RADARSEMARANG.ID - Diterima bekerja selepas lulus SMA, membuat Andi Riyanto (23) tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Harapan membantu orang tua yang diimpikan bakal terwujud.
Keadaan orang tuanya yang kekurangan membuat pemuda yang akrab dipanggil Riyan itu terpaksa mengurungkan impiannya melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, kuliah.
“Saya sadar orang tua tidak mampu,jadi saya haryus kubur keinginan untuk kuliah. Pengennya lulus SMA bisa kerja apapun yang penting dapat penghasilan,syukur bisa membantu orang tua,” tutur Riyan saat ditemui RadarSemarang.ID.
Tak menunggu lama selepas lulus SMA, Riyan langsung melamar pekerjaan sebagai tenaga pramuniaga di gerai minimarket. Dasar memang rejeki, dirinya diterima sebagai tenaga pramuniaga.
“Alhamdulillah lamar kerja, satu bulan kemudian dapat panggilan tes dan interview. Satu minggu akhirnya diterima”ujar pemuda asal Kendal ini.
Setela diterima dan menjalani masa training, Riyan akhirnya mendapat penempatan di salah satu gerai di kawasan Sompok, Semarang Selatan.
"Lokasi gerainya memang bukan berada ditepi jalan utama, tetapi berada ditepi jalan kampung yang kanan kirinya padat pemukiman penduduk. Suasana sekitar juga ramai dengan aktivitas warga dari pagi sampai malam. Waktu datang ke gerai itu, saya lihat wah bangunannya bangunan lama tapi baru selesai direnovasi,” ucapnya.
Melihat kondisi sekitar gerai tempat dia bekerja yang kelihatan nyaman dan aman, Riyan memutuskan akan tinggal di toko bersama teman sekerjanya, Ari Rahmayadi.
Baca Juga: Cerita Horor Karyawan Swasta di Semarang Ini 'Diteror' Lemparan Sapu Lidi saat Duduk di Taman Kantor
“Saat pertama kali datang bareng Ari yang juga ditempatkan disitu, kami sepakat tinggal di toko dari pada ngekos, karena di toko ada kamar yang bisa kita pakai untuk tinggal,” jelasnya.
Singkat cerita Riyan dan Ari yang berasal dari Purwodadi, memulai pekerjaannya sebagai pramuniaga gerai tersebut dengan penuh antusias.
Sehari dua hari selama mereka bekerja dan tinggal di kamar yang letaknya berada dibelakang toko,tidak ada masalah yang berarti.
Gangguan mulai muncul dihari ketiga mereka tinggal ditoko tempat mereka bekerja.
“Pas hari ketiga itu, setelah menutup toko jam sepuluh malam, Ari pamit sebentar mau beli makan, saya karena udah capek langsung masuk ke kamar,” tutur Riyan.
Namun, baru beberapa saat merebahkan diri, tiba-tiba terdengar suara kran air kamar mandi menyala.“Saya pikir mungkin Ari pulang dari makan ke kamar mandi,” ucap Riyan.
Beberapa saat kemudian air kran mati, tak terdengar lagi suara air mengalir. Riyan makin yakin kalau itu Ari.
Satu setelah terdengar air kran itu, Ari baru pulang. Dengan nada sedikit heran, Riyan menanyakan soal suara air di kamar mandi.
“Kowe kenopo Rik, neng kamar mandi suwe men, meh sakjam punjul? (Kamu kenapa Rik, dikamar mandi koq lama banget, hampir satu jam lebih),” tanya Riyan waktu dengan bahasa Jawa.
Jawaban Ari membuat Riyan saat itu kaget.“Sopo sing neng kamar mandi, wong aku nembe entes teko soko mangan (siapa yang dari kamar mandi, lah tadi aku baru saja sampai dari makan),” jawab temannya itu.
Riyan sempat tidak percaya dengan jawaban temannya, namun dia akhirnya berpikir suara air kran itu hanya halusinasinya belaka. Bahkan Ari sempat meledek dirinya sebagai pria penakut.
“Wong lanang koq jireh, nembe krungu suoro kran banyu wae wes wedi to Yan (orang laki-laki koq penakut, baru mendengar suara air kran saja sudah takut to Yan),” kata Riyan menirukan ledekan temannya itu.
Riyan akhirnya tak memperpanjang obrolan soal krain air dikamar mandi yang menyala sendiri. Dia lebih memilih tidur, apalagi esok hari dirinya mendapat tuga shift pagi.
“Saya akhirnya tidur malam itu,sedang Ari kayaknya masih mainan HP sata itu,” cetusnya.
Sekitar pukul 02.10 dinihari, saat dirinya terlelap tidur, tiba-tiba tubuhnya terguncang hebat. Ternyata Ari membangunkan dirinya sembari berbisik kepadanya.
“Ari bilang, dia mendengar suara aneh-aneh dikamar mandi, suaranya kayak orang sedang beraktivitas. Khawatir ada pencuri, Ari ngajak saya untuk mengecek,” ujarnya.
Akhirnya mereka berdua kemudian mengendap-endap berjalan mendekati kamar mandi yang jaraknya sekitar lima meteran dari kamar mereka.
Saat sampai didepan pintu kamar mandi, Ari membuka pintu pelan-pelan,sementara Riyan mengaku berada disamping Ari sembari berjaga-jaga jika memang ada pencuri.
Saat pintu kamar mandi terbuka penuh. Mereka mendapati penampakan yang menyeramkan yakni sosok hantu kuntilanak berambut panjang tergerai nyaris hingga lantai, dengan baju berwarna merah yang sudah hampir memudar warnanya.
“Hantu kuntilanak itu sedang duduk di bak kamar mandi dengan posisi menyamping, jadi saya hanya bisa lihat wajah dari samping yang wajahnya putih pucat, sebagian mukanya ketutup rambutnya,” jelas Riyan.
Kaki kuntilanak berbaju merah itu,tambah Riyan terlihat bergerak seperti diayunkan, sementara tangan kirinya mengusap-usap rambutnya yang panjang menjuntai.
“Itu kaki kuntinya gerak-gerak kayak diayun-ayunkan kedepan kebelakang, tanganya ngusap-ngusap rambutnya,” imbuhnya.
Melihat penampakan hantu kuntilanak yang sedang duduk di bak kamar mandi itu, sontak membuat Riyan dan Ari takut bukan kepalang. Keduanya langsung lari keluar ke arah halaman toko.
“Saya takut banget waktu itu, Ari juga sama dia sampai gak bisa nafas,karena dia khan persis lihat didepannya,” ujar Riyan.
Malam itu karena saking takutnya, Riyan dan Ari memilih tidur di teras toko sampai ke esokan paginya. Rasa takut dihantui kuntilanak lagi, membuat mereka rela memilih tubuhnya digigit nyamuk.
Penampakan hantu kuntilanak dikamar mandi malam itu juga membuat Riyan dan Ari memutuskan untuk kos ketimbang tinggal di kamar toko.
“Paginya saya sama Ari langsung cabut nyari kos, apalagi saat saya diwarung nyari sarapan diberitahu sama orang-orang diwarung, kalau memang toko tempat saya kerja memang angker,salah satu penghuninya kuntilanak,” tukas Riyan.
Penampakan hantu kuntilanak dikamar mandi toko,juga membuat karyawan lainnya enggan tinggal di kamar, meski hanya sekadar beristirahat. Mereka memilih langsung pulang ke kos, setelah menutup toko jam sepuluh malam. (sls)
Editor : Baskoro Septiadi