RADARSEMARANG.ID - Bekerja sebagai buruh bangunan, membuat Supriono (49), warga Pandean Lamper Semarang ini harus siap bekerja di manapun, sesuai dengan order kerjaan yang diterima.
Seperti tujuh Bulan lalu dia mendapat orderan membangun sebuah ruko di daerah Gunungpati, lokasi pembangunan berada ditepi jalan utama, namun agak jauh dari perkampungan penduduk.
“Dari bos dapat perintah untuk membangun ruko, lokasinya diseputaran Gunungpati, agak jauh dari kampung warga, kanan kiri belakang masih kebun dengan pepohonan yang besar-besar,” kata Supriono menggambarkan kondisi tempat proyeknya.
Bersama dengan enam temannya mereka mengerjakan ruko dua lantai tersebut dan diperkirakan selesai dalam waktu lima bulan.“Rencananya lima bulan sudah selesai ” tuturnya.
Selama pelaksanaan proyek Supriono dan satu temannya akan tidur di lokasi proyek, karena ditugaskan bosnya untuk menjaga material bangunan.
Baca Juga: Serem! Niat Numpang Berteduh, Perempuan Ini Justru Melihat Penampakan Horor Penunggu Kantor
“Saya sama teman satu orang ditugaskan jaga bahan-bahan material dilokasi proyek biar aman gak dicolong mas,” kata pria yang akrab dipanggil Supri ini.
Singkat cerita, satu bulan sudah proyek yang dikerjakan Supri dan temannya sudah berjalan. Hingga pada suatu malam, tiba-tiba perutnya terasa mules. Saat itu jarum jam menunjukan jam 2 dini hari.
“Gak tahu, perut malam itu mules banget, gak kayak biasane mas,” ungkap Supri.
Terpaksa dia harus pergi ke WC yang jaraknya dua puluh meteran dari barak tempat dia tinggal.
“Selain terpisah dari barak, WCnya itu juga gak ada kran airnya, jadi kalau mau makai toilet itu kita harus nimba air dulu yang jaraknya dari WC kurang lebih sepuluh meteran,” ucap Supri.
Posisi WC dan sumur itu,tambahnya berada ditengah-tengah kebun. Karena toilet itu sifatnya sementara.
“Itu memang tempat WC darurat mas, jadi ya terpisah dengan sumur, ngambil airnya manual, karena dilokasi belum dialiri listrik, kita pakai genset yang hanya dipakai kalau pas kerja aja,” ujarnya.
Dalam kondisi perut mules, Supri langsung bergegas ke arah sumur untuk mengambil air lebih dahulu.
Saat berjalan ke sumur, dirinya merasakan wajahnya seperti terkena tamparan angin yang sangat dingin.
Baca Juga: Cerita Horor Karyawan Swasta di Semarang Ini 'Diteror' Lemparan Sapu Lidi saat Duduk di Taman Kantor
“Perasaan saat jalan itu angin berhembus dingin banget mengenai muka, itu saya rasakan mulai keluar bedeng ke sumur dan saat mau masuk toilet,” ungkapnya.
Karena hasrat besar untuk segera menuntaskan BABnya, Supri mengabaikan hawa yang dirasa aneh itu. Diapun langsung masuk kedalam WC sembari menenteng ember yang penuh berisi air.
Namun, baru beberapa detik dia jongkok, tiba-tiba pintu toilet yang terbuat dari seng bekas terbuka sendiri.
“Itu pintu WCnya tiba-tiba buka nutup buka nutup sendiri beberapa kali, saat menutup pintunya seperti dilempar dengan keras, dubraaakkk keras banget,” ungkap Supri.
Baca Juga: Cerita Horor Warga Pucang Gading Semarang Lari Terbirit-birit saat Melihat Patung Ini di Museum
Dia waktu itu hanya terbengong menatap pemandangan pintu WC didepannya membuka dan menutup sendiri seperti ada yang menggerakan.
Puncaknya, saat pintu terbuka, diseberangnya dengan jarak lima meteran terlihat sosok perempuan berbaju putih yang sudah lusuh, rambut panjang, tangan kurus berwarna kehitaman berdiri dibawah pohon randu dengan posisi membelakangi dirinya.
“Saat pintu masih terbuka, itu dibawah randu jaraknya lima meteran dari tempat saya jongkok, hantu kuntilanak berdiri tapi posisinya membelakangi saya, jadi saya gak tahu persis bentuk wajahnya,” ungkapnya.
Seketika dia langsung menghentikan “ritualnya” meski belum tuntas. Dia lari tunggang langgang ke bedeng.
“Saya lari to mas, padahal ya belum selesai buang air besarnya, tapi karena takut setengah mati, saya pilih lari ke bedeng daripada kuntilnaknya tiba-tiba berdiri didepan pas saya jongkok haha”kenangnya.
Penampakan hantu kuntilanak ditempat proyeknya itu,tambah Supri, sekaligus menjawab rasa penasarannya selama ini.
“Sejak tinggal di bedeng proyek, beberapa kali atap seng tempat kami tinggal seperti ada yang melempari dengan kerikil. Awalnya saya kira orang iseng atau orang yang hendak berbuat jahat,” tandasnya.
Dia menduga hantu kuntilanak itulah yang mengganggu dengan melempari bedeng selama ini. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi