.
"Waktu noleh kearah saya itu, kelihatan jelas banget bentuk wajahnya yang sudah rusak seperti bekas dianiaya, terus kaos dan celananya sepintas kayak ada bekas darah yang sudah warnanya kecoklatan," gambarnya.
Melihat pemandangan itu, pak Yono berusaha lari meski langkahnya terasa berat. Dia kabur meninggalkan gerobak baksonya di tengah jalan.
"Saya kabur ke arah kampung, jaraknya sekitar lima ratusan meter, sampai akhirnya ditolong warga yang sedang cangkruk di pos kamling," ungkapnya.
Warga yang melihat kedatangannya dengan lari ketakutan dari arah pemakaman dan bekas gudang, seperti sudah tahu apa yang baru saja dialaminya.
"Ada yang nyeletuk salah satu bapak-bapak disitu, wahh pak Yono akhire diweruhi juga sing mbahu rekso gudang (wahh pak Yono akhirnya dilihati juga penampakan penunggu gudang)," ucapnya menirukan celetukan warga saat itu.
Masih dengan perasaan takut, nafas tersengal, dia menceritakan apa yang baru dialaminya. Termasuk ciri-ciri penampakan yang dilihatnya.
Wargapun mengatakan, jika ciri-cirinya sama dengan mayat korban pembunuhan yang terjadi beberapa tahun silam.
"Kata warga itu sama dengan mayat yang ditemukan didalam bekas bangunan gudang itu," tuturnya.
Setelah dirinya mulai tenang, oleh warga kemudian dia diantar ramai-ramai mengambil gerobak baksonya yang dia tinggal didepan bekas bangunan gudang tersebut.
Dan saat tiba dilokasi, Yono dan warga saat itu mengaku kaget, karena gerobak baksonya sudah berpindah tempat dari semula ditepi jalan berpindah persis di depan pintu gudang tempat dulu pernah ditemukan mayat korban pembunuhan.
"Anehnya, gerobag saya itu pindah kedepan pintu gudang, jaraknya dari tepi jalan itu sekitar 30 meteran," ungkapnya masih dengan nada keheranan.
Saat dicek bersama warga, dagangan bakso dan uang yang ada didalam laci gerobak semuanya masih utuh, hanya satu mangkuk miliknya yang berpindah, diletakkan di gagang pintu gudang.
Baca Juga: Cerita Horor Karyawan Swasta di Semarang Ini 'Diteror' Lemparan Sapu Lidi saat Duduk di Taman Kantor
"Mangkuk saya itu dicantolkan digagang pintu gudang, anehnya gak jatuh, padahal nalarnya harusnya jatuh," ungkapnya.
Lalu, siapa yang memindahkan gerobaknya? Apakah penampakan makhluk halus yang menyerupai korban pembunuhan yang mayatnya dibuang didalam gudang itu, atau ada orang iseng yang sengaja memindahkannya?
Wallahualam, misteri itu tak pernah menemukan jawabannya. Karena sejak kejadian itu, pak Yono memilih menghindar lewat jalan depan makam dan bangunan bekas gudang tersebut. Dia lebih memilih memutar jalan, ketimbang bertemu makhluk menyeramkan itu. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi