RADRASEMARANG.ID - Cerita horor di Semarang kali ini dialami Sugiono (35), warga Sadeng. Kampung Sadeng adalah salah satu kelurahan yang berada di kecamatan Gunungpati.
Sehari-hari Sugiono bekerja sebagai buruh bangunan. Namun, dia pernah juga bekerja sebagai penjaga malam, saat garapan sebagai buruh bangunan proyek sepi.
Menjalani pekerjaan sebagai penjaga rumah dilakoninya sekitar empat bulan lalu, saat diminta salah seorang tetangganya untuk menjaga rumah seorang pengusaha di kawasan Semarang atas.
“Itu rumah pengusaha, tapi tidak ditempati, hanya sesekali ditengok, karena pemiliknya bersama keluarganya lebih banyak tinggal di Jakarta,” ungkap Sugiono mengawali awal mula dia bekerja sebagai tenaga penjaga rumah.
Rumah milik pengusaha itu, ungkap Sugiono, berada di kawasan elite Semarang, tak jauh dari rumah-rumah dinas pejabat.
“Rumahnya besar-besar tapi banyak yang kosong, ada rumah lama jaman Belanda ada juga rumah-rumah baru, tapi hampir lima puluh persen banyak yang kosong,” kata pria yang biasa dipanggil Giono ini.
Saat diantar tetangganya melihat rumah yang akan dijaganya, dia sempat tertegun dengan kondisi rumah dan suasana disekitar rumah tersebut.
“Rumahnya besar dan asri, bangunan lama tapi bukan bangunan peninggalan Belanda, perabotan rumahnya juga banyak yang kuno-kuno, saya sampe mikir sayang juga rumah besar kayak gini kok gak ditempati,” ungkapnya dalam hati.
Oleh tetangganya yang ditugasi menjaga dan membersihkan rumah sang pengusaha, dia ditunjukkan kamar untuk istirahat diruangan pojok belakang.
“Oleh tetangga, saya ditunjukkan kamar, iki kamarmu buat istirahat kalau malam,” kata Giono menirukan ucapan tetangganya waktu itu.
Di rumah besar itu, Sugiono bertugas sendirian menjaga dan merawat rumah tersebut.
“Gak tahu kenapa dengan penjaga sebelumnya, tetangga saya itu cuma bilang yang kerja sebelumnya keluar karena pulang kampung dan gak balik lagi ke Semarang,” cetusnya.
Sugiono sendiri bekerja sebagai tenaga penjaga dan bersih-bersih rumah itu karena tergiur dengan gajinya yang cukup besar, apalagi dia boleh menggunakan peralatan yang ada dirumah tersebut.
“Saya boleh tiduran di sofa ruang tengah sambil nonton tv, memakai peralatan dapur buat masak dan pakai motor yang ada digarasi, satu yang dilarang saya gak boleh tidur di kamar bos,” tutur Sugiono.
Baca Juga: Misteri Penampakan 'Kunti Merah' di Terowongan Bendan Semarang
Saat itu dia juga sempat melihat suasana sekitar rumah yang akan dijaganya, dimana rumah tersebut terletak agak jauh dari rumah-rumah lainya.
Kanan kiri dan bagian belakang rumah masih berupa tanah kosong yang ditumbuhi semak-semak.
“Rumah yang paling dekat jaraknya sekitar 20 meter, kondisi jalannya naik turun kayak dikampung saya, karena memang masuk Semarang atas,” tuturnya.
Singkat cerita, Sugiono memulai malam pertama tugasnya sebagai penjaga rumah sang pengusaha.
Setelah memastikan pagar depan terkunci, dia langsung ke ruang tengah ingin menonton televisi.
“Biar merasakan kayak orang kaya, nonton tv sambil duduk di sofa empuk, ngemil makanan hehe,” ucapnya.
Dia masih ingat malam itu dirinya menyaksikan pertandingan Timnas Indonesia melawan Arab Saudi.
Kebiasannya nonton bola sambil teriak-teriak terbawa saat berada dirumah tersebut, apalagi lingkungan sekitar yang sepi mendukung dia meluapkan ekspresinya.
“Wah saya kalau nonton bola, kalau gak teriak-teriak gak afdol. Apalagi waktu lawan Arab kan tegang dan bikin emosi tuh,” ungkapnya.
Nah, disaat tengah asyik nonton bola disertai dengan teriakannya, Sugiono tiba-tiba dikejutkan dengan suara ketukan pintu belakang dekat kamarnya yang terdengar cukup keras.
“Lagi asyik nonton, tiba-tiba pintu belakang ada yang ngetuk-ngetuk suaranya keras sekali, lebih seperti kayak digedor-gedor,” ungkapnya.
Sugiono yang mendengar suara ketukan cukup di pintu belakang, langsung bergegas menuju pintu untuk memastikan siapa yang mengetuk pintu belakang malam-malam.
“Saat saya berjalan dari ruang tengah ke pintu belakang, suara gedoran pintu itu berhenti,” tuturnya.
Namun Sugiono tetap akan mengecek sembari membawa lampu senter, karena sore sebelumnya dia sempat melihat bagian belakang rumah tersebut berupa tanah kosong yang dipenuhi semak-semak.
Baca Juga: Ngeri! Buruh Bangunan di Semarang Melihat Penampakan Kuntilanak di Bawah Pohon Randu
“Saat pintu saya buka, saya lihat bagian belakang rumah yang berupa tanah kosong itu gelap banget, saya terangi pakai senter, gak ada orang sama sekali,” ucap Giono.
Setelah memastikan tidak ada orang, dia kemudian kembali menuju ruang tengah untuk melanjutkan menyaksikan pertandingan sepak bola.
Namun baru saja pantatnya menyentuh sofa, tiba-tiba kembali terdengar suara yang cukup keras dari pintu belakang.
“Kali ini suaranya seperti ada yang melempar batu, beberapa kali ada lima sampai enam kali lemparan,” cerita Giono.
Dia yang merasa terganggu, langsung mengambil stick golf yang ada dipojokan ruangan.
“Saya jengkel, ta pikir ada orang yang ganggu, langsung saya ambil stick golf yang ada disitu untuk jaga-jaga,” ucap Sugiono.
Dengan perasaan jengkel, dia langsung menuju pintu belakang dan membuka pintu. Sugiono sempat keluar ke are tanah kosong yang ada dibelakang rumah tersebut.
“Saya jalan masuk ke dalam tanah kosong itu, sambil ta sorot pakai senter, tapi gak ada tanda-tanda mencurigakan seperti bekas orang yang jalan disitu atau sembunyi,” tambahnya.
Jengkel karena tak menemukan siapa yang melempar batu ke pintu belakang rumah, Sugiono mengaku saat itu kesal, hingga akhirnya dia mengucapkan sesuatu bernada menantang.
“Jengkel aku to mas, terus aku ngucap waktu itu, wes ora ganggu wong lagi nonton tv,ne wani tunjukke rupamu kene, aku ora wedi (Jengkel aku to mas, terus aku bilang waktu itu, sudah gak usah ganggu orang yang sedang nonton tv, kalau berani tunjukkan wajahmu, aku tidak takut),” kata Sugiono menggunakan bahasa Jawa waktu itu.
Ditunggu beberapa saat setelah ucapanya itu, tidak ada tanda-tanda penampakan. Hanya desiran angin tiba-tiba menerpa wajahnya.
“Setelah saya ucap itu, gak lama wajah saya kayak ada yang niup angin rasanya dingin,” imbuhnya.
Setelah itu, Sugiono langsung kembali mengunci pintu belakang dan berjalan ke ruang tengah untuk melanjutkan menonton.
Namun, alangkah terkejutnya saat hampir sampai sofa yang akan diduduki, langkah kakinya seketika terhenti.
Persis didepannya, berjarak tak lebih dari dua meter, ada sosok perempuan tengah duduk menonton tv.
“Itu hantu perempuan, bajunya putih tapi kotor, rambutnya panjang, dua tanganya kurus kering hitam itu bersandar dibelakang sofa, baunya juga bikin mual,” kata Sugiono menyebutkan ciri-ciri sosok hantu perempuan yang ada didepannya waktu itu.
Dia tak sempat melihat bentuk wajahnya, namun sepintas terlihat wajahnya hitam.
“Saya langsung kabur mas, lari ke kamar, ta kunci, badan ta selimuti, juga gak sempat matikan tv,” ucapnya.
Ternyata meski sudah masuk ke dalam kamar, teror hantu perempuan itu tak berhenti.
Sepanjang malam itu, suara-suara misterius terdengar bergantian. Mulai dari langkah kaki yang diseret didepan pintu kamarnya, suara tangisan perempuan.
“Terus pintu belakang berkali-kali digedor-gedor keras, setelah itu ada suara perempuan ketawa dari belakang rumah,” ucap Sugiono mengungkapkan teror yang dialaminya waktu itu.
Teror hantu perempuan baru berakhir menjelang subuh, diakhiri dengan ketukan pintu kamarnya berkali-kali kemudian terdengar suara perempuan tertawa.
Baca Juga: Cerita Horor Karyawan Swasta di Semarang Ini 'Diteror' Lemparan Sapu Lidi saat Duduk di Taman Kantor
“Pintu kamar diketuk berkali-kali, terus habis itu kedengaran suara perempuan tertawa cekikikan tapi gak terlalu keras, terus sunyi, sampai akhirnya sayup-sayup kedengaran suara adzan subuh,” ungkapnya.
Barulah setelah terdengar suara adzan subuh, Sugiono berani keluar rumah. Praktis semalaman dia tidak bisa tidur, karena teror hantu perempuan dirumah yang dijaganya.
Saat melihat ke ruang tengah, televisi masih menyala, camilan yang tadinya dimeja berhamburan di lantai.
Dan, anehnya stick golf yang sempat dibawanya dan dilempar ke lantai saat dia berlari ketakutan, posisinya ada di sofa dengan posisi berdiri di sandaran kursi sofa.
“Padahal waktu itu, sticknya saya lempar ke lantai waktu saya lari ke kamar, tapi itu kok tergeletak di sofa,” tuturnya dengan nada keheranan.
Setelah kondisi mulai terang, matahari mulai terlihat bersinar, Sugiono langsung menelpon tetangganya.
“Hari itu juga saya langsung minta berhenti jaga rumah pengusaha tersebut, tapi anehnya tetangga saya itu tidak kaget atau apa waktu saya bilang mau berhenti, sepertinya dia sudah tahu,” pungkas Sugiono. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi