RADARSEMARANG.ID - Cerita horor kali ini masih seputar penampakan hantu kuntilanak, yang menghantui warga yang kebetulan tengah beraktivitas pada malam hari.
Cerita horor melihat penampakan makhluk halus kali ini dialami Bramoko (34), seorang karyawan yang bekerja di sebuah rumah makan yang berlokasi di rest area tol Krapyak.
Rest area tol Jatingaleh-Krapyak ini berada di KM 424 B, Semarang, berada disebelah kiri dari arah Tol Jatingaleh ke arah Tol Krapyak.
Rest area Km 424 B Semarang ini dilengkapi minimarket, bengkel pengisian nitrogen hingga restoran dan rumah makan selain tempat istirahat dan mushola.
Bramoko sendiri baru beberapa bulan bekerja di rumah makan tersebut, sebelumnya pria yang akrab dipanggil Bram ini bekerja di Jakarta.
“Bosen di Jakarta, nyari-nyari kerjaan yang dekat rumah, akhirnya dapet kerja di rumah makan di rest area Krapyak, ya saya syukuri yang penting deket rumah,” ungkap warga Jatingaleh ini.
Baca Juga: Misteri Penampakan 'Kunti Merah' di Terowongan Bendan Semarang
Lokasi tempat tinggalnya dengan tempat bekerja memang terbilang sangat dekat, dapat ditempuh tak lebih dari sepuluh menit.
Bekerja di rumah makan yang buka di rest area, tambah Bram, membuat tempat bekerjanya itu buka 24 jam.
“Karena itu kami kerja dengan sistem shift, pagi siang dan malam, persis kayak kerja dipabrik,” ungkap Bram.
Karena dia berangkat dengan mengendarai sepeda motor, untuk bisa menjangkau resta area tersebut, biasanya karyawan yang bekerja di rest area itu melewati sebuah jalan setapak yang lokasinya persis sebelum terowongan Bendan, Sampangan yang terkenal angker.
“Jadi kalau kita yang kerja naik motor,mau ke resta area tempat kerjaan itu harus melewati jalan setapak, itu dari arah kampus Univet naik,nah sebelum terowongan Bendan,sebelah kiri ada jalan setapak itu masuk lurus,” ungkap Bram.
Karena namanya jalan setapak, jalan menuju rest area Krapyak memang hanya bisa dilalui dengan jalan atau sepeda motor. Jaraknya kurang lebih dua ratusan meter dari jalan raya.
“Jalannya masih berupa tanah, kanan kiri itu semak-semak dan kebun yang tidak terawat, berada di belakang kampus pelayaran,” jelasnya.
Baca Juga: Ngeri! Buruh Bangunan di Semarang Melihat Penampakan Kuntilanak di Bawah Pohon Randu
Seperti hari itu, dia mendapat giliran shift masuk jam 1 malam. Bram sudah mulai bersiap-siap sekitar pukul 24.30. Sepeda motor maticnya sudah dikeluarkan dari dalam rumah.
“Saya biasa berangkat kerja sepuluh atau lima belas menit sebelum jam shift,karena dekat, paling sepuluh menitan sampai,” ungkapnya.
Tapi malam itu Bram berangkat lebih awal, karena cuaca baru saja turun gerimis.
“Berangkat agak awal malam itu, karena gerimis, takutnya nanti malah hujan deras.Karena kalau hujan,jalan menuju rest area itu sering licin, bisa bikin jatuh, selain gelap karena lampu jalannya minim,” tutur pria lajang ini.
Di tengah cuaca gerimis, Bram memacu kendaraannya agak sedikit lebih kencang menuju tempat dia bekerja.
Hampir sepuluh menit berkendara dirinya sudah memasuki jalan setapak menuju resta area Krapyak.
“Saat hendak masuk jalan setapak itu khan mulai dari kampus Univet otomatis lihat terowongan Bendan ya, hawanya kok tiba-tiba merinding. Saya jadi mikir, jangan-jangan nanti lihat penampakan diterowongan,” duga Bram.
Saat mendekat terowongan Bendan yang legend itu, dia mengaku sudah siap jika memang harus melihat penampakan yang kata orang-orang sering dilihati kuntilanak berbaju merah.
“Sebelum mendekati terowongan itu saya baca-baca dia sebisanya, udah siaplah kalau lihat penampakan disitu,” tuturnya.
Dan ternyata dirinya sama sekali tidak melihat penampakan atau makhluk halus di terowongan itu. Motorpun diarahkan masuk ke jalan setapak menuju rest area.
“Alhamdulillah, gak dilihatin penampakan di terowongan itu,” ungkap Bram lega.
Namun, baru lima puluhan seratusan meter melaju di jalan setapak menuju rest area Krapyak, di antara kampus belakang sebuah kampus pertanian dan pelayaran, Bram seketika mengerem motornya secara mendadak.
Terlihat didepannya,sosok tinggi besar kurang lebih nyaris dua meteran, berwajah hitam menyeramkan, mata merah menyala,mulut lebar dan berambut kriwil-kriwil hitam kecoklatan duduk persis ditengah jalan mencegat dirinya. Sosok hantu genderuwo.
Baca Juga: Cerita Horor Warga Pucang Gading Semarang Lari Terbirit-birit saat Melihat Patung Ini di Museum
“Kuaget aku mas, jantung rosone meh copot wektu kuwi (Kaget aku mas, jantung rasanya mau lepas waktu itu),” kata Bram dengan logat baha Jawa.
Jarak antara dirinya dengan hantu genderuwo itu kurang lebih meteran,sehingga dia bisa melihat penampakan makhluk tersebut dengan jelas.
“Saya lihat persis wajahnya kayak yang di film-film, terus waktu itu sebelum dilihati saya sudah mencium bau kayak orang bakar ketela,”ungkapnya.
Meski dilanda ketakutan, dia berusaha tetap tenang, sembari berujar meminta izin lewat.
“Amit..amit mbah,nderek langkung,ampun ganggu kulo, kulo mung badhe kerjo pados rejeki (permisi..permisi mbah,numpang lewat,jangan ganggu saya,saya cuma mau kerja cari rejeki),” kata Bram berharap ujarannya manjur dan makhluk menyeramkan didepannya hilang.
Namun ucapannya tak manjur, genderuwo itu tetap duduk ditengah jalan, hingga seluruh tubuhnya yang besar menutupi jalan setapak yang hanya cukup dilalui sepeda motor.
Beberapa detik makhluk halus berwujud genderuwo itu, masih duduk ditengah jalan setapak itu dan dirinya masih terpaku karena benar-benar tidak bisa apa-apa lagi.
“Badan ini udah kaku lemes, gak bisa digerakkan lagi karena saking takutnya,” ucapnya.
Genderuwo itu akhirnya menghilang dari pandangannya setelah dari kejauhan terdengar suara sepeda motor.
“Waktu terdengar ada suara motor dari arah rest area, genderuwo itu seperti mengeluarkan asap dan hilang,” tutur Bramoko.
Dia masih terpaku diatas sepeda motornya kaget,saat pengendara motor yang ternyata pekerja di resta area tol Krapyak berhenti didepannya sembari bertanya.
“Lah kowe mandek neng kene nopo Bram, bar diweruhi gendruwo opo kunti hehehe (Lah kamu mengapa berhenti disini Bram, apa baru saja melihat penampakan genderuwo atau kuntilanak),” kata temannya sembari terkekeh seolah tahu apa yang baru saja dialaminya.
Bram menjawab dengan singkat sembari melajukan motornya.
“Iyo genderuwo,” jawabnya sembari tancap gas ke lokasi tempat kerjanya.
Ternyata, tambah Bramoko, hampir semua teman-temannya sekerja yang masuk shift malam pernah mengalami peristiwa mistis saat melewati jalan setapak itu.
“Betul kata teman-temanku, biasanya kalau gak genderuwo atau kuntilanak. Tapi, mereka cerita tidak pernah melihat genderuwo menghadang ditengah jalan, biasanya duduk agak jauh dibawah pohon,” ungkapnya.
Jalan setapak menuju rest area tempat pekerjaannya itu menjadi kenangan tak terlupakan bagi Bramoko yang cuma bertahan beberapa bulan bekerja di rumah makan yang buka di resta area tol Krapyak.
Kini, dia berpindah kerja sebagai tukang kebun sekolah swasta dikawasan Banyumanik.
“Itu pengalaman paling menyeramkan dan menakutkan mas”pungkasnya. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi